Arsitektur Hujan di dalam Kepala Seorang Asing

🕯Koo Marko✨
Chapter #13

Bagaimana Rasanya Menelan Surga yang Berubah Menjadi Kawat Berduri?

Malam itu, toko sudah dikunci, namun udara di dalamnya terasa lebih berat dari biasanya. K memulai ritual penutupan toko dengan ketelitian yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Setelah menghitung sisa stok sarden dan beras, ia melakukan tugas terakhirnya: memindahkan toples-toples memori dari laci kasir yang telah sesak ke dalam brankas besi di bawah meja. Baginya, toples-toples berisi cahaya itu tak berbeda dengan tumpukan uang hasil penjualan hari ini—sebuah aset berharga yang harus dijaga dari jangkauan siapa pun.

Namun, saat ia hendak memasukkan toples milik Laila ke dalam kegelapan brankas, jemarinya yang mulai bening mendadak mati rasa. Toples itu tergelincir, menghantam sudut tajam brankas, dan pecah menjadi serpihan kristal yang halus.

Gumpalan cahaya pelangi dari memori Laila tidak menguap. Alih-alih menghilang, cahaya itu pecah menjadi butiran-butiran kecil seperti boba yang bercahaya, berguling-guling di lantai kayu. K terpaku. Detik itu juga, sebuah aroma meledak dari pecahan kaca tersebut—bukan bau apek toko atau logam berkarat, melainkan wangi yang begitu surgawi hingga sanggup melumpuhkan logika.

Aroma itu seperti campuran dari hujan pertama yang jatuh ke tanah kering, dipadu dengan wangi roti jahe yang baru keluar dari oven, dan jejak lembut bunga melati yang mekar di tengah malam. Wangi itu begitu manis, begitu murni, dan entah bagaimana terasa sangat "akrab" di hidung K, seolah-olah aroma itu adalah bagian dari dirinya yang telah lama hilang. Hipnotis aroma ini membuat ulu hati K berdenyut hebat; ia merasa kosong, dan butiran cahaya di lantai itu tampak seperti satu-satunya cara untuk menjadi utuh kembali.

Tanpa sadar, K berlutut. Rasa lapar yang purba mendadak meledak. Ia mengambil sebutir cahaya itu dengan jarinya, lalu menekannya ke lidah.

Rasanya luar biasa lezat. Lebih manis dari madu manapun, lebih padat dari makanan paling mewah. Begitu butiran itu pecah di mulutnya, K seolah dilempar ke dalam ingatan Laila; ia merasakan angin yang menyapu rambutnya saat ia berlari di padang rumput, ia merasakan cinta yang utuh dari seorang ayah. Terbius oleh kelezatan yang tak masuk akal itu, K kehilangan kendali. Ia merangkak di lantai, memunguti butiran-butiran cahaya itu satu per satu, menelannya dengan rakus seolah-olah ia adalah orang yang sedang mati kelaparan di tengah kemewahan palsu.

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat.

Tiba-tiba, perut K terasa seperti diaduk oleh ribuan kawat berduri. Warna pelangi yang ia telan mulai bereaksi di dalam tubuhnya secara liar. K tersungkur, memegangi perutnya yang mulai membesar dan memancarkan cahaya biru yang berpendar dari balik kulitnya. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan yang membengkak karena ilusi memori yang menyumbat jalan napasnya.

Hampir satu jam K menderita sendirian di lantai toko yang dingin. Ia mengejang, mencakar lantai kayu hingga kukunya berdarah, namun tak ada satu pun suara yang keluar. Dunianya menjadi labirin halusinasi yang menyakitkan; wajah ibunya, wajah Mina, dan wajah Laila bercampur aduk menjadi satu monster yang mencekik tenggorokannya. Ia hanya bisa memuntahkan cairan bening berbau minyak kayu putih yang tajam, sementara kesadarannya perlahan mulai memudar dalam sunyi yang mencekam.

Lihat selengkapnya