K berjalan menuju toko di ujung jalan dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Tubuhnya kini hanya berupa pendar pucat yang bersaing dengan kabut pesisir. Ia merasakan sensasi aneh di telapak kakinya; aspal itu tidak lagi terasa kasar atau keras, melainkan seperti gumpalan awan yang tidak pasti. Setiap langkahnya tidak lagi menghasilkan bunyi tap yang mantap, melainkan hanya gesekan halus yang lebih mirip bisikan angin daripada jejak manusia. Di tangannya, ia membawa kantong berisi kornet, vitamin, dan berbagai obat-obatan—sisa-sisa perbekalan yang ia kumpulkan dari rumah Mina.
Di depan mesin penggiling kopi yang berkarat, K menuliskan pesan terakhir di secarik kertas perca. Jemarinya terasa begitu ringan, seolah-olah tulang-tulangnya telah berganti menjadi serat cahaya. Ia harus berkonsentrasi penuh hanya untuk merasakan gesekan pena di atas kertas; jika ia lengah sedetik saja, pena itu akan merosot menembus genggamannya yang kian tak bermassa. Ia tidak lagi meminta ibunya untuk tetap hidup, namun ia menuliskan peringatan tentang kanker yang akan datang, tentang rasa sakit yang akan menggerogoti, dan sebuah permohonan agar ibunya lebih terbuka pada orang lain sebelum waktu itu tiba. Ia menyelipkan harapan kecil bahwa mungkin, di suatu titik di masa lalu, ibunya bisa menghindari penderitaan itu.
K memasukkan semuanya ke dalam mesin. Suara gerigi logam yang beradu terdengar seperti jeritan kenyataan yang terkoyak.
Tiga bulan berlalu di dunia pesisir yang statis. K tetap berada di sisi Mina, menghabiskan waktu dalam diam yang komunikatif, sementara tubuhnya kian hari kian serupa dengan bias cahaya pada permukaan air. Ada kalanya K duduk di kursi kayu dan menyadari bahwa ia tidak lagi memberikan tekanan pada permukaan kursi itu. Berat badannya telah menguap. Suara detak jantungnya sendiri kini terdengar seperti gema dari dasar sumur yang sangat dalam—lambat, hampa, dan asing. Ia merasa seolah-olah sedang melihat dirinya sendiri dari balik lapisan kaca yang sangat tebal.
Hingga suatu sore, keheningan itu pecah. Sebuah getaran merambat melalui frekuensi radio tua di sudut ruang tamu Mina, bukan suara statis yang berderak, melainkan sebuah napas yang sangat ia kenal. Suara itu retak, seolah harus menempuh jarak jutaan tahun cahaya untuk sampai ke sana. Itu suara ibunya.
"...ingat tidak saat kau pertama kali belajar sepeda?"
Seketika, dunia di sekeliling K meluruh ke dalam titik senyap yang mutlak—seperti piringan hitam yang mendadak berhenti di tengah lagu paling sedih. Suara ombak dan derit lantai tersedot habis ke dalam vakum yang hampa. Di tengah keheningan yang memekakkan itu, suara dari radio tua tersebut bukan lagi sekadar gelombang; itu adalah fragmen memori yang mewujud menjadi pelukan, sebuah eksistensi yang selama ini ia cari di labirin Pesisir ini.
Frekuensi suara itu menghantam K dengan gravitasi yang ganjil, memaksa jantung transparannya kembali memompa rindu yang kental dan panas. Udara mendadak memiliki berat ribuan ton, seolah realitas sedang menjahit kembali raga K dengan benang rasa sakit yang paling purba. Ia merasa seperti penyelam yang ditarik paksa ke permukaan; paru-parunya terbakar oleh kebenaran yang terlalu tajam untuk dihirup.
"Kau menangis kencang karena takut jatuh. Kau memegang tangan Mama begitu erat sampai kuku Mama membiru. Tapi Mama sengaja melepaskannya, K. Mama membiarkanmu jatuh ke aspal hari itu bukan karena Mama tidak sayang..."
Ada jeda panjang, seolah suara itu sedang berjuang melawan jarak antar dimensi yang mustahil. K merangkak mendekati radio, telapak tangannya yang transparan gemetar hebat.
Ingatan itu menghantamnya dengan gravitasi yang tiba-tiba. K tidak hanya mendengar cerita tentang sepeda; ia melihatnya kembali. Ia bisa merasakan aspal panas yang membakar telapak tangannya, mencium aroma keringat ibunya yang bercampur dengan wangi detergen matahari, dan mendengar derit rantai sepeda yang belum stabil. Ia ingat bagaimana ia menoleh ke belakang, matanya basah oleh ketakutan, mencari kepastian bahwa tangan ibunya masih ada di sana, menggenggam besi kursi belakang sepedanya.