ARSA

calvira
Chapter #2

Inter Zona 9-G

"Setiap cahaya menyimpan bayangan. Tapi hanya yang berani memasuki kegelapan yang akan menemukan kebenaran."

— Kitab Rahasia Surenda, Pasal 3:19

☀️☀️☀️

Angin di dalam ruang itu tidak terasa seperti angin biasa. Ia mengalir bukan dari celah jendela, melainkan dari celah-celah dimensi yang seolah berlapis. Arsa berdiri termangu. Di depannya, lantai tak lagi berupa lantai. Ia transparan seperti kaca, namun di bawahnya bukanlah tanah, melainkan hamparan langit gelap bertabur jutaan titik cahaya yang bergerak seperti makhluk hidup.

“Apa ini mimpi?” gumamnya, tetapi suara sendiri pun terdengar jauh, bergema seperti dalam ruangan raksasa yang kosong.

Ia melangkah ragu, setiap tapak kakinya menciptakan gelombang cahaya yang menjalar seolah ruang itu merespon kehadirannya.

☀️☀️☀️

Sebuah suara perempuan bergema pelan, bukan dari arah tertentu, tapi dari dalam kesadarannya.

“Selamat datang di InterZona 9-G, Arsa.”

Nama itu disebut dengan jelas. Arsa mematung.

“Zona ini hanya dapat diakses oleh entitas yang mengalami aktivasi primal.”

“Entitas?” gumam Arsa, kebingungan. “Aku manusia... bukan entitas...”

“Salah satu dari Lima Kunci telah bangkit bersamamu. Kau kini terhubung.”

Arsa berputar, mencari sumber suara. Tak ada satu pun wujud nyata di sekelilingnya. Namun perlahan, simbol-simbol aneh muncul di udara—lingkaran yang saling bertumpuk, segitiga berputar, dan kode-kode yang terus berubah. Semuanya seperti hidup.

☀️☀️☀️

Tiba-tiba, sebuah panel terbuka di lantai. Arsa terjatuh—bukan jatuh biasa, tapi seperti disedot oleh gravitasi dari dunia lain. Ia tidak menjerit. Ia hanya memejamkan mata dan menerima. Dan ketika membuka mata…

…ia sudah berada di ruangan lain. Jauh berbeda. Lebih gelap, penuh kabel, layar-layar raksasa, dan dinding-dinding logam yang memantulkan cahaya merah samar.

Tulisan menyala di salah satu dinding:

INTERZONA 9-G

Kamar Pemulihan Memori — Subjektif Pribadi Tertutup

Seseorang berdiri di ujung ruangan. Sosok berjubah hitam. Wajahnya tersembunyi oleh tudung yang menjuntai hingga dagu.

“Kau seharusnya belum sampai ke sini,” katanya dengan suara berat dan gema seperti gema ruang kosong.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku ada di sini,” jawab Arsa, langkahnya mundur refleks.

“Itu karena Kunci-nya sudah aktif. Kau membawa sesuatu yang tidak seharusnya bangkit.”

“Apa maksudmu?”

“Coba lihat ke dalam dirimu.”

☀️☀️☀️

Ruangan berubah lagi. Kali ini, bukan dunia luar yang berubah—melainkan batinnya sendiri. Arsa melihat dirinya berdiri dalam lingkaran cermin. Di setiap cermin, tercermin versi berbeda dari dirinya: seorang anak kecil menangis, seorang remaja pemarah, seorang pemuda yang menatap langit dengan penuh tanya.

Lalu, satu cermin di tengah menampilkan dirinya… bersinar.

Sosoknya sama. Tapi dari dadanya muncul simbol seperti akar bercahaya yang merambat keluar.

“Apa ini?” tanyanya dalam hati.

Suara sebelumnya menjawab:

Lihat selengkapnya