Arsya

Faeza Alfarizi
Chapter #5

Bayangan

Arsya terempas kembali ke jagat asing dan menakutkan. Gelap. Dingin. Sakit. Takut. Hanya kata-kata itu yang berulang-ulang di kepalanya, menggambarkan kekacauan yang ia rasakan.

“Kapan dia bangun?”

“Nak, kamu bisa mendengar suaraku?”

“Aku lihat dia bergerak!”

Suara-suara itu menyusup, mempertajam indranya yang semula kabur. Ia menyadari dirinya duduk, lutut ditekuk erat ke dada.

Saat pandangannya terangkat, sebuah panel cahaya menyala di depannya, mempertontonkan wujudnya sendiri. Tubuh itu—tubuhnya yang terbaring—terlihat kaku di tempat asing. Alat-alat aneh berwarna-warni menempel di sekujur tubuhnya, terlihat asing dan menyeramkan. Seolah mencoba menghisap sisa kehidupan dari dirinya. Selang dan kabel menjalar ke mana-mana, membelitnya bak jaring laba-laba. Luka-lukanya terpampang jelas: memar ungu menghiasi kulit, perban putih membungkus kepalanya. Tubuh itu hanya diam, seolah bukan lagi miliknya, dan rasa takut menekan dadanya hingga sesak.

Tiba-tiba, layar itu berganti. Kini yang muncul adalah wajah-wajah yang mengelilingi tubuhnya yang terbaring. Ada seorang wanita muda, matanya membelalak penuh ketakutan, seolah melihat monster. Suara lain masuk. Lembut. Seperti pelampung di tengah badai. Namun, kemudian muncul sosok pria. Bayangannya saja terasa menindih, membuat udara di sekitarnya terasa berat dan mengancam.

“Kapan dia bangun?”

Pertanyaan itu kembali terdengar, membuat jantung Arsya berdegup kencang seperti drum perang. Tangannya mencengkeram dadanya, takut jantung di dalamnya akan melompat, bahkan berhenti berdetak.

Air mata mulai mengucur, menelusuri pipinya yang dingin.

“Aku juga mau bangun,” desisnya putus asa dalam hati.

Ia memeluk lututnya lebih erat, mencari rasa aman yang tak kunjung datang.

Lalu, sebuah suara menyapa. Lembut, namun jelas, menembus kabut ketakutan yang menyelimutinya.

“Kamu kembali, sayang?”

Suara itu… Arsya mengenalinya sepenuh jiwa. Seketika, kegelapan di sekelilingnya luruh, berubah menjadi kamar kecil yang memancarkan cahaya keemasan. Sosok itu sudah duduk di sampingnya. Tangan yang tembus pandang itu mengusap rambutnya dengan lembut, seperti angin musim semi.

“Bunda…” suaranya serak menahan tangis. “Aku nggak mau balik ke sana. Ada… ada yang jahat.”

Jemarinya mencengkram ujung gaun sosok itu—kainnya terasa hangat seperti matahari pagi menyentuh kulit. Tapi kehangatan itu tak bisa ia pertahankan, lolos dari genggamannya seperti asap yang menghilang di udara.

Sosok itu tersenyum. Tidak buru-buru menanggapi Arsya, seolah menunggu bocah itu bisa bernapas lebih tenang.

“Kamu enggak perlu khawatir, Nak. Sebelum bertemu Kakekmu, akan ada banyak orang yang menyayangimu juga. Meski wajah mereka belum kamu kenal sekarang.”

“Tapi… aku nggak tahu siapa mereka. Aku lupa semuanya. Kalau mereka ternyata jahat… bagaimana aku bisa tahu?”

Sosok itu mengelus kepalanya, seperti menjawab bukan dengan kata-kata, tapi dengan rasa yang tak bisa dijelaskan.

“Kamu tahu, Nak. Hatimu tidak ikut lupa. Itu yang akan membedakan.”

Arsya ingin bertanya lagi, "Bagaimana caranya?"

Tapi sebelum ia sempat, sosok itu mulai memudar.

“Bangunlah,” suara itu masih terdengar, samar seperti cahaya di kejauhan.

“Yang kamu butuhkan sudah kau simpan. Kamu akan tahu kapan waktunya.”

***

Saat Arsya kembali membuka matanya, dunia terasa lambat.

Lampu di langit-langit menyala temaram. Tidak ada lagi topeng oksigen, tidak ada suara alat-alat yang mendesak napasnya keluar-masuk.

Ia mengerjap pelan. Ruangan ini… berbeda. Lebih sunyi, lebih biasa—tapi entah mengapa, terasa seperti dipenuhi rahasia yang belum dikenalnya.

Di ranjang sebelah, seseorang terbaring. Dua penjaga duduk di dekatnya, berbincang pelan. Setidaknya begitu yang Arsya kira, sampai suara-suara itu… terdengar jelas.

—Sudah dua hari anak itu tidak bangun.—

—Tidak ada yang datang.—

—Kenapa kita tidak boleh membicarakan dia?—

Arsya mengerutkan dahi.

Mereka duduk diam. Tidak ada yang bergerak. Bibir mereka rapat. Tapi kata-kata itu… terdengar. Tidak lewat telinga, tapi seperti langsung masuk ke dalam dadanya.

“Apa yang terjadi padaku?” pikirnya.

Lalu ia menoleh ke sisi lain ruangan. Tidak ada kamera. Tidak ada pengeras suara.

Tapi suara-suara itu terus berdatangan.

Seolah bukan berasal dari luar… melainkan dari dalam orang-orang itu sendiri.

Arsya memaksakan matanya fokus. Pandangannya masih buram, tapi suara itu… dia harus tahu asalnya.

Ketika ia menoleh, tatapannya bertemu dengan mata pasien di ranjang seberang.

Seorang remaja putri—lebih tinggi, lebih tua. Wajahnya menegang. Panik. Seolah baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat.

“Bu… dia bangun,” katanya pelan, tapi terdengar jelas. “Haruskah kita panggil dokter?”

Perempuan dewasa yang duduk di sisinya—penjaganya, mungkin ibunya—ikut menoleh. Tatapannya mengeras, seperti baru sadar bahwa Arsya menatap balik.

“Bi… biar Ibu yang panggil,” ucapnya cepat. Ia bangkit, lalu berkata dengan nada terputus-putus “Saya harap ada kamar kosong lain. Maaf… saya nggak tahan di sini.”

Langkahnya menjauh. Cepat. Seolah ruangan ini terlalu berat untuk ditinggali lebih lama.

***

Tak lama kemudian, beberapa perawat masuk. Mereka bergegas membantu memindahkan si pasien ke ruangan lain.

Arsya hanya diam. Mengamati.

Lalu—

—Kenapa si ibu minta pindah?—

Suara itu masuk. Terdengar jelas di telinga Arsya. 

Arsya menoleh, bingung.

Siapa yang bicara?

Perawat yang tadi berdiri paling dekat menunduk mengatur peralatan. Bibirnya tertutup masker, tidak ada yang mengajaknya bicara. Tapi suaranya… terus terdengar. 

—Kasihan, anak panti gini… siapa yang jemput ya?—

—Apa gara-gara dia?—

Perawat itu berdiri, memandang Arsya sebentar. 

“Adek, ada yang enggak nyaman?” Nada suaranya ramah, namun dengan suara yang sama, kalimat sinis terdengar.

—Matanya... dia sadar? Kok diam melongo gitu?—

Apa perawat itu berbicara dua kali?

Tidak. Bukan bicara.

Kalau orang bicara, harusnya bibirnya ikut bergerak. 

Arsya sempat melihat, tadi walau perawat saat menyatakan perasaannya masker yang dia kenakan bergerak naik-turun. Tandanya dia berbicara langsung. Namun, kalimat berikutnya tidak seperti itu. Suaranya sama tapi bukan diucapkan langsung.

Kenapa bisa seperti itu? Dari mana suara lain berasal?

Mendadak kepalanya berdenging. Bersamaan dengan itu—

“Dengar! DENGAR. Kamu harus dengar.”

Suara lain menyusul, membuat tengkuknya merinding. Tidak ada yang mengucapkan. Dia hanya mengingat sura itu. Suara siapa? Arsya tidak tahu.

“Enggak boleh. Jangan ingat itu.”

Lalu datang lagi suara lain,

—Anak itu... kok rasanya ngeri ya?—

—Aduh, repot banget nih pasien!—

“Lebih keras lagi. Dengar lebih teliti!”

—Ampun, jangan-jangan ini kerasukan?—

Arsya menggeleng. Tangannya naik, ingin tutup telinga—

Tapi tangannya berat. Tidak mau bergerak.

Dan suara itu—

tidak bisa dihalau.

Karena bukan dari luar.

***

—Laporan lagi, laporan lagi...—

—Astaga…—

—Kapan shift-ku selesai?—

—Pegal, hari ini pasien numpuk—

—Siapa yang tanggung jawab sama anak ini?—

—Dokter Nata yang handle, kan?—

—Kenapa dia belum datang?—

Satu suara. 

Dua suara.

Lima. 

Sepuluh.

Jumlah suara di kepalanya jauh lebih banyak daripada orang yang ada di ruangan.

Lihat selengkapnya