Sebuah kalender di Pesisir mungkin tidak memiliki angka yang berganti, namun ingatan memiliki caranya sendiri untuk menghitung waktu. Bagi K, hari itu tidak datang dari selembar kertas di dinding, melainkan dari aroma kue pandan imajiner yang mendadak menyeruak di antara bau garam laut. Di dunianya yang asli, tanggal ini selalu ditandai dengan tawa ibunya yang renyah dan kesibukan kecil di dapur, sebuah ritual tahunan yang kini ia bawa sebagai bekal terakhir. Ia tahu, hari ini adalah hari kelahiran Mina.
K memutuskan untuk tidak membiarkan hari ini tenggelam dalam keheningan daster putih yang monoton. Dengan sisa-sisa energinya yang kian tipis—tangannya kini sudah hampir tidak bisa memegang gagang pintu tanpa menembusnya—ia berjalan keliling lingkungan. Ia mendatangi rumah-rumah kayu yang kaku itu, mengetuk pintu para tetangga yang selama ini hanya ia lihat sebagai figuran statis di teras yang membeku.
Sore itu, untuk pertama kalinya, ruang tamu Mina tidak lagi terasa seperti sebuah monumen yang dingin. Di sana ada Ibu Ratna, yang meski matanya masih tampak berkabut, datang membawa kain tenun setengah jadi sebagai hadiah—sebuah upaya nyata untuk kembali menyentuh dunia dan berhenti memintal uap. Pak Herman duduk di sudut meja makan dengan kecanggungan yang tulus; bayangan tubuhnya di dinding tidak lagi menunjuk ke berbagai arah, seolah-olah berat tubuhnya baru saja kembali ke bumi dan menemukan satu matahari yang nyata.
Di dekat jendela, Dokter Aris duduk dengan punggung tegak, tangan yang biasanya kaku kini sesekali bergerak mengikuti irama denting sendok. Di rumah ini, gravitasi berat yang selalu ia pelihara tampaknya melonggar, membiarkan detak jam di dinding rumah Mina bergerak maju tanpa ia tahan. Sementara itu, Gadis Kecil Laila duduk dengan tenang di samping Mina. Tidak ada hujan abu hitam yang jatuh di atas kepalanya kali ini; ia datang membawa kotak krayonnya yang berarang, namun ia tampak sibuk menggambar sesuatu di tepian serbet kain, mencoba menangkap warna kuning dari pendar lilin di atas meja.
Tak ketinggalan Pak Sadiman, yang datang dengan kemeja mekanik tuanya yang sudah bersih dari noda oli, meski aroma logam dan karat masih samar-samar tertinggal di pori-pori kulitnya. Ia tidak lagi membawa sikat gundul atau air sabun. Ia duduk dengan tenang, meletakkan tangannya yang kasar di atas meja kayu, membiarkan jemarinya yang lelah beristirahat dari ritual mencuci bangkai mobil yang sia-sia.
K memasak segalanya. Ia menggunakan seluruh keterampilannya untuk menyusun hidangan di atas meja kayu yang retak, memastikan setiap piring memiliki presisi yang pernah ia pelajari di meja arsitek. Aroma sup ayam yang hangat dan irisan melon yang segar memenuhi ruangan, mengusir bau kapur barus yang selama ini merajai sudut-sudut rumah.