K tidak lagi mampu menangkap cahaya dengan utuh, seolah matanya mulai terbiasa dengan spektrum yang kian menipis. Karena itulah, pesisir di hadapannya telah kehilangan warna. Baginya, ancaman eksistensi yang memudar bukan lagi monster yang menakutkan, melainkan sebuah selimut yang lembut. Di dalam kepalanya, logika arsitektur yang dulu selalu menuntut presisi kini telah runtuh. Ia tidak lagi peduli pada skala, koordinat, atau denah dunia nyata. Yang ia rasakan hanyalah denyut konstan dari sebuah kewajiban yang tak tertulis: ia adalah penopang terakhir bagi seorang perempuan yang dunianya sudah runtuh jauh sebelum ia tiba.
K memutuskan untuk berhenti melawan. Ada semacam kehangatan aneh yang merayap di dadanya saat ia menghabiskan hari-hari di dapur bersama Mina. Ia membantu memotong sayur dengan tangan yang kini tampak seperti kaca buram—begitu tipis hingga warna hijau sawi menembus jemarinya. Di teras, ia hanya duduk memperhatikan kabut Ibu Ratna yang tak kunjung menjadi kain. K menyadari bahwa kehadirannya yang tenang adalah satu-satunya obat yang tidak bisa diberikan oleh kematian maupun keajaiban mesin kopi.
Malam itu, mereka duduk di meja makan yang hanya diterangi satu lilin. Lampu listrik sering kali gagal menangkap tubuh K yang kian transparan, seolah filamen lampu pun enggan mengakui keberadaannya. Namun, dalam pendar lilin yang kuning dan goyah, suasana justru terasa lebih intim.
"Supnya enak," ucap K pelan. Suaranya terdengar seperti gema di dalam gua, jauh namun jernih.
Mina meletakkan sendoknya. Bunyi logam yang bersentuhan dengan keramik terdengar begitu padat di telinga K. Mina menatapnya, bukan lagi dengan tatapan posesif yang tajam, melainkan dengan kelelahan yang luar biasa—tatapan seseorang yang sudah terlalu lama memegang beban yang bukan miliknya. Ia memperhatikan bagaimana cahaya lilin menembus telapak tangan K dan jatuh ke permukaan meja kayu, menciptakan bayangan hantu yang rapuh.
"Kau tahu, kan?" bisik Mina. Suaranya terdengar seperti tarikan napas terakhir dari sebuah rahasia yang sudah terlalu lama disimpan. "Bahwa kau bukan dia."
K mengangguk pelan. Tidak ada rasa sakit saat mendengarnya, hanya sebuah pemahaman yang tulus. "Aku tahu."
"Dan kau tahu bahwa dengan tetap di sini, kau akan menjadi debu."