Di kamar, K berbaring menatap langit-langit yang warnanya mulai mengelupas, menyerupai peta benua yang asing. Ia meraba lengannya sendiri; rasanya masih ada, namun ada sensasi geli yang samar, seolah jutaan semut transparan sedang menggerogoti densitas tubuhnya dari dalam. Bayangan kain perca bermotif bunga dan aroma minyak telon itu terus berputar, menciptakan kontradiksi yang menyakitkan antara rasa lapar akan masa lalu dan rasa takut akan menghilang.
Rumah itu kini terasa lebih sempit dari sebelumnya. Sejak malam di toko, Mina bergerak seperti mesin yang kehabisan minyak; kaku, efisien, namun mengeluarkan aura dingin yang membekukan lantai kayu yang dipijak K. Mina tidak lagi menatap K. Ia hanya menatap piring, menatap tirai, atau menatap ujung daster basahnya—tempat ia menyembunyikan kain perca dan botol vitamin curian itu.
K tidak tahan lagi dengan tekanan sunyi itu. Ia bangkit, mengenakan jaketnya yang terasa semakin ringan, dan melangkah menuju pintu depan.
"Kau mau ke mana?" suara Mina menghentikannya. Perempuan itu berdiri di ambang dapur, tangannya masih basah oleh air cucian, namun matanya tetap tertuju pada titik kosong di dekat kaki K.
"Hanya jalan-jalan," jawab K tanpa menoleh. "Mencari angin segar. Di sini... udaranya terlalu padat."
Mina terdiam sejenak. Bahunya merosot sedikit, menciptakan lipatan halus pada daster pucatnya yang terasa lebih berat dari biasanya. Ia tidak menatap K, melainkan memandangi jari-jarinya yang masih menyisakan busa sabun cuci, seolah-olah ia sedang menimbang-nimbang apakah ia harus menggenggam lengan K dengan keras atau membiarkannya pergi. Ada keraguan yang menggantung di udara, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa dinding-dinding yang ia bangun dengan begitu teliti mulai terasa seperti penjara, bahkan bagi dirinya sendiri.
"Pulanglah sebelum matahari benar-benar hilang," ucap Mina pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan kepada dirinya sendiri. "Kau tahu betapa gelapnya pesisir ini saat malam."
K mengangguk singkat dan keluar, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang final.
Ia berjalan menyusuri aspal yang terasa seperti daging kenyal, melewati kabut putih setinggi pinggang di depan rumah Ibu Ratna, menembus gravitasi berat di depan jam sungsang Dokter Aris, dan mengabaikan hujan abu hitam di halaman Laila. Mereka semua ada di sana—diam, sibuk dengan ritual sia-sia masing-masing—seperti monumen kegagalan yang tidak bisa mati.
Langkahnya terhenti di depan halaman Pak Sadiman. Hujan air sabun turun lokal di sana, menciptakan busa-busa yang meletus pelan di atas bangkai mobil yang ringsek. Pak Sadiman sedang membungkuk, menggosok pintu mobil dengan sikat yang sudah gundul.