Di dalam mobil, Mahatma Aswanta Wasesa mencengkeram setir. Hawa dingin dari AC mobil bercampur dengan peluh yang mendadak membanjiri tengkuknya. Napasnya pendek, berkejaran dengan rasa mual dan sisa pening alkohol yang kini terasa memuakkan di pangkal lidah.
Dia melirik kaca spion tengah. Kosong. Dia menoleh ke kaca samping, memicingkan mata menembus tirai hujan deras yang mengaburkan jalanan sepi Yogyakarta. Tidak ada sorot lampu lain. Tidak ada saksi di jalur buta ini.
Namun, di depan sana, tepat di bawah pendar putih lampu mobilnya, sosok bocah terbaring tanpa pergerakan.
“Sialan!” maki Aswan dengan tangan terkepal.
Sekema kehancuran langsung tergambar di kepalanya: polisi, kilat kamera wartawan, rekan bisnis dan wajah mertuanya, Pak Damar yang mungkin menemukan celah yang akan ia selidiki lebih dalam mengenai pribadi tersembunyi Aswan.
Ponselnya yang terlempar ke karpet mobil bergetar. Layarnya menyala redup menampilkan nama Nadhira.
Getaran itu seolah menarik Aswan kembali ke realitas. Aswan memejamkan mata kuat-kuat, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Kepanikan tidak akan menyelamatkannya. Kekuasaan yang akan melakukannya.
Saat ia membuka mata, getar di tangannya lenyap. Aswan meraih ponsel itu, menekan tombol daya untuk membungkam panggilan istrinya, lalu membuangnya ke jok penumpang. Ia belum memiliki skrip yang aman untuk Nadhira.
Akhirnya, ia membuka pintu. Hujan langsung menyambut, menempelkan dingin ke jas yang dia kenakan. Langkahnya mantap, tak lagi sempoyongan, mendekati tubuh yang terkapar di aspal.
Bocah itu masih diam. Tak bergerak, tak bereaksi. Sebuah kepasrahan yang ganjil, membuat Aswan ragu. Mungkin ini bukan sekenario kematian yang ia bayangkan, melainkan sesuatu yang lain. Rasa penasaran, bercampur keengganan untuk buru-buru menyusun rencana pemakaman yang rumit, mendorongnya untuk memastikan.
Pak Aswan berjongkok, menempelkan dua jari ke leher mungil yang basah. Ada denyut. Lemah, tapi masih ada.
Ia menarik napas dalam, menegakkan tubuh, menatap sekeliling. Masih tidak ada siapa-siapa.
Mata Aswan menajam. Anak ini masih hidup, dan itu adalah kalkulasi yang jauh lebih berbahaya. Saksi mata bisa menghancurkan reputasinya, namun membiarkannya mati di sini dengan jejak forensik mobilnya adalah risiko yang tidak bisa ia kendalikan. Tapi jika ia membawanya ke rumah sakit yang tepat—rumah sakit miliknya—Aswan bisa memegang kendali penuh atas cerita ini.
“Baiklah,” gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Kau tidak boleh mati. Belum.”
Ia mengangkat tubuh itu perlahan, membukakan pintu belakang mobil, lalu meletakkannya di kursi. Hatinya tak bergerak. Tapi pikirannya bekerja cepat. Ia tahu, satu-satunya cara keluar dari ini adalah tetap terlihat tenang. Peduli. Bertanggung jawab.
Sampai ada cara lain untuk menghapus jejak.
***
Saat Aswan membaringkannya di kursi belakang mobil, ia menyadari sepasang kelopak mata bocah itu bergerak lemah, terbuka sedikit. Dadanya bergerak naik-turun dengan payah. Dia masih memiliki sisa kesadaran.
“Hei, Nak. Kamu bisa dengar aku?” Aswan menepuk pipi bocah itu, memastikan posisinya. Suaranya harus bersaing dengan deru badai di luar pintu mobil yang terbuka.
Tidak ada jawaban, hanya kilat redup di mata si bocah yang menatapnya kosong.
“Aku akan menolongmu. Bertahanlah,” ujar Aswan. Ia langsung sadar, Aswan butuh identitas dasar agar proses administrasi di UGD nanti tidak memicu kecurigaan atau memperlambat waktu. “Siapa namamu?”