“Aku adalah buku, yang halaman-halamannya telah robek. Cerita yang terputus di tengah jalan. Dipenuhi teka-teki yang tak terjawab, sebuah enigma yang terus melangkah. Ironisnya, aku lebih mengenal dunia ini daripada diriku sendiri. Siapakah aku, jika bahkan namaku adalah bisikan samar dan wajahku hanyalah bayangan yang tak kukenali?”
__ Arsya Abiseka Gantari
Kelopak mata Arsya terbuka perlahan. Bau obat dan alkohol menusuk hidungnya, mengusir kantuk dari mimpinya yang aneh. Cahaya putih terang membuat matanya silau saat ia mengerjap. Semuanya tampak buram, tapi ia bisa melihat dinding putih yang bersih, tiang besi dengan cairan infus tergantung, dan selang kecil bening melilit hidungnya.
Ia mencoba mengepalkan jari. Otot-ototnya menolak, lemas seolah tulang berlapis daging itu bukan miliknya sendiri. Kepalanya terasa kosong dan aneh, seperti ada bagian penting yang hilang. Ia tidak ingat apa-apa. “Aku kenapa?” Napasnya menjadi tidak normal, tarikan terasa cepat, jantungnya berdebar kencang.
Sebelum napasnya sempat teratur, tirai biru di sampingnya tiba-tiba terbuka. Seorang perawat muda berdiri di sana, matanya agak membesar. “Anaknya sadar!” teriaknya, suaranya terdengar paling kencang di antara bunyi 'beep-beep' mesin di dekatnya. “Nak, jangan tidur lagi. Aku panggil dokter!” katanya, lalu cepat-cepat pergi.
Arsya membuka mulut, tapi hanya udara yang keluar dari tenggorokan yang kering. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat. Tapi di balik kelopak matanya, gelap. Tidak ada jawaban. Hanya potongan ingatan yang terlalu cepat menghilang sebelum ia bisa menangkapnya. Setiap kali ia mencoba, kepalanya terasa sakit berdenyut.
Derap sepatu kets mendekat dalam ritme kacau. Arsya ingin tetap membuka mata, penasaran dengan suara-suara yang semakin mendekat. Mungkin mereka bisa memberi jawaban tentang siapa dirinya. Tapi kelopak matanya terasa berat, menariknya kembali ke dalam kegelapan.
“Jangan tertidur!” suara perawat itu kembali, jari-jari dinginnya menjepit pergelangan tangan Arsya seperti ingin menambat nyawa yang mulai melayang.
Suara bariton lembut menarik perhatianya “Arsya?”
Arsya. Nama itu… terasa asing di ruang hampa pikirannya. Apakah itu namaku? Sebuah bisikan lirih dari hati kecilnya, tak bersuara.
“Bisakah kau mendengarku?” tanya suara yang sama, memanggilnya dengan nama Arsya. Dia mendengar pertanyaan itu. Dia ingin menjawab. Namun suaranya tertahan, terperangkap di kerongkongan. Setidaknya ia ingin mengangguk sebagai isyarat jawaban. Tapi meskipun dia telah berusaha, sepertinya orang-orang disekitarnya tidak bisa melihat responsnya—tersembunyi di balik tabir kesadaran yang menipis.
Senter kecil menyinari wajahnya. Cahaya itu seperti memanggil Arsya untuk mengikutinya, namun matanya tak mau menurut, terasa sangat berat, bergerak begitu pelan. Bahkan, mungkin diam saja.
“Nak… tolong bertahan,” ujar Dokter Nata sambil mengamati pola gelombang otak yang berjuang di layar monitor. “Kami di sini untukmu.”
Suaranya terdengar meyakinkan, namun di telinga Arsya, kata-kata itu hanya menjadi gumaman samar, menambah keruh pikiran yang kian kabur.
***
Alin menggigit bibir bawahnya. “Dia membuka matanya tadi—aku lihat sendiri!” Perawat muda yang menyaksikan Arsya sadar berusaha membela diri, matanya penuh keyakinan. Jarinya sibuk memilin ujung seragam hingga terlihat sedikit kusut.
Dokter Nata tidak langsung menjawab. Matanya tetap pada monitor, tempat denyut jantung Arsya terekam dalam irama yang tak stabil.
“Efek residual anestesi,” katanya setelah beberapa saat, nadanya tenang dan profesional. “Yang kamu lihat itu wajar. Kesadaran pasien seringkali tidak stabil setelah operasi.”
Di sebelah Dokter Nata, seorang pria berdiri dengan kemeja putih sempurna—seolah baru saja dikeluarkan dari etalase butik. Tak ada jejak darah di manset Rolex-nya, atau noda di sepatu Oxford-nya yang mengkilap.
Sosok itu sama sekali tidak terlihat seperti orang yang tiga jam lalu menjepit tubuh Arsya di antara pintu mobil Mercedes-nya. Wajahnya tersusun rapi, kerutan di dahinya lebih menyerupai kekesalan daripada kekhawatiran.
Sosok itu berdiri tegak, tangannya mengetuk-ngetuk casing ponsel bermerk. Layarnya berkedip—Istri: 7 Panggilan Tak Terjawab—seperti alarm yang sengaja diabaikan.
Pandangan matanya sempat singgah ke ranjang pasien—sebentar, sekedar formalitas. Tapi tak benar-benar melihat.
Rahangnya mengeras, terkunci rapat menahan sesuatu yang tidak boleh tumpah di tempat umum. ‘Dia harus sadar sebelum media mencium bau busuk ini,’ pikirnya. Membayangkan headline yang akan menghancurkan semuanya:
Putra Grup Maheswari Tabrak Anak Jalanan karena Telepon Saat Mengemudi.
“Berapa lama lagi?” suaranya memecah kesunyian ruang perawatan.
Dokter Nata menghela napas. “Tidak bisa dipastikan. Cedera kepalanya parah. Kami masih memeriksa—”
“Jam atau hari?” potongnya, Pak Aswan mendekat. Suaranya tetap rendah. Tapi dingin. “Saya butuh angka.”
***
Arsya, dalam keadaan setengah sadar, merasakan kata-kata itu datang dan pergi seperti gelombang laut, tak bisa ia tangkap utuh. Suara mereka bercampur dengan rasa perih yang menjalar dari kepala sampai ke ujung kakinya.
“Siapa mereka?” Ia bertanya dalam hati. “Kenapa mereka ingin aku cepat bangun? Aku juga ingin, tapi—” Nyeri kembali datang, menghantam kepalanya seperti palu tak terlihat. Tubuhnya terasa ditindih batu-batu besar, bahkan menggerakkan jari pun sangat susah. Seolah larangan bergerak belum cukup untuk menyiksanya, dadanya sesak. Seolah ada tangan besar yang juga menghalanginya untuk bernapas dengan bebas.
Cahaya putih di langit-langit semakin kabur, suara mesin-mesin medis berubah menjadi gumaman samar. Dunia perlahan tenggelam, memudar, sampai akhirnya hanya ada kegelapan yang dalam. Segalanya kembali sunyi untuk Arsya.
***
Di luar kesadaran Arsya, monitor medis terus berdetak—ritme datar di antara dua sosok yang berdiri seperti kutub yang berseberangan.
“Kami sudah memaksimalkan upaya, Pak Aswan,” Dokter Nata menekankan, jarinya mengetuk berkas pasien dengan ritme tegang. “Tapi kondisi trauma kepala tidak bisa dipaksa. Ada proses alamiah yang—”