Rumah.
Seharusnya, pelabuhan untuk kapal-kapal lelah.
Seharusnya, dapur bagi rindu yang menggemuruh.
Seharusnya, meja tempat lapar berlabuh.
Tapi rumahku?
Tumpukan batu-batu yang tak kenal doa.
Dan di sana aku hidup.
Sebagai tawanan yang diasingkan.
__Arsya Abiseka G
Matahari menggantung rendah, melemparkan bayangan panjang seperti coretan pensil di lantai kamar Arsya. Dingin, karena angin sore leluasa menerobos celah jendela, menembus pertahanan dari selimut tipisnya.
Arsya terbangun. Bukan karena kenyang tidur—melainkan desakan perut yang memberontak. Protes keras dari tubuhnya yang terbiasa diabaikan.
Kegiatan harian yang selalu berulang, pulang sekolah—seringkali tanpa bekal makan siang. Jika tak ada makanan di rumah, tidur adalah satu–satunya pilihan.
Tidur.
Sambil berharap hal ajaib terjadi—bahwa saat ia bangun nanti, Ayah muncul membawa nasi hangat, duduk di sebelahnya, dan menemaninya belajar.
Namun, seperti sore-sore sebelumnya, harapan itu hanya jadi ilusi. Di atas meja, yang menyambutnya hanyalah sisa nasi. “Enggak apa-apa,” Arsya sudah terbiasa. Perutnya sudah terlalu sering bernegosiasi dengan kekosongan. Yang penting makan, apa pun itu.
Ia duduk perlahan, mengangkat sendok, dan mengaduk nasi itu, seolah berharap menemukan keajaiban—sebutir telur, satu bungkus krupuk, apa pun.
Namun, bahkan sebelum tangannya menyentuh nasi, siluet ayahnya terlihat menjauh, melesat tanpa pamit. Meninggalkan jejak yang membawa pergi sedikit lagi sisa kepercayaan Arsya bahwa dia cukup diperhitungkan keberadaannya di rumah ini.
“Ayah, mau pergi lagi. Kali ini… aku harus ngejar. Harus.” Arsya meninggalkan sendok dan meminta perutnya menunggu sebentar. Ia menyusul ke pintu.
***
“Ayah, mau ke mana?” tanyanya, menahan suara agar terdengar biasa. Tapi jari-jarinya mencengkeram kusen, seolah itu bisa menahan yang ingin pergi.
“Cari angin!” jawab Ayahnya, setengah menggertak, mulutnya tersumpal rokok. Kunci pintu sempat macet, tapi setelah beberapa kali mencoba, akhirnya terbuka lebar—seperti jarak antara mereka yang tak pernah sempat dijembatani.
Arsya tahu persis artinya. Cari angin selalu berarti pergi berjudi. Dan ia tahu lelaki itu akan pulang larut, bau alkohol, mata merah, dan tangan yang gatal mencari sasaran. Selalu begitu.
Ia juga tahu, lelaki yang ia panggil Ayah bukan ayah kandungnya. Semua orang di kampung tahu. Bisik-bisik itu tak pernah sampai ke telinganya—tapi cukup keras untuk melubangi hatinya.
Meski begitu, hanya lelaki itulah yang pernah mengelus kepalanya dan berkata,
“Kamu anak pintar,” saat ia membaca buku pertamanya.