Arsitektur Hujan di dalam Kepala Seorang Asing

🕯Koo Marko✨
Chapter #21

Bagaimana Rasanya Menabung Seluruh Cinta dalam Diam, Lalu Kehilangan Orang yang Bisa Mengejanya?

Ruang tengah itu masih menyisakan aroma yang sama: perpaduan antara tumisan bawang merah yang gurih dan sisa asap rokok yang mengendap di gorden kusam. Di Kota B, matahari tidak pernah benar-benar masuk ke dalam rumah mereka, tertutup oleh jemuran di teras dan bayangan pohon avokad yang dulu ditanam adik laki-lakinya di halaman samping. Namun, di dalam sini, selalu ada kehangatan yang dipaksakan untuk tetap menyala.

K duduk di depan televisi yang menyala, menatap layar yang menyajikan siaran berita yang suaranya ia kecilkan. Baginya, televisi adalah satu-satunya dinding pemisah yang ampuh—sebuah cara untuk menenggelamkan diri agar ia tidak perlu mendengar desah napas Ayah atau denting piring di dapur. Dari sudut matanya, ia tetap bisa melihat Ayah yang duduk di kursi rotan kesayangannya. Jari-jari Ayah yang kasar karena oli bengkel sedang sibuk melipat-lipat secarik kertas lotere, seolah benda itu adalah jimat keberuntungan yang akan mengubah nasib mereka besok pagi. Di sampingnya, asbak sudah penuh dengan puntung rokok yang menggunung—monumen bisu dari kecemasan yang tidak pernah ia bicarakan.

"Uang sekolah anak-anak sudah dibayar?" suara Mama terdengar dari dapur, tenang namun mengandung tuntutan yang tajam.

Ayah tidak menjawab. Ia hanya mendengus, mengeluarkan asap putih dari mulutnya yang kering. K tahu apa artinya itu. Ayah baru saja kalah lagi, atau mungkin uang setoran bengkel minggu ini sudah habis untuk menebus harapan-harapan kosong di kedai lotere.

Lihat selengkapnya