Malam selanjutnya, K kembali ke toko. Rasa penasaran yang gatal di bawah kulitnya membuat ia tidak bisa memejamkan mata, seolah-olah bangunan tua di ujung jalan itu sedang memanggilnya untuk menuntaskan teka-teki yang baru separuh terbuka. Ia bergerak lebih waspada kali ini, menghindari setiap gundukan pasir yang bisa membocorkan langkahnya. Di balik jaketnya, amplop cokelat rusak yang berisi piala polihedron itu terasa berat, menekan dadanya seperti sebuah kompas yang menuntut arah.
K tiba di depan toko dan memutar kunci yang selalu tergantung di dekat pintu dengan tangan sedikit gemetar. Pintu terbuka dengan derit halus yang segera ditelan oleh suara ombak. Di dalam, toko itu terasa seperti ruang hampa udara yang dingin. K berdiri diam di tengah kegelapan yang pengap, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan siluet rak-rak yang membisu. Ia mulai melangkah pelan, meraba permukaan kayu yang kasar, mencoba mencari tahu apakah ada perubahan pada struktur ruangan itu sejak kunjungannya semalam.
Namun, baru beberapa langkah ia bergerak menuju area belakang, suara gesekan logam yang parau dari arah jendela samping membuatnya membeku. Seseorang sedang mencoba masuk secara paksa. Dengan sigap, K melempar tubuhnya ke balik deretan rak detergen yang berbau kimia tajam, menahan napas hingga dadanya terasa sesak.
Dari celah kegelapan, K kembali menyaksikan pemandangan yang sama untuk kedua kalinya. Pak Sadiman merangkak masuk melalui jendela yang baru saja dicongkelnya, bergerak dengan ketajaman yang berbeda dari biasanya. Seperti malam sebelumnya, ia tidak menuju laci toples atau mencari makan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, pria itu menyambar sekaleng kornet, lalu melangkah pelan menuju meja kasir.
Dengan gerakan yang sangat hafal di luar kepala, Pak Sadiman mengambil gulungan double tape yang tersimpan di laci terbuka, merobek sedikit bagiannya, dan menempelkan secarik kertas kusam ke tutup kaleng tersebut. K tidak bisa melihat apa yang tertulis di atas kertas kecil itu dari jaraknya yang tersembunyi, namun ia bisa merasakan gravitasi emosional yang terpancar dari sana. Gerakan Pak Sadiman yang biasanya kaku dan mekanis mendadak berubah menjadi sangat hati-hati, sebuah repetisi dari ritual yang K saksikan kemarin malam—seolah ia sedang kembali membungkus sekerat jantungnya sendiri untuk dikirim ke sebuah tempat yang sangat jauh.
K mengikuti arah pandang Pak Sadiman menuju sebuah mesin penggiling kopi tua berbahan besi tuam yang mendekam di pojok ruangan. Selama ini, K menganggap benda itu hanyalah rongsokan hiasan yang tidak pernah disentuh siapa pun, bagian dari interior toko yang mati. Namun, Pak Sadiman melakukan sesuatu yang melawan logika; ia memasukkan kaleng itu ke dalam lubang pengeluaran bawah, bukan ke bagian atas tempat biji kopi seharusnya masuk.
Seketika, mesin itu mendesis pelan. Suaranya menyerupai frekuensi radio yang tersesat di tengah badai salju, parau dan bergetar. Tiba-tiba, cahaya biru pucat yang tipis berpendar dari celah-celah besinya yang berkarat, menerangi wajah Pak Sadiman yang tampak renta. Kaleng itu lenyap dalam sekejap, seolah tersedot oleh gravitasi dari dimensi lain yang tidak kasat mata.
K terpaku dengan napas tertahan, matanya tidak lepas dari pemandangan ganjil di pojok toko itu. Ia hanya bisa melihat mesin penggiling kopi tua itu mendadak menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang tidak masuk akal. Besi tuamnya bergetar, mengeluarkan dengung rendah yang asing di telinga. K tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun ia merasakan bahwa mesin itu jauh lebih tua dan lebih dalam daripada sekadar furnitur toko. Sesuatu dalam cara mesin itu menelan kaleng kornet milik Pak Sadiman membuat K merasa ngeri sekaligus terpukau. Cahaya biru pucat yang berpendar dari celah-celahnya menyapu debu di lantai, menciptakan atmosfer yang seolah-olah memisahkan sudut itu dari bagian toko lainnya. Ia tidak tahu ke mana kaleng itu pergi atau apa tujuan Pak Sadiman melakukan semua ini.
Yang ia tahu pasti hanyalah satu hal: di balik permukaan tenang toko yang coba dijaga oleh Mina, ada mekanisme gelap dan rahasia yang sudah beroperasi jauh sebelum mereka berdua terdampar di tempat ini. Mesin itu, toko ini, dan mungkin seluruh garis pantai tersebut adalah bagian dari mesin raksasa kuno yang tidak peduli pada siapa pun yang menghuninya.