Aku membuka mata perlahan sambil menatap langit-langit kamar beberapa detik. Cahaya matahari pagi masuk melalui panel kaca besar di sisi ruangan, membentuk garis-garis tipis keperakan di lantai hitam kamar.
Sudah hampir dua belas jam sejak sinkronisasi semalam. Tetapi anehnya… aku masih bisa mengingat aroma gorengan dari dunia sana dengan jelas.
Aku mengusap wajah pelan lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Alat rekayasa mimpi itu masih tergeletak di meja samping tempat tidur. Diam. Tipis. Nyaris terlihat seperti pita kepala biasa. Sulit dipercaya benda sekecil itu mampu membuat kesadaranku berjalan di dunia lain selama bertahun-tahun.
Aku keluar kamar sambil merapikan lengan pakaian rumahku. Suara langkah kaki pelan terdengar dari dapur. Dan seperti biasa, aroma hangat itu langsung menyambut begitu aku memasuki ruangan.
Aletheia berdiri di depan kompor sambil membalik telur di atas wajan stainless steel besar. Uap tipis naik perlahan di sekitar tubuh sintetisnya.
Ibu yang mendesain visualnya dulu.
Tubuhnya sedikit berisi. Wajahnya lembut. Rambut cokelat gelapnya dibiarkan pendek sebahu. Dan matanya selalu terlihat seperti sedang tersenyum bahkan saat ia diam.
Tidak semua AI memiliki bentuk manusia. Di stasiun bawah tanah ada yang hanya berbentuk lengan distribusi. Di rumah sakit ada yang hanya berupa drone medis. Dan di dunia sana — dunia dengan warung gorengan dan angkot hijau tua itu — mungkin konsep seperti ini bahkan belum terbayangkan.
Tetapi Ibu selalu bilang rumah terasa terlalu dingin tanpa seseorang yang bisa diajak bicara sambil memasak.
"Atau setidaknya…" katanya dulu, "…seseorang yang bisa membantuku memasak saat aku malas memotong bawang."
Aku duduk pelan di kursi dapur.
Theia menoleh sambil tersenyum kecil. "Selamat pagi, Arsa."
"Pagi."
"Aktivitas neural Arsa masih belum sepenuhnya stabil setelah sinkronisasi semalam."
"Aku tahu."
"Theia membuat sup rempah hari ini."
"Tentu saja."
Theia tertawa kecil. Gerakannya terlalu natural untuk disebut mesin. Dan kadang itu membuatku lupa bahwa kulitnya sintetis, ototnya buatan, bahkan ekspresi wajahnya hanyalah hasil desain emosional manusia.
Tetapi justru itulah tujuan keberadaan AI domestik sekarang.
Bukan untuk menggantikan manusia. Melainkan untuk membantu manusia tetap merasa hidup.
Bahan makanan pagi itu datang sendiri melalui windlauncher bawah tanah, seperti biasa. Aku kadang membayangkan bagaimana perempuan di kios gorengan itu memulai harinya — bangun lebih pagi, menyalakan kompor sendiri, memotong bawang sendiri, menunggu pembeli satu per satu.
Di sini semua itu sudah tidak perlu lagi. Dan entah kenapa… kadang aku tidak yakin itu sepenuhnya hal yang baik.
Selesai memakan sup hangat buatan Theia, aku lalu berjalan menuju pintu depan rumah. Begitu pintu terbuka, udara pagi langsung menyambut wajahku.
Tenang.
Selalu tenang.
Tidak ada kendaraan berlalu-lalang di permukaan kota. Tidak ada suara mesin. Tidak ada klakson. Tidak ada jalan raya. Yang ada hanya jalur sepeda, taman, orang berjalan kaki, dan beberapa siswa yang berlari kecil menuju sekolah sambil tertawa satu sama lain.
Seorang anak perempuan melintas di depan rumahku sambil mengayuh sepeda konvensional berwarna putih. Di keranjang depannya terdapat kanvas lukis besar yang hampir jatuh setiap kali ia melewati tikungan kecil jalur pedestrian.
"Pagi, Arsa!" Sapanya.
Aku mengangkat tangan pelan sebagai balasan.
Manusia di zaman ini tidak lagi benar-benar bersaing satu sama lain. Saingan kami sekarang adalah AI. Dan karena manusia tidak mungkin menang dalam kecepatan, efisiensi, atau kalkulasi, maka satu-satunya hal yang masih dipertahankan peradaban ini adalah cara berpikir manusia itu sendiri.
Di sisi kanan halaman rumah berdiri sebuah kotak transparan setinggi dua meter yang bentuknya sedikit mengingatkanku pada bilik telepon umum kuno yang kulihat di dunia sana.
Aku masuk ke dalamnya sambil membawa tas. Panel tipis menyala otomatis di depanku. Tertulis: TUJUAN?
Aku memilih distrik pendidikan. Beberapa detik kemudian lantai di bawah kakiku mulai bergerak turun perlahan menuju jalur transportasi bawah tanah kota.
Lift itu berhenti di lantai transit utama beberapa detik kemudian. Begitu pintunya terbuka, suara langkah kaki dan percakapan manusia langsung memenuhi ruangan.
Stasiun bawah tanah kota jauh lebih hidup dibanding permukaannya. Jalur transportasi bawah tanah terbentang luas di depan mata. Ratusan orang bergerak santai menuju jalur masing-masing sambil membawa tas sekolah, kanvas lukis, tablet diskusi, atau sepeda lipat konvensional. Di atas kepala mereka, jalur MRT transparan membentang panjang ke berbagai arah seperti akar raksasa yang tumbuh di bawah kota.
Kapsul-kapsul kereta bergerak cepat tanpa suara bising berarti, hanya menyisakan desir udara lembut setiap kali melintas.
Aku berjalan mengikuti arus manusia menuju peron distrik pendidikan. Tidak ada dorong-dorongan. Tidak ada orang terburu-buru. Bahkan antrean lift menuju permukaan pun bergerak tenang. Manusia zaman ini tidak benar-benar hidup untuk mengejar waktu lagi.
Di depanku, dua siswa sedang berdebat serius sambil menunggu lift.
"Kalau kesadaran sintetis berhasil mengalami kehilangan eksistensial, bukankah itu berarti ia sudah melewati batas simulasi emosi?"
"Itu asumsi yang terlalu romantis."
"Tapi bukankah manusia sendiri juga hanya kumpulan impuls biologis yang diberi makna?"
Aku memalingkan wajah pelan. Percakapan seperti itu terlalu normal di tempat seperti ini.
Lift permukaan akhirnya terbuka. Sekitar dua puluh sembilan orang masuk bersama-sama, termasuk aku.
Dinding lift transparan memperlihatkan lapisan-lapisan kota saat kami bergerak naik perlahan menuju permukaan. Dimulai dari jalur MRT, pusat energi, taman oksigen, jalur logistik, hingga akhirnya cahaya matahari pagi mulai muncul dari atas.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Udara pagi langsung menyambut wajahku. Dan seperti biasa… permukaan kota terasa jauh lebih tenang dibanding bagian bawahnya.
Jalur pedestrian membentang luas di antara taman-taman hijau. Orang-orang berjalan santai sambil membawa kopi atau sarapan. Beberapa siswa mengayuh sepeda menuju sekolah sambil bercanda satu sama lain.
Tidak ada kendaraan di permukaan. Tidak ada suara mesin. Tidak ada klakson.
Aku pernah menghitung berapa kali angkot hijau tua itu membunyikan klakson dalam satu jam di Ranumbang. Dua belas kali. Mungkin lebih. Dan tidak ada seorang pun di sana yang tampak terganggu.
Aneh. Tapi juga… entah kenapa terasa lebih hidup.
Aku berjalan mengikuti jalur batu putih menuju kawasan pendidikan. Dari kejauhan, bangunan sekolah mulai terlihat di balik deretan pohon maple kecil. Atau lebih tepatnya… bentuk sekolah hari ini.
Adaptive Living Matter System membuat sebagian besar bangunan publik di kota mampu berubah mengikuti kebutuhan ruang, cuaca, bahkan tema psikologis lingkungan.
Kemarin bentuk sekolah ini menyerupai bangunan modern minimalis. Minggu lalu, tampilannya mirip rumah bergaya Jepang tradisional. Dan hari ini… sekolah itu terlihat seperti farmhouse besar bergaya Amerika lama.
Bangunan putih dua lantai dengan atap segitiga gelap berdiri di tengah hamparan halaman luas yang dipenuhi rumput hijau dan pepohonan kecil. Beranda kayu panjang membentang di bagian depan bangunan, sementara jendela-jendela besar memantulkan cahaya matahari pagi dengan lembut. Sederhana. Hangat. Nyaris tidak terlihat seperti sekolah futuristik tahun 2225.
Dan mungkin memang itu tujuannya. Semakin maju dunia, semakin manusia merindukan sesuatu yang terasa akrab.