Langkah K terhenti di tengah jalan aspal yang kenyal, sementara bayangan tubuhnya di bawah lampu jalan tampak berpendar redup, hampir tidak mampu memotong kegelapan. Kata-kata Pak Sadiman tentang "menjadi debu" menghantamnya lebih keras daripada siraman air Istri Bos. Rasa takut itu datang tiba-tiba, dingin dan mencekik. Sebagai orang yang pernah bergelut dengan cetak biru, K selalu memahami bahwa setiap material memiliki titik hancur. Namun, bagaimana rasanya jika material itu adalah kesadarannya sendiri?
Dengung mesin bubut dari bengkel lelaki tua itu seolah masih tertinggal di telinganya, berputar bersama bayangan ngeri tentang kulit yang memudar. K menatap telapak tangannya sendiri di bawah cahaya lampu jalan yang kuning pucat, mencoba mencari ketegasan garis yang seharusnya ada di sana, namun yang ia temukan hanyalah sisa-sisa eksistensi yang kian goyah. Ia mulai membayangkan kematian. Apakah mati di pesisir ini berarti rasa sakit yang tajam, ataukah hanya sebuah proses memudar yang sunyi hingga ia tak lagi bisa merasakan detak jantungnya sendiri? Ia menatap orang-orang di sekitarnya—Ibu Ratna, Pak Herman, Laila—dan menyadari bahwa setiap orang di sini membawa rahasia kematian yang berbeda. Apakah di balik sana ada sesuatu yang menantinya? Ataukah ia hanya akan menjadi partikel abu hitam yang hinggap di halaman rumah orang lain, tanpa ingatan, tanpa nama?
Pikiran tentang "pulang" yang selama ini ia agungkan mendadak terasa seperti sebuah kemewahan yang mustahil. Bagaimana jika tidak ada jalan pulang? Bagaimana jika dunianya yang asli sudah menutup pintu untuknya, dan di sini ia hanya menunggu untuk dihapus?
Rasa asing itu membengkak di dadanya, membuatnya sesak. Dunia ini terasa terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu tidak masuk akal untuk dihadapi sendirian. Dalam kepanikan yang purba, K berlari. Ia tidak peduli lagi pada harga dirinya atau rasa bencinya pada Mina. Ia hanya ingin menemukan sesuatu yang padat, sesuatu yang bisa meyakinkannya bahwa ia masih ada.
Ia menerjang pintu rumah, napasnya memburu dan seragamnya kusut. Ia menemukan Mina di dapur, berdiri mematung di depan meja kayu. Tanpa kata, K menabrakkan tubuhnya ke arah perempuan itu. Ia menyembunyikan wajahnya di balik dada Mina, mencengkeram daster putihnya yang kasar dengan jemari yang kian transparan. Ia gemetar hebat, seperti seorang anak kecil yang baru saja terbangun dari mimpi buruk tentang monster di bawah tempat tidur.
"Mama..." bisiknya, suaranya pecah oleh ketakutan. "Bagaimana caranya pulang? Aku takut... aku tidak mau hilang menjadi debu. Katakan padaku, bagaimana cara agar aku tetap nyata?"
Mina tidak langsung menjawab. Ia hanya terdiam, namun tangannya yang kasar perlahan terangkat, mengusap punggung K dengan ritme yang lambat dan berat. Untuk sesaat, di tengah rumah yang pengap itu, K tidak lagi peduli apakah kasih sayang ini adalah sebuah penculikan. Ia hanya ingin berlindung di balik satu-satunya dinding yang tersisa sebelum dirinya benar-benar runtuh.