Pintu toko kelontong itu berdenting, sebuah suara metalik yang kering dan kesepian, saat Mina mendorongnya terbuka. Seketika itu juga, dunia yang dikenal K—Kota B dengan debu timah yang melekat di paru-paru dan aroma aspal terbakar—menguap begitu saja seperti mimpi buruk yang terlupakan saat bangun pagi. Sebagai gantinya, sebuah pemukiman pesisir terhampar di hadapannya. Langit pasca badai tampak biru pucat, jenis biru yang ditemukan pada porselen mahal yang retak. Rumah-rumah kayu berjajar rapat, kaku dan rapi, seperti kotak korek api yang disusun oleh tangan raksasa yang sedang bosan. Udara tidak lagi terasa berat; ia membawa aroma garam laut, pinus yang basah, dan sesuatu yang samar seperti bau kertas tua yang baru saja dikeluarkan dari lemari es.
"Ayo, K. Hujannya sudah selesai," ucap Mina tanpa menoleh. Langkah kakinya terdengar mantap di atas aspal basah, sebuah irama yang stabil seolah wanita itu telah berjalan di jalanan ini selama seribu tahun.
K mengikutinya dengan perasaan waswas yang aneh, jenis perasaan yang muncul saat seseorang masuk ke perpustakaan yang terlalu sunyi. Saat melintasi beberapa rumah, K melihat sesuatu yang membuat perutnya sedikit mulas. Di sebuah teras rumah bercat putih yang sangat bersih, seorang wanita sedang menyiram tanaman mawar. Warna merah kelopaknya begitu tajam, hampir-hampir terasa tidak sopan. Namun, di sudut teras yang sama, duduk sesosok pria. Pria itu tidak bergerak. Seluruh kulitnya berwarna abu-abu gelap, kaku, dan memiliki tekstur seperti granit dingin. Ia mematung dalam posisi membaca koran, namun koran itu pun telah menjadi batu. Ia tampak seperti sisa-sisa peradaban yang gagal berevolusi.
Mina lewat begitu saja. Baginya, kehadiran monumen batu di teras tetangga tampaknya tak lebih aneh daripada sebuah hidran pemadam kebakaran. Di rumah selanjutnya, K kembali melihat hal yang sama: seorang gadis kecil bermain boneka di samping sosok granit wanita dewasa yang membeku dalam posisi memeluk lutut. Di tempat ini, duka tidak meledak-ledak. Ia tidak menangis. Ia hanya menetap, mengeras, dan perlahan-lahan berubah menjadi bagian dari perabotan rumah tangga.
Langkah Mina berhenti di depan sebuah rumah kayu. K merogoh saku celananya, mencari sesuatu yang tidak ada di sana. Garis atap dan warna pintu rumah itu mencubit ingatannya dengan cara yang tidak menyenangkan. Itu adalah replika sempurna dari rumahnya di Kota B, namun tanpa lapisan debu timah atau cat yang mengelupas. Semuanya tampak baru dan fungsional, seolah-olah waktu baru saja dicuci bersih di dalam mesin cuci berukuran raksasa.
"Bantu aku membersihkan halaman ini, K," ujar Mina sembari menyerahkan sapu lidi yang tersandar di pagar. Suaranya rendah dan tenang, seperti musik latar di kafe yang kosong. "Sisa badai selalu meninggalkan kekacauan yang harus segera ditata."
K menerima sapu itu. Mereka mulai bekerja dalam keheningan yang ganjil. K menyapu kelopak bunga yang rontok dan ranting-ranting patah, sementara Mina merapikan pot-pot yang terguling. Keheningan itu tidak menekan; ia terasa seperti bantal yang empuk. Untuk sesaat, K lupa bahwa ia berada di dimensi yang mustahil. Ia merasa seperti seorang figuran dalam film tua yang kehilangan naskahnya.
Setelah halaman bersih, Mina mengajaknya masuk ke dalam. "Taruh sapunya di belakang. Aku akan menyeduh teh."
K melangkah masuk ke dalam rumah. Aroma kayu basah dan wangi kapur barus menyeruak saat ia melewati lorong kayu yang dingin. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kamar yang terbuka sedikit. Seberkas cahaya redup lolos dari celah itu, jatuh di atas lantai kayu seperti sebuah undangan yang tidak bisa ditolak.
K mendorong pintu itu perlahan. Di dalam keremangan kamar yang sesak, ia menemukannya. Ayahnya. Sosok itu duduk di kursi kayu, menghadap jendela yang tertutup rapat. Tubuhnya bukan lagi daging yang bisa terluka atau darah yang bisa mengalir. Seluruh kulitnya telah bermutasi menjadi granit abu-abu yang masif. Ayahnya mematung dalam posisi memegang sebuah bingkai foto kosong. Kepalanya tertunduk, seolah-olah ia sedang mencoba mendengarkan detak jantung bumi dari balik lantai.