Arsitektur Hujan di dalam Kepala Seorang Asing

🕯Koo Marko✨
Chapter #10

Bagaimana Rasanya Mencintai Penjaga yang Sama Takutnya dengan Sang Tahanan?

Rumah pesisir itu tidak memiliki jeruji, namun setiap inci udaranya terasa seperti semen yang perlahan mengeras di sekitar pergelangan kaki K. Sejak kejadian di toko malam itu, pintu depan selalu terkunci dari dalam dan kuncinya menghilang di balik saku daster Mina—seolah benda logam itu kini telah menjadi bagian dari anatomi tubuhnya. Mina tidak lagi membiarkan K lepas dari sudut matanya; ia selalu ada di sana, entah sedang merajut di kursi goyang dengan ritme yang terlalu presisi, memotong sayur di dapur, atau sekadar menatap jendela dengan pandangan kosong. Kehadirannya terasa seperti kabut tebal yang menyumbat setiap oksigen di jalan keluar.

Pagi itu, K duduk di meja makan yang terlalu bersih, menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya. Ia muak dengan kepura-puraan ini, namun saat melihat punggung Mina yang sedikit membungkuk saat menyeduh air, sebersit rasa nyeri yang tumpul menghantam dadanya. Ia teringat ibunya di Kota B—sosok yang tubuhnya perlahan digerogoti kanker hingga akhirnya pergi meninggalkannya dalam kesunyian yang dingin. Di saat-saat seperti ini, di bawah cahaya dapur yang remang, K ingin percaya bahwa perempuan di depannya adalah ibu yang sama, yang entah bagaimana caranya, telah sembuh dan menunggunya di sini.

"Ma," suara K muncul begitu saja, tipis dan ragu, memecah kesunyian yang telah membeku selama berjam-jam. Suaranya terdengar gagu di telinganya sendiri.

Mina tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan tuangan air panasnya ke dalam cangkir, baru kemudian berhenti sejenak dengan tangan masih memegang teko porselen. Ia menoleh perlahan dan melempar senyum tipis—jenis senyum yang tidak pernah benar-benar mencapai matanya yang letih.

"Sudah berapa lama Mama di sini?" tanya K pelan.

"Waktu di sini tidak dihitung dengan angka, Sayang," jawabnya lembut, hampir berbisik. Ia meletakkan teko itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut bunyi keramik akan menghancurkan suasana. "Kita menghitungnya dengan berapa banyak memori indah yang berhasil kita selamatkan dari debu di luar sana."

K menyesap tehnya, membiarkan rasa pahit tertinggal di lidahnya sebelum kembali mendesak dengan suara yang lebih tenang, "Tapi bagaimana Mama bisa sampai ke sini? Sebelum... sebelum semua ini menjadi rumah kita?"

Lihat selengkapnya