S berdiri di ambang pintu toko yang terbuka lebar, melepas celemek kusamnya dengan gerakan yang terasa seperti sebuah upacara perpisahan. Hari ini adalah hari terakhirnya. Di luar, sebuah motor tua dengan mesin yang menderu rendah sudah menunggu, dikendarai oleh seorang pria berjaket tebal yang wajahnya separuh tertutup helm. S menoleh ke arah K, matanya di balik masker bedah itu melunak, memancarkan jenis kehangatan yang biasanya hanya dimiliki oleh seseorang yang berbagi rahim yang sama. Bagi K, S adalah satu-satunya penyangga waras di tengah kegilaan Kota B; seorang kakak yang tak pernah ia miliki, yang kehadirannya mampu meredam gemuruh kecemasan di kepalanya.
"Aku pergi dulu, K. Jaga dirimu baik-baik di sini," ucap S, suaranya terdengar lebih jernih dari biasanya, seolah beban kota ini sudah mulai terangkat dari pundaknya.
K hanya terpaku, merasakan rongga dadanya mendadak hampa. Kepergian S bukan sekadar kehilangan rekan kerja, melainkan runtuhnya satu lagi pilar perlindungan dalam hidupnya. Pikirannya mendadak terseret kembali ke peron stasiun sembilan tahun lalu—saat ia melepaskan Y dan membiarkan hubungan mereka hancur menjadi kepingan penyesalan. Ia teringat betapa ia selalu berakhir sendirian: tanpa ibu yang memeluknya, tanpa kekasih yang menunggunya, dan kini, tanpa sosok kakak yang baru saja ia temukan dalam diri S.
Kesepian itu bukan lagi sekadar perasaan; ia berubah menjadi energi kinetik yang merambat dari ulu hati menuju jemarinya yang sedang mendekap amplop cokelat di balik kaus. Rasa kehilangan yang beresonansi dengan memori tentang Y dan ketidakhadiran sosok ibu mulai memicu getaran pada piala di genggamannya.
Saat S melangkah menuju motor itu dan bayangannya perlahan menjauh ditelan debu jalanan, K merasakan gravitasi di sekitarnya bergeser. Kesendirian yang absolut itu seolah menjadi kunci yang memutar mekanisme magis di dalam piala polihedronnya. Sudut-sudut tajam plastik itu mulai memanas, menyerap seluruh emosi pahit yang meluap dari batin K, dan tepat saat suara motor S menghilang di tikungan, realitas toko kelontong di hadapannya mulai retak.
Sejak sore yang ganjil itu, K tidak pernah lagi membiarkan amplop cokelat tersebut tergeletak di meja kamar atau lemari. Ia selalu membawanya ke mana pun ia pergi, terselip di balik pinggang celananya atau didekap erat di balik kaus buruhnya. Sesekali, di sela-sela waktu istirahat atau saat toko sedang lengang, jemarinya akan menyelinap masuk ke dalam robekan kertas cokelat itu—bukan untuk mencari uang, melainkan untuk memastikan polihedron di puncak piala itu masih ada di sana. Setiap kali kulitnya bersentuhan dengan plastik kusam tersebut, ia merasakan gravitasi aneh yang menarik kesadarannya menjauh dari lantai semen toko, seolah benda itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kekosongan Kota B.
Siang itu, saat ia berdiri di pojok gudang yang remang, jemari K kembali merogoh ke dalam amplop. Awalnya, ia hanya merasakan gesekan kertas yang kasar, namun begitu ujung jarinya menyentuh sudut tajam polihedron piala tersebut, gesekan itu berubah menjadi getaran statis yang merambat naik ke pangkal lengannya. Realitas di sekitarnya seolah mendadak kehilangan warna; suara bising kendaraan di luar toko meredup, menyisakan kekosongan suara yang mendengung di telinganya. Bersamaan dengan kontak fisik itu, suhu di dalam toko kelontong mendadak merosot seolah pendingin ruangan raksasa baru saja diaktifkan tepat di atas kepalanya.