Setiap pagi, ritual K selalu sama: ia akan berdiri mematung di depan mesin penggiling kopi yang bisu, menatap lubang gelap tempat paket kecilnya menghilang beberapa waktu lalu. Di dalam kepalanya, ia masih bisa melihat noda tinta yang melebar pada secarik kertas nota, tempat ia menuliskan pertanyaan yang paling ia takuti: "Apakah Mama merindukanku?"
Bayangan tentang botol vitamin, obat pereda nyeri, dan teh melati yang ia jejalkan ke dalam rahim besi itu terus menghantuinya. Ia masih bisa merasakan getaran mesin yang mendesing pelan dan pendar biru yang menelan harapannya. Namun, mesin itu kini tetap dingin, hanya menyisakan bau logam yang mulai berkarat, seolah mengejek doa-doa yang ia bisikkan setiap hari. Harapan itu terasa tipis dan berbahaya, namun itulah satu-satunya hal yang mencegahnya untuk tidak benar-benar menyerah pada kesunyian toko.
Di tengah penantian yang kian mencekik, K semakin akrab dengan kenyataan getir bahwa toko Mina bukan sekadar tempat menjual sarden atau detergen. Ia telah cukup lama berdiri di belakang etalase itu untuk memahami bahwa toko ini adalah jantung dari sebuah ekosistem yang mengerikan—sebuah mesin yang menelan ingatan dan membayar kebahagiaan palsu dengan harga yang tidak masuk akal.
Pagi itu, lonceng pintu berdenting lesu. Gadis kecil Laila masuk. Tubuhnya kian hari kian menyerupai kaca buram—setengah transparan, seolah-olah ia adalah sketsa pensil yang mulai dihapus oleh waktu. K tidak menoleh dari catatan stok di tangannya saat Laila mendekat. Ia menyelesaikan baris terakhir tulisannya dengan tenang, lalu berbalik dengan gerakan yang efisien dan hampir kaku.
Tanpa perlu diminta, K menjangkau karung beras di sudut lantai samping meja kasir dan menata tiga kaleng susu di depan Laila dengan ketukan yang ritmis. Matanya hanya melirik sekilas pada toples kaca yang diletakkan gadis itu—sebuah benda yang kini ia perlakukan tak ubahnya seperti lembaran uang lusuh yang perlu diperiksa keasliannya.
K mengambil toples itu, menimbangnya sebentar di telapak tangan untuk merasakan kepadatan energinya. Gumpalan cahaya pelangi di dalamnya bergerak gelisah, menabrak dinding kaca, namun K hanya menatapnya dengan pandangan teknis seorang pedagang.
"Apa isi yang ini?" tanya K datar. Suaranya tidak lagi mengandung getaran ngeri, melainkan rasa penasaran yang dingin; ia hanya ingin tahu label apa yang kali ini melekat pada barang dagangan yang akan ia susun ke dalam laci.
"Itu warna merah dari gaun ulang tahunku," jawab Laila tanpa emosi, matanya yang kosong menatap lurus ke arah dada K. "Dan sedikit warna biru dari langit saat ayahku masih ada. Aku harus menjualnya lagi sebelum mereka tumbuh terlalu besar dan membuatku sesak, kan?"
K hanya mengangguk pelan, sebuah respon otomatis yang sudah ia berikan kepada puluhan orang sebelumnya. Dengan gerakan cekatan, ia membuka laci khusus di bawah kasir yang sudah penuh sesak. Ia menyelipkan memori Laila di antara toples "suara tawa" milik Ibu Ratna dan "arah matahari" milik Pak Herman, lalu menutup laci itu dengan bunyi klik yang final.
Saat jemarinya bersentuhan dengan kaca yang hangat oleh sisa kehidupan Laila, K merasakan sengatan panas—kilasan api yang melahap rumah dan suara tawa anak kecil. Namun, K segera mengusap telapak tangannya ke celana untuk menghilangkan sisa getaran memori itu, lalu kembali meraih catatan stok seolah-olah baru saja menerima kepingan koin biasa.
Sepanjang siang itu, K menyaksikan parade barter yang memuakkan dari para penghuni yang rusak. Ia mulai mengenali pola mereka, bekerja dengan ketelitian seorang akuntan bagi penderitaan orang lain, meski pikirannya diam-diam terus mengumpulkan potongan-potongan cerita dari setiap toples yang ia genggam.