Pagi itu, Pesisir masih berselimut kabut yang terasa seperti kapas basah, menempel di jendela dan menyamarkan garis laut. K mendengar derit pintu depan dan langkah kaki Mina yang menjauh menuju pasar—sebuah ritme yang kini menjadi satu-satunya penanda waktu di dunia yang kian kabur. Begitu kesunyian kembali menguasai rumah, K menyeret tubuhnya yang seringan uap menuju kamar yang selalu terkunci dalam ingatannya.
Pintu itu terbuka dengan keluhan kayu yang panjang. Di tengah keremangan, sosok granit Ayah masih di sana. Patung itu tidak pernah berubah; ia adalah titik koordinat yang paling statis di tengah dunia K yang mulai melarut.
K mendekat, membawa sehelai kain lap yang tampak lebih padat daripada jemarinya sendiri. Dengan gerakan perlahan, ia mulai mengusap bahu abu-abu yang dingin itu. Debu di tempat ini tidak seperti debu di Kota B yang kotor dan berjelaga; di sini, debu terasa seperti serpihan waktu yang mati. K mengelap permukaan wajah granit itu, melewati garis rahang yang kaku dan kelopak mata yang membatu dalam kesedihan abadi. Sentuhan itu tidak membawa kehangatan. Ayahnya telah menjadi benda mati yang menolak untuk memberikan resonansi apa pun.
Rasa panas mendadak menjalar di ulu hati K—sebuah sisa amarah dari dunia nyata yang belum sepenuhnya terurai. Ia menatap bingkai foto kosong yang didekap patung itu. Tiba-tiba, keinginan untuk menghancurkan keheningan ini meluap. K ingin melihat granit itu hancur, ingin melihat Ayahnya pecah menjadi kerikil agar stagnasi ini berakhir. Ia ingin Ayahnya berhenti menjadi monumen dan kembali menjadi manusia, meskipun itu berarti kembali menjadi manusia yang gagal.