Arsitektur Hujan di dalam Kepala Seorang Asing

🕯Koo Marko✨
Chapter #7

Bagaimana Rasanya Melihat Sebuah Obeng Berubah Menjadi Senjata?

K sering menghabiskan pagi di beranda setelah semalam suntuk terjaga di balik etalase toko yang pengap. Ia memperhatikan bagaimana matahari terbit di garis laut dengan kecepatan yang seolah diatur secara manual, seakan-akan cahaya itu sedang menjalankan tugas rutin yang tidak boleh meleset sedetik pun. Di atas meja jengki, selalu ada segelas teh barley dingin yang permukaannya berembun, menyambut kepulangannya yang sunyi di saat dunia lain baru saja mulai terjaga.

Sambil mengistirahatkan kakinya yang pegal, K menatap piala polihedronnya yang kini berkilat bersih di atas rak tinggi, tidak lagi tertutup debu Kota B. Dahulu, benda itu hanyalah rongsokan plastik yang tidak memiliki arti, sampah dari masa lalu yang nyaris ia buang. Namun di ruangan ini, di bawah pengawasan Mina, piala itu tampak seperti artefak suci yang dijaga oleh seorang pendeta wanita. Cahaya pagi yang masuk melalui celah jendela membuat sudut-sudut polihedron itu tampak lebih tajam dan hidup, seolah ikut bernapas dalam frekuensi yang sama dengan paru-paru K.

Ia merasa telah menemukan suaka, sebuah pelabuhan di mana badai—baik itu kemiskinan, teriakan Ayah, atau piring-piring kosong—tidak akan pernah bisa menyentuhnya lagi. Biarlah tubuhnya masih membawa aroma apek dari gudang toko yang lembap; baginya, aroma itu adalah harga yang murah untuk ketenangan yang kini mendekapnya dengan begitu erat.

Ketenangan itu awalnya terasa seperti selimut tebal yang melindungi, namun lama-kelamaan, K mulai merasakan beratnya yang janggal. Di meja makan, saat ia melamun menatap jendela, ia akan menyadari kehadiran Mina di sudut matanya—selalu di sana, berdiri dengan keanggunan yang konstan, mengamati cara K memegang sendok atau bagaimana bahunya naik-turun saat bernapas. Kehangatan yang dulu ia damba perlahan-lahan berubah warna; perhatian Mina mulai terasa seperti sepasang mata yang tak pernah berkedip, mengikuti setiap inci gerakannya bahkan ketika K hanya sekadar duduk diam di ruang tengah.

Tidak ada lagi sudut rumah yang benar-benar gelap atau tersembunyi. Ke mana pun K melangkah, sorot lampu panggung yang tak kasatmata seolah terus mengikutinya, memastikan ia tetap berada dalam garis skenario yang diinginkan wanita itu. Kewaspadaan Mina yang tak pernah tidur perlahan-lahan meluruhkan privasi K, mengubah rasa suaka itu menjadi sebuah akuarium yang indah namun menyesakkan.

Kasih sayang Mina yang awalnya adalah obat, kini mulai terasa seperti perban yang dibalut terlalu kencang. Suatu pagi, saat K sedang berada di halaman belakang, ia melihat pintu kandang ayam di sudut pagar kayu itu miring dan sedikit copot dari dudukannya. Pintu itu berayun payah, menyisakan celah yang tidak rapi.

Melihat hal itu, insting lamanya sebagai seseorang yang terbiasa bersinggungan dengan presisi dan struktur tiba-tiba saja berdenyut. Ada dorongan kecil di bawah kulitnya untuk merapatkan kembali kayu yang renggang itu, membuatnya kembali fungsional.

Lihat selengkapnya