Hampir tiga bulan telah berlalu, namun harapan K kini terasa seperti sisa pembakaran yang mendingin dan rapuh. Harapan akan adanya balasan dari mesin penggiling kopi—secarik kertas atau tanda sekecil apa pun dari dunianya yang dulu—kini terasa semakin mustahil dan menjerat. Ia tetap memerankan sosok "anak patuh" di bawah pengawasan Mina, namun tubuhnya mulai mengkhianati ketenangan semu itu karena penantian yang sia-sia. Setiap pagi ia membuka toko dengan langkah yang kian berat, menyapu lantai dengan pandangan kosong, hingga suatu pagi, suhu tubuhnya mendadak naik drastis. Rasa perih yang dulu mengiris perutnya seolah bermutasi menjadi api yang membakar sendi-sendinya, membuat setiap gerakannya terasa seperti menyeret beban ribuan ton akibat rindu yang membusuk di dalam darahnya.
Puncaknya terjadi pada suatu malam yang ganjil, saat badai pesisir menghantam dinding rumah dengan kemarahan yang luar biasa. Di tengah suara ombak yang terdengar seperti serangkaian ledakan di kejauhan, K tergeletak di kamarnya dengan napas yang memburu dan kulit yang membara karena demam tinggi yang dipicu oleh keputusasaan. Mina terus berada di sisinya, berulang kali membasahi kain kompres dengan tangan yang gemetar dan tatapan yang tidak sedetik pun berpaling dari wajah K, seolah ia sedang mencoba meredam api yang membakar nyawa anaknya sendiri. Kesadaran K mulai meluap dan terlepas dari raga yang sakit itu; ia jatuh ke dalam tidur yang terlalu dalam, sebuah sumur kegelapan yang mendadak berubah wujud menjadi ruang tengah rumahnya yang hangat di Kota B.
Mimpi itu begitu tajam. Ia melihat ibunya duduk di kursi kayu tua, diterangi cahaya kuning lampu pijar yang temaram. Di atas pangkuannya, botol vitamin yang dikirim K telah terbuka. Ibunya memegang secarik kertas nota yang tintanya melebar karena tetesan air mata. K bisa melihat bahu ibunya yang ringkih berguncang pelan, menciumi kertas itu seolah-olah aroma tubuh K tertinggal di sana. Aroma minyak telon dan minyak kayu putih yang selalu menyertai hari-hari sakitnya meruap, memenuhi indra penciuman K di dalam mimpi hingga dadanya sesak. Ibunya tidak bicara, ia hanya mengangguk pelan ke arah kegelapan, seolah tahu K sedang menonton dari dimensi yang lain.
K terbangun dengan sentakan hebat. Pipinya basah, dingin oleh sisa air mata yang tidak tahu milik siapa—miliknya atau milik ibunya dalam mimpi itu.
Tanpa memedulikan badai atau kemungkinan Mina yang sedang terlelap di sisinya terbangun, K menyelinap keluar rumah. Ia berlari menembus hujan yang terasa seperti jarum-jarum es, menuju toko yang membisu di ujung jalan. Dengan tangan gemetar, ia memutar kunci dan langsung menuju pojok ruangan yang pengap.
Ia berlutut di depan mesin penggiling kopi. Bau logam berkarat yang biasanya mendominasi kini tertutup oleh sesuatu yang mustahil. K merogoh lubang pengeluaran bawah yang sempit itu. Jemarinya menyentuh sesuatu yang lembut, lalu sesuatu yang keras dan halus.
K menariknya keluar.
Di telapak tangannya, botol vitamin itu telah kembali. Ringan dan hampa. Saat K membukanya, tidak ada lagi tablet oranye di dalam—botol itu telah kosong, menyisakan bau sisa kimia yang getir. Namun yang membuat pertahanan K runtuh sepenuhnya adalah selembar kain perca sisa jahitan bermotif bunga kecil yang ikut tergeletak di sana. Kain itu lembap, bukan karena air hujan, melainkan karena kehangatan yang asing. Saat K mendekatkannya ke hidung, aroma itu meledak: campuran minyak telon, minyak kayu putih, dan aroma khas "rumah" yang tidak pernah bisa diciptakan oleh simulasi pantai manapun.
Ini adalah balasan atas pertanyaannya. Ibunya tidak membalas dengan kata-kata, tapi dengan mengirimkan kembali sisa-sisa keberadaannya.