Arsitektur Hujan di dalam Kepala Seorang Asing

🕯Koo Marko✨
Chapter #4

Bagaimana Rasanya Menjadi Hantu di Depan Seseorang yang Mengenalmu?

Hujan di Kota B turun dengan volume yang tidak wajar, mengubah jalanan di depan toko menjadi sungai kelabu yang menghapus batas antara aspal dan langit. Air terjun dari langit itu seolah membawa beban material; suara hantamannya di atas atap seng toko menciptakan kebisingan statis yang menulikan. K berdiri di ambang pintu, menatap kosong ke arah tirai air yang menghalangi pandangan. "Hujan ini... seperti air yang tumpah dari ember raksasa," gumamnya pelan. "Apakah ada yang tersisa di atas sana selain mendung?"

K tetap mematung di sana, masih menggenggam piala kusam itu seolah benda plastik tersebut adalah satu-satunya jangkar yang menahannya. Namun, tiba-tiba sebuah gelombang air yang masif menerjang masuk, bukan dari jalanan, melainkan seolah-olah ruang di dalam toko itu sendiri yang bocor dan meluap dari sela-sela ubin. Ia terperangah saat melihat air bah itu tidak hanya membawa debu, tapi juga menyeret segala sesuatu yang hidup di sana.

K melihat Istri Bos terangkat dari bilik kacanya, wajah kakunya tetap tanpa ekspresi meski tubuhnya mulai mengambang menjauh seperti selembar nota yang terbuang. Di sudut lain, S terseret arus dengan tangan yang masih terjulur ke depan, maskernya terlepas menampakkan kekosongan yang ganjil sebelum ia hilang ditelan pusaran air di balik rak beras. K mencoba menggapai mereka, namun tubuhnya sendiri terpelanting ke dalam kegelapan labirin rak-rak yang mendadak terasa memanjang tanpa ujung. Kesadarannya meredup dalam dingin yang mencekam, seolah ia sedang tenggelam dalam kolam air yang sangat dalam namun tak berdasar.

Saat K membuka mata, keheningan yang ia temukan jauh lebih mengerikan daripada badai tadi. Toko itu kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada lagi tubuh-tubuh yang terseret air, tidak ada suara televisi yang bergumam, dan genangan air ajaib tadi telah surut menyisakan ubin yang kering secara mustahil. Cahaya neon di langit-langit berkedip sekarat, menyisakan keremangan yang membuat barisan rak-rak barang tampak seperti tembok labirin raksasa yang dingin. K bangkit dengan tubuh yang sedikit bergetar, merasakan ketakutan lama yang kini merayap kembali; ketakutan terhadap gelap yang sunyi, sebuah ruang hampa yang selalu membuatnya merasa sedang dikubur hidup-hidup. Jemarinya mencengkeram amplop cokelat berisi piala itu hingga kertasnya mengerut, satu-satunya jangkar di tengah kekosongan yang menyesakkan paru-parunya.

Namun, tepat saat napasnya mulai tersengal oleh sunyi yang mencekam, sebuah melodi tipis merayap masuk ke telinganya. Itu adalah senandung lagu hiu anak-anak—sebuah irama sederhana yang dulu selalu dinyanyikan Mamanya untuk mengusir bayangan-bayangan menakutkan dari sudut kamar K. Seketika, rasa lega yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, menghalau rasa dingin yang tadi membekukan sendinya. Suara itu begitu jernih, memotong bau apek toko dengan frekuensi yang lembut dan penuh kasih sayang. K tidak lagi ragu; ia melangkah maju dengan jantung yang berdegup lebih ringan, mengikuti arah suara yang memantul di antara tumpukan karung beras, mencari sumber kehangatan yang baru saja menyelamatkannya dari senyap.

Di ujung lorong terdalam, ia melihat seberkas cahaya kuning keemasan yang hangat, sangat kontras dengan keabuan toko yang mati rasa. Di sana, seorang wanita—Mina—sedang berdiri berjinjit dengan anggun di balik cahaya itu. Tubuhnya tampak berisi, dengan lekuk yang lebih dewasa dan matang, menunjukkan ia adalah seorang wanita yang mungkin berusia beberapa tahun lebih tua dari K. Ia mengenakan gaun yang jatuh dengan pas di tubuhnya yang sedikit gemuk, memberikan kesan figur yang kokoh namun tetap lembut.

Mina sedang berusaha menjangkau sebuah buku tua di rak paling atas yang tertutup debu. Karena jemarinya tak kunjung sampai, ia berbalik sejenak untuk menarik sebuah kursi kecil kayu ke arah rak tersebut. Gerakan itu—cara ia mengatur posisi kursi dan menapakkan kakinya dengan hati-hati—terasa sangat familiar di mata K; sebuah repetisi gerakan yang seketika menghantam ingatannya pada cara Mamanya saat merapikan perpustakaan kecil mereka dulu. Di tengah toko yang asing dan kosong ini, sosok Mina yang berisi dan tenang itu memberikan rasa aman yang ganjil, seolah ia adalah perwujudan dari rumah yang sudah lama K tinggalkan.

Lihat selengkapnya