“Kau bisa melihatku?”
Suaraku sendiri terdengar asing di telingaku. Bukan takut. Bukan heran. Tetapi sesuatu yang jauh lebih kacau dari itu.
Bahagia.
Bahagia sekali sampai dadaku terasa sesak sendiri.
Siswi itu mengernyit kecil sambil tetap menatap lurus ke arahku. “Ya?”
Aku melangkah cepat satu langkah mendekat tanpa sadar.
“Kau… bisa melihatku?” ulangku lagi. Kali ini suaraku bahkan terdengar lebih tidak stabil.
“Iya.” Ia mulai terlihat kesal. “Emang kenapa?”
Aku tertawa kecil pelan. Bukan karena lucu. Tetapi karena otakku benar-benar tidak mampu memproses apa yang sedang terjadi.
Ini mustahil. Benar-benar mustahil.
“Ini gila…” gumamku pelan. “Ini beneran gila…”
“Apa sih yang gila?” Ia berdiri perlahan sambil tetap menjaga jarak dariku. “Kamu dari tadi di sini?”
“Iya.” Jawabanku terlalu cepat.
“Sejak kapan?”
“Sejak awal.”
Pipinya langsung memerah sedikit.
Oh, apa dia sadar aku melihat seluruh kepanikannya tadi.
“Ngapain gak ngomong?” tanyanya kesal.
Aku mengerjap bingung beberapa detik sebelum akhirnya menjawab jujur. “Kamu gak lihat aku.”
“Ya soalnya kamu gak ada!”
“Aku ada.”
“Nggak.”
“Ada.”
“Nggak.”
“Ada.”
Ia memutar mata pelan. “Ya Tuhan…”
Aku masih belum bisa berhenti menatapnya. Matanya benar-benar mengikuti gerak tubuhku. Fokus. Stabil. Tidak menembus tubuhku seperti manusia lain.
Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku sendiri. Aku mengangkat dua jari di depan wajahnya. “Ini berapa?”
Refleks ia langsung menepis tanganku. Dan sensasi kecil itu membuat seluruh tubuhku membeku. Sentuhan. Sangat tipis. Tetapi nyata.
“Dua! Kamu kenapa sih?”
Aku menatap tanganku sendiri beberapa detik.
Tidak mungkin.
Selama bertahun-tahun aku sudah berjalan di antara manusia, menembus tubuh mereka, berbicara tanpa didengar, dan hidup seperti bayangan. Tetapi sekarang seorang gadis SMP dari tahun 2008 baru saja menyentuhku.
“Kau benar-benar bisa melihatku…” gumamku pelan. Kali ini lebih seperti memastikan diriku sendiri.
“Kamu aneh banget tau gak,” katanya.
Dan anehnya… aku justru merasa lega mendengarnya. Karena itu berarti ia nyata. Benar-benar nyata.
Ia kembali mencoba membuka pintu gudang. Masih macet.
“Ya Allah…” Ucapnya kesal.
Aku memperhatikan kenop pintu itu beberapa detik. Lalu mendekat perlahan.
“Boleh aku coba?”
Ia mengangkat bahu kecil. “Silakan.”
Aku memegang kenop pintu. Dan seperti biasa… aku sebenarnya tidak berharap apa pun. Tetapi—
Klik.
Pintu terbuka.
Aku langsung membeku. Siswi itu juga terlihat sama terkejutnya.
“Tadi gak bisa,” katanya pelan.
Aku menatap kenop pintu di tanganku beberapa detik sebelum akhirnya melepaskannya perlahan. Apa yang sebenarnya berubah?
“Aku…” untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun memasuki dunia ini, aku benar-benar kehilangan jawaban. “Sekarang bisa.”
Ia menatapku curiga. “Kamu ngerjain aku ya?”
Aku menggeleng pelan. Dan itu jujur. Karena aku sendiri bahkan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar cepat dari luar gudang. “Rosie!”
Refleks aku langsung menoleh ke arah pintu. Seorang gadis lain muncul dengan wajah panik tepat di depan gudang sebelum buru-buru berlari menjauh lagi ke sisi lapangan.
Aku langsung keluar mengikuti arah larinya tanpa berpikir. Jantungku kembali berdetak cepat. Aku harus memastikan.
Gadis itu berhenti beberapa meter dari gudang sambil mengambil batu bata di dekat tribun lapangan. Aku berdiri tepat di jalur langkahnya.
Lalu—
Brak.
Tubuhnya menembus tubuhku begitu saja. Dan dalam sepersekian detik, seluruh penglihatanku langsung bergetar hebat. Seperti layar rusak. Tubuhku mendadak terasa ringan dan tidak stabil. Garis-garis transparan muncul di sepanjang lenganku sebelum perlahan menghilang lagi.
Sial.
Aku mundur cepat sambil menahan keseimbangan.
Gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Tidak melihat. Tidak mendengar. Tidak merasakan apa pun. Aku langsung menoleh kembali ke arah gudang.