Minggu-minggu pertama di rumah pesisir itu terasa seperti potongan adegan dari film lama yang berwarna sepia; lembut, hangat, dan seolah terlepas dari hukum fisika yang kasar. K terbangun setiap pagi dengan aroma roti panggang dan kopi yang merayap masuk ke celah pintu kamarnya—sebuah frekuensi kebahagiaan yang sudah sembilan tahun absen dari hidupnya.
Di meja makan, Mina akan menyambutnya dengan senyum yang jernih, seolah wanita itu baru saja menghapus seluruh penderitaan dari kamus dunianya. K membiarkan Mina menyisir rambutnya yang berantakan, membiarkan wanita itu memilihkan kemeja flanel yang pas, dan untuk pertama kalinya, K merasa tubuhnya memiliki bobot. Ia bukan lagi galon kosong; ia merasa penuh, seolah-olah duka yang selama ini menjadi rongga di dadanya telah diisi dengan selai manis dan kehangatan tungku.
"Makanlah, Sayang. Kau pasti lelah menjaga toko seharian. Kau masih terlalu kurus," ucap Mina sambil meletakkan sepotong melon yang dikupas sempurna di piring K. "Di dunia yang kotor itu, kau pasti tidak pernah makan dengan benar."
K tersenyum tulus, sebuah ekspresi yang hampir ia lupakan cara melakukannya. "Terima kasih, Mama. Rasanya aneh... sudah lama sekali tidak ada yang memerhatikan apakah aku sudah makan atau belum."
Mina membelai pipi K dengan jemarinya yang hangat, lalu ia menatap K dalam-dalam, sebuah tatapan yang seolah bisa menembus lapisan rahasia di kepala K.