Arsitektur Hujan di dalam Kepala Seorang Asing

🕯Koo Marko✨
Chapter #1

Bagaimana Rasanya Menggenggam Kemenangan yang Kusam?

Pagi itu, sebelum cahaya matahari yang pucat sempat menyentuh ubin toko yang berdebu, K memulai ritualnya dengan menyusun kotak-kotak susu Dancow di rak depan. Jemarinya yang dingin bergerak mekanis, menumpuk karton kuning itu dengan presisi seorang arsitek yang sedang membangun dinding pertahanan. Namun, saat ia memutar satu kotak untuk merapikan barisannya, matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Di balik lipatan karton yang seharusnya berisi kode produksi, muncul guratan tulisan tangan yang halus, tinta biru yang seolah baru saja mengering dan masih memancarkan kehangatan yang asing.

“K kecilku, apa kau masih ingat cerita pangeran dan kuda putihnya?” K tertegun sejenak, namun ia tidak melepaskan kotak itu. Ia tidak mencari penjelasan logis mengapa kotak susu dari distributor pusat bisa mengandung pesan pribadi. Ia hanya membiarkan ibu jarinya mengusap tulisan itu, merasakan getaran yang merambat dari kertas ke nadinya. “Itu adalah cerita yang kita tonton dari DVD hadiah dari susu Dancow. Kau menangis saat kuda itu terjebak di lumpur hisap, dan Mama harus memelukmu sampai kau tertidur.”

K menarik napas panjang, aroma kapur barus yang samar mendadak menyeruak di antara bau apek toko. Ia tidak kaget, hanya merasa bahwa realitas di sekelilingnya perlahan-lahan melunak, menyesuaikan diri dengan fragmen ingatan yang selama ini ia kunci rapat. Baginya, kemunculan tulisan itu terasa seperti bagian dari struktur bangunan yang memang sudah seharusnya retak tepat di titik itu. Ia memasukkan kotak tersebut kembali ke barisan paling depan, memastikan tulisan itu menghadap ke arahnya, menjadi saksi bisu sebelum ia beralih ke tugas rutin berikutnya.

Di Kota B, waktu seolah-olah tidak mengalir, melainkan mengendap seperti debu timah yang melekat pada setiap permukaan benda yang disentuh oleh penduduknya. Udara terasa berat, membawa aroma karat dari lubang-lubang tambang yang menganga di pinggiran kota, namun di dalam toko kelontong tempat K bekerja, semuanya tampak berhenti dalam keabuan yang monoton. Cahaya matahari yang masuk melalui celah ventilasi tidak membawa kehangatan, hanya memperjelas partikel debu yang menari statis di atas tumpukan karung beras.

Tugas pertama K setiap pagi adalah menghitung galon-galon air yang berjejer di sudut toko, sebuah ritual angka yang ia gunakan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih berpijak di dunia yang nyata. Jemarinya yang pucat menyentuh permukaan plastik yang dingin, satu per satu.

"Dua puluh empat. Tetap dua puluh empat. Tidak ada yang berubah sejak kemarin," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada ruang kosong di sekitarnya. Angka adalah satu-satunya hal yang tidak mengkhianatinya di kota yang sedang sekarat ini.

"K, kalau kau cuma menatapnya, air itu tidak akan berubah jadi bensin," suara Istri Bos memecah keheningan dari balik meja kasir. Perempuan itu sedang memijat pelipisnya, matanya merah karena kurang tidur. "Cek segelnya. Pembeli sekarang cerewetnya minta ampun, mereka tidak mau rugi seribu perak pun untuk barang yang bocor."

K tidak menoleh, ia hanya mengangguk pelan. Ia sering kali menatap galon-galon kosong itu dan menemukan pantulan dirinya di sana; sosok yang transparan, mudah digantikan, dan hanya berisi tekanan udara yang tidak disadari oleh siapa pun. Baginya, manusia di Kota B tak ubahnya wadah plastik itu—berharga hanya saat memiliki isi, dan menjadi rongsokan tak kasat mata saat kosong.

Televisi di sudut langit-langit toko terus menggumamkan berita tentang angka korupsi dan lubang tambang yang kian lebar, namun Istri Bos hanya sibuk memastikan angka-angka di atas nota selaras dengan kenyataan di laci kasir. Wajah perempuan itu tampak seperti peta birokrasi yang kaku, tanpa ruang untuk basa-basi emosional. "Televisinya, K... tolong matikan," keluh Istri Bos sambil menunjuk ke langit-langit toko. "Suara penyiar itu membuat kepalaku berdenyut lebih kencang daripada bunyi mesin pendingin. Debu di sini rasanya jadi lebih tebal setiap kali mereka bicara soal korupsi."

Lihat selengkapnya