Matahari di Kota B siang itu tidak sedang menyinari; ia sedang menghukum. Cahayanya jatuh dengan sudut yang ganjil, menembus debu-debu toko seperti bilah pisau yang sedang membedah isi perut sebuah bangkai raksasa. K berdiri di balik meja timbangan beras, membiarkan serpihan kulit gabah yang tajam menyiksa kulit tangannya. Baginya, setiap butir beras adalah variabel kecil dalam sebuah persamaan kesunyian yang sedang ia susun. Pelanggan hanyalah gangguan statis yang merusak frekuensi itu.
Pelanggan pertama datang dalam wujud seorang ibu dengan daster batik yang motifnya sudah lelah. Di sampingnya, seorang anak laki-laki kecil menarik-narik ujung kain itu dengan ritme yang persis seperti detak jam yang rusak.
"Tiga kilo. Pas. Jangan lebih satu gram pun," ucap ibu itu. Suaranya kering, seperti gesekan amplas di atas kayu jati. Matanya menyimpan jenis keletihan yang sudah menjadi bagian dari anatomi wajahnya, permanen seperti noda karat di tiang listrik Kota B.
K menyendok beras. Ia memperhatikan si anak yang menempelkan wajahnya ke kaca etalase, menatap cokelat-cokelat yang mulai menyerah pada panas ruangan dan melunak menjadi bentuk-bentuk yang menyedihkan. "Mama, mau itu," rengek si anak. Suaranya tipis, tapi mampu mengiris keheningan toko dengan presisi yang mengerikan.
"Kita butuh nasi, bukan cokelat," jawab ibunya tanpa menoleh. Kalimat itu meluncur seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur tua. Tanpa gema.
K terpaku. Di layar timbangan digital, angka 2.995 berkedip-kedip dengan ritme yang ganjil. Ia memperhatikan jari-jari anak kecil itu yang terus menggaruk kaca etalase, namun suara yang dihasilkan bukan lagi gesekan kuku pada kaca, melainkan bunyi derit penggaris besi yang ditarik paksa di atas meja kayu.
Awalnya K mengira itu hanya ilusi pendengaran akibat kelelahan, sampai ia menyadari bahwa butiran beras di dalam timbangannya perlahan-lahan kehilangan tekstur organiknya. Satu per satu, butiran itu mengeras, memutih, dan berubah menjadi serpihan kapur tulis yang pecah.
Tanpa ada guncangan atau kilatan cahaya, etalase di depannya tidak lagi memantulkan bayangan anak kecil berpakaian lusuh itu. Pantulan itu kini menampilkan sepasang sepatu pantofel hitam yang berdiri tepat di belakang bahu K—sepasang sepatu yang begitu mengkilap hingga sanggup menghisap seluruh cahaya di dalam toko. K mengenal beban yang dibawa sepatu itu; sebuah otoritas yang tidak memerlukan suara untuk membuat udara di sekitarnya menjadi tipis dan sulit dihirup.
Di balik kaca, sebuah penggaris besi tiga puluh sentimeter tergeletak sendirian di antara tumpukan cokelat yang melumer. Benda itu berkilau dengan intensitas yang ganjil, seolah-olah seluruh gravitasi di toko itu berpusat pada sudut-sudut tajamnya. K ingin meraihnya, bukan untuk menggunakannya, tapi untuk memastikan bahwa benda sedingin itu benar-benar nyata di dunia yang kian memuai ini.
"K! Berasnya tumpah! Kau mau aku potong gaji lagi?!"
Suara Istri Bos menghantam punggungnya seperti batu. K tersentak, dan saat ia menunduk, ia hanya menemukan beras yang berserakan di atas lantai semen. Tidak ada kapur, tidak ada penggaris besi. Namun, ujung jarinya yang menyentuh timbangan terasa sangat dingin, seolah ia baru saja menyentuh logam yang ditinggalkan di dalam lemari es selama bertahun-tahun.