Arsya

Faeza Alfarizi
Chapter #6

Takdir

Sunyi kembali berkuasa begitu langkah kaki Kak Rajendra menghilang. Di dalam kamar yang kembali asing itu, waktu seolah berjalan melambat, sengaja membiarkan Arsya terjebak sendirian bersama isi kepalanya yang mulai berisik lagi. 

Arsya menyingkap selimut . Matanya menjelajah setiap sudut ruang rawat itu. Meski ranjangnya satu-satunya penghuni ruangan lapang, ruangan itu terasa menyempit—memenjarakan. Di dalam kungkungan itu, Arsya mencoba menggumamkan namanya sendiri. Berharap tidak ada yang mendengar, karena ia tak ingin dianggap aneh.

“Arsya… Arsya… Arsya…” gumamnya berulang-ulang. Nama itu adalah satu-satunya jangkar yang tersisa, sebuah mantra yang coba ia ikatkan pada dirinya sendiri di tengah kekacauan. Di samping bantal, cermin kecil pemberian Rajendra tergeletak; bingkai plastik berwarna biru yang polos. Momen saat Arsya meminta cermin kembali terlintas.

***

“Nanti sore, Dokter Nata akan mengunjungimu. Kamu tunggu sambil istirahat, ya? Kakak keliling dulu.”

Arsya menjawab dengan anggukan. Dia kira Rajendra langsung pergi. Ternyata dia belum beranjak. Arsya membuka selimut, mata mereka bertemu. Arsya melihat senyum Rajendra. Dan Rajendra melihat mata itu sudah tidak lagi dipenuhi waspada.

“Kamu butuh sesuatu?” tanyanya.

Arsya sempat terdiam. “Boleh pinjam cermin?” tanyanya cepat, lalu langsung menarik selimutnya naik lagi.

Rajendra mengangguk. “Boleh…” jawabnya. Dia kemudian menghilang sebentar dan kembali dengan cermin kecil berpigura plastik, tanpa bertanya. Seolah dia mampu menafsir alasan anak itu meminta.

“Kakak pergi dulu, ya?” ujarnya sambil meninggalkannya di samping Arsya. Arsya menjawab lewat anggukan dari dalam selimut.

***

Ia menatap benda itu lama, seolah benda itu adalah portal menuju sesuatu yang berbahaya. Tangan Arsya yang gemetar bergerak, meraih pigura itu.

Angkat.

Tiba-tiba tangannya membeku di udara. Gerakannya berhenti di tengah jalan.

Turunkan lagi. 

Jantungnya berdebar. Kenapa? Kenapa aku takut? Ini cuma cermin. Cuma kaca.

Tapi...

Ia memaksa dirinya. Cermin itu diangkat lagi. Sangat pelan, seolah permukaannya terbuat dari es rapuh. Salah gerakan, cermin itu pecah. Gerakannya terhenti-henti, lambat, sampai akhirnya permukaan kaca itu sejajar dengan wajahnya.

Seorang anak laki-laki menatap balik.

Mata itu besar, terlalu tajam, dipenuhi ketakutan. 

Perban putih melilit kepalanya. Ada bercak kuning di satu sisi—darah kering? Obat? Arsya menggeleng. Anak di cermin melakukan hal yang sama.

Pipinya cekung. Bibirnya pecah-pecah.

Lebam ungu samar terlihat di rahang.

Arsya mengangkat tangan kanan.

Anak di cermin mengangkat tangan kiri.

Arsya menyentuh pipinya.

Anak di cermin menyentuh pipi.

Tapi…

Itu bukan aku.

Apa… mungkinkah itu aku?

“Aku… aku seharusnya…”

Seharusnya apa?

Arsya tidak tahu. Tidak ada jawaban di kepalanya. Hanya kekosongan.

Dan wajah asing yang terus menatap balik.

"Ini... aku?"

Suaranya serak. Asing juga.

Jemarinya menyentuh kaca—dingin, keras, nyata.

Anak di cermin ikut menyentuh dari sisi lain.

Ujung jari mereka bertemu di permukaan kaca. Tapi tidak benar-benar menyentuh.

Ada jarak tipis. Transparan. Tapi tidak bisa ditembus.

Seperti... Anak itu ada di sana, dan dia ada di sini.

Dan mereka tidak bisa bertemu.

Cermin terlepas dari tangan.

Arsya menatap tangannya sendiri—tangan yang tadi memegang cermin.

Lima jari. Kuku pendek. Ada luka gores di pergelangan.

Ini tanganku.

Tapi rasanya bukan.

Seperti... seperti aku mencuri dari orang lain.

Napasnya mulai pendek.

Dadanya sesak.

Kepalanya berdenyut.

Namaku Arsya.

Aku Arsya.

Tapi... siapa Arsya?

Lihat selengkapnya