Langit malam Yogyakarta terbelah oleh kilat, menyinari tubuh kecil Arsya yang terhuyung-huyung di tengah hujan.
“Lari… jauh… lebih jauh.”
Arsya menengok ke belakang. Ceroboh. Tersandung kaki sendiri. Hingga tubuh ringkihnya terjungkal.
Napasnya tercekat. Batu-batu tajam menggerus kulitnya, meninggalkan jejak merah seperti coretan krayon di kanvas kotor. Darah merembes, namun sebelum sempat menetes lebih jauh, derai hujan menghapusnya. Sama seperti air mata yang tak sempat tumpah dari pelupuk.
Saat dia memaksakan tubuhnya tegak, lututnya berkhianat. Menolak menjadi alat pelarian lagi.
Dengan telapak tangan yang gemetar, dia menyusuri kulitnya hingga menyentuh goresan di sana. Sentuhan itu memicu sengatan. Matanya terpejam rapat, napasnya memburu cepat dan dangkal, menyisakan satu kata yang lolos di sela rintihan: "Sakit."
Rasa perih itu perlahan tergantikan oleh rasa waswas. Arsya mendongak, matanya menyapu sekitar, mencari apa saja yang bisa dikenali di bawah remang langit malam. Namun, Arsya tidak menemukan apapun yang dia kenali sebagai penunjuk arah rumah.
“Sudah jam berapa, ya? Ini di mana? Apa sudah jauh dari rumah? Ayah—”
Gumamnya terputus. Lolongan panjang dan mengancam memecah kesunyian, memekakkan gendang telinga. Arsya terkejut, bola matanya menerawang liar menoleh ke kiri dan ke kanan. Jantungnya berdegup kencang. Lolongan itu bergema lagi. Aku harus pergi. Lari!
Dengan sisa tenaga, Arsya menegakkan punggung. Berjalan tertatih. Sesekali menoleh, takut bayangan di belakangnya berubah menjadi anjing galak atau orang jahat. Namun, ketakutan itu mendadak surut saat dia melihat siluet kubah di kejauhan.
“Masjid!” Seruan itu lolos bersama senyum kelegaan. Matanya melebar. Guru agamanya di sekolah selalu bilang kalau masjid adalah rumah Tuhan, tempat mengaji yang ramai, dan orang-orang dewasa yang ramah. “Di sana... ada yang bisa dimintain tolong.”
***
Baru setengah jalan, sepasang lampu sorot membutakan matanya. Klakson menjerit nyaring, tetapi kaki Arsya telanjur mati rasa. Dia tidak sempat menghindar.