Arsitektur Hujan di dalam Kepala Seorang Asing

🕯Koo Marko✨
Chapter #11

Bagaimana Rasanya Menanam Harapan di Tengah Kota yang Kian Mendingin?

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam yang mencekam itu. K kini telah menjadi "anak yang patuh". Ia mengikuti ritme Mina, memakan sarapan yang disiapkan, dan perlahan-lahan mendapatkan kembali kepercayaan perempuan itu. Pintu tidak lagi dikunci dari luar. K dibolehkan kembali menjaga toko, sebuah rutinitas yang Mina anggap sebagai tanda bahwa K telah menerima kenyataan hidup di pesisir.

Pagi ini, dalam perjalanannya sendirian menuju toko, K merasakan perubahan yang kian janggal pada wajah kota. Di sepanjang trotoar dan dermaga, penduduk baru bermunculan dari entah mana—sosok-sosok asing dengan pakaian yang tak selaras dengan cuaca pesisir, berdiri diam dengan tatapan kosong yang perlahan mulai terisi oleh kepasrahan. Fenomena ini telah menjadi pemandangan biasa, mirip arus imigran yang tak terbendung.

Langkah K sempat tertahan saat ia harus membelah kerumunan di dekat persimpangan. Ia berpapasan dengan seorang pria jangkung berjaket wol tebal yang tampak gerah namun enggan melepasnya. Saat bahu mereka bersenggolan, K merasakan desiran dingin yang tidak wajar, seolah pria itu baru saja keluar dari sebuah lemari es raksasa. K mendongak, namun pria itu tidak menoleh; matanya terpaku lurus ke depan, bergerak lambat seperti orang yang sedang berjalan dalam tidur. K merasakan ketakutan yang merayap di tengkuknya—sebuah rasa asing yang membuatnya merasa seperti penyusup di kotanya sendiri. Ia segera mempercepat langkah, menyelinap di antara gang-gang sempit yang kini terasa sesak oleh gumam bahasa-bahasa lama yang hampir punah, berusaha menghindari kontak mata dengan wajah-wajah pucat yang memenuhi rumah-rumah kosong di sepanjang jalan.

Hal pertama yang K lakukan saat tiba dan sendirian di toko bukanlah merapikan barang, melainkan berlari dengan napas memburu ke pojok ruangan. Ia berlutut di depan mesin penggiling kopi yang membisu. Tangannya gemetar, meraba-raba setiap celah besi monumen mati itu dengan intensitas seorang pria yang sedang tenggelam mencari pelampung. Ia butuh amplop cokelat itu. Ia butuh piala polihedronnya. Ia butuh bukti bahwa ia bukan bagian dari imigran-imigran dingin di luar sana.

Namun, mesin itu tetap kosong, kering, dan dingin. Harapan yang ia tumpukan pada mesin rongsokan itu runtuh di hadapan keriuhan kota yang kian asing.

"Tidak ada apa-apa," bisiknya pada debu yang menempel di mesin. Suaranya pecah, bukan karena kecewa pada benda itu, tapi karena menyadari bahwa jika mesin ini tetap mati, maka tidak ada lagi tempat baginya untuk pulang. Ia merasa bodoh, sekaligus hancur, karena keajaiban yang ia harapkan ternyata hanya ilusi yang meninggalkannya sendirian di tengah dunia yang sedang berubah menjadi asing.

Ia bangkit, hendak kembali ke meja kasir untuk berpura-pura sibuk, namun langkahnya terhenti saat ia melewati radio tua di rak atas. Radio itu mati, tidak terhubung ke listrik mana pun, namun dari lubang speaker-nya yang berdebu, terdengar suara sayup-sayup yang membuat jantung K berhenti berdetak.

Itu bukan musik. Itu adalah suara gesekan pensil di atas kertas—suara yang sangat ia kenal saat ia masih kecil dan duduk di samping ibunya yang sedang menggambar pola jahitan. Lalu, sebuah bisikan parau muncul di antara derau statis: "K... kau kah itu?"

K berdiri mematung di tengah toko, jemarinya yang masih kotor oleh debu mesin penggiling kopi gemetar hebat.

"Ma?" bisik K. Suaranya tertahan di tenggorokan, lebih menyerupai isakan yang dipaksakan keluar.

Radio tua itu kembali mendesis, mengeluarkan derau statis yang parau. Namun di balik suara bising itu, muncul suara gesekan pensil yang berhenti tiba-tiba, digantikan oleh suara napas yang berat dan pendek-pendek—jenis napas yang sangat ia kenal dari malam-malam panjang di kamar rumah sakit Kota B. Suara itu tidak memanggil namanya dengan jelas, melainkan hanya sebuah gumaman pelan, seolah seseorang di sana sedang berbicara pada dirinya sendiri dalam tidur.

"...sudutnya terlalu tajam. Logamnya dingin... K, kenapa kau menaruh benda ini di bawah bantal? Mama hampir saja tertusuk saat merapikan sprei."

Lihat selengkapnya