Arsya

Faeza Alfarizi
Chapter #7

Nama (Part 1)

Tidur siang Arsya terusik oleh suara yang saling bertabrakan di depan ruang rawatnya. Di kejauhan, bayangan dua orang dewasa berkelebat di balik kaca buram kamar VIP. Salah satunya mengenakan jubah putih, sementara pria dengan jas hitam di depannya bersikeras merangsek maju. 

“Minggir!” hardik pria berjas hitam. 

“Saya akan memanggil keamanan jika anda terus memaksa masuk,” sahut Dokter Nata.

Keduanya masih sibuk mempertahankan keinginannya masing-masing. 

“Saya hanya datang untuk memeriksa keadaan anak ini, atas permintaan Pak Aswan.” 

“Saya masih menjalankan tugas sesuai permintaan beliau. Anak ini masih membutuhkan perawatan. Kami tidak akan menerima intervensi apapun yang membahayakan kesembuhannya.”

“Membahayakan?” Arsya mengulangi kata itu dalam hati, kalau orang itu “Kalau cuma mau jenguk, kenapa bahaya?”

“Maaf sebelumnya,” Pria berjas hitam mengulurkan tangan. “Saya Nohan, utusan dari Pak Aswan. Setahu saya, Bapak Aswan meminta Anda memindahkannya? Kenapa dia masih di sini? Dia harusnya sudah tidak ada di sini,” 

“Itu bukan kesepakatan kami. Arsya akan berada di sini sampai dia benar-benar sembuh.”

Pak Nohan–pria berjas hitam belum mau mengalah. “Sepertinya ada kesalahan dalam pemahaman Anda. Saya akan bertindak sesuai perintah.” 

Arsya tidak mengerti seluruh artinya, tetapi nada membentak itu sudah cukup untuk membuat napasnya tercekat. Ia buru-buru menarik selimut tebalnya, menaikkannya perlahan sampai kain itu membungkus dahi. Dia menyisakan satu celah sempit di dekat pelipis, membiarkan matanya yang berair mengintip ke arah pintu yang kini terbuka lebih lebar. 

Pak Nohan mengambil posel dari saku. “Datanglah ke ruang VIP rumah sakit—”

Belum sempat Pak Nohan menyelesaikan kalimatnya, Dokter Nata dengan cepat menyambar ponsel, memutus panggilan sepihak.

“Apa peringatan saya kurang jelas?” Dokter Nata meninggikan suara. “Saya tidak akan mengizinkan intervensi yang membahayakan pasien saya, Pak Nohan.”

Kemudian suara lain dari Dokter Nata terdengar.

—Sepertinya kecurigaanku benar, sifat dermawan dan pengasih dari Pak Aswan cuma kedok dari sifat busuknya—

—Padahal semalam aku sudah menawarkan hal yang menguntungkannya, dengan membantu Arsya, mengapa dalam beberapa jam semua berubah?—

Arsya menyimak suara Dokter Nata. Aswan. Nama itu disebutkan lagi. Siapa dia? Apa dia mengenal Arsya? Kenapa dokter nata bilang orang itu bersifat busuk? Kalau dia busuk, kenapa Dokter Nata berkerja sama?

Belum sempat Arsya menemukan jawabannya, seakan ada sebongkah batu tak kasat mata baru dilemparkan tepat ke tengah dahinya. Kepalanya berdenyut menyengat, menyisakan rasa perih yang membuat pandangannya mendadak buram. Tangannya langsung terkepal kuat di balik kain, membantu menahan ringgikan yang nyaris lolos dari bibir. 

Pak Nohan mencoba menerobos ruangan lagi. Ponselnya masih digenggam Dokter Nata. Matanya langsung tertuju Arsya, sebelum akhirnya beralih ke Dokter Nata yang berdiri di sisinya, menggenggam gagang pintu, menghalangi jalannya.

“Dokter, saya ulangi—Pak Aswan ingin anak ini dipindahkan hari ini juga. Ke panti asuhan,” katanya tegas, tanpa basa-basi.

Memindahkan ke panti? sekarang? Kenapa? 

Jantung Arsya berdebar tak karuan. Kenapa harus pindah sekarang? Untuk bergerak saja rasanya sakit, artinya dia masih butuh di rawat. Kenapa harus pindah? Apakah karena kamar ini terlalu luas? Atau karena dia tidak punya uang untuk membayar obat-obatan yang menggantung di tiang besi itu? Siapa yang sebenarnya menyewa ruangan ini untuknya? Tidak mungkin uang itu milik Arsya sendiri. Apakah dari keluarganya? dari Kakeknya yang harus dia cari? 

Dokter Nata bergerak cepat, merentangkan tangan untuk menghalangi jalan pria berjas hitam, tetapi pundaknya terdorong mundur. Langkah kaki pria itu tidak bisa ditahan.

“Saya hanya menjalankan tugas. Pindahkan dia. Sekarang.”

Dokter Nata mendekat “Urusan saya adalah nyawa pasien. ”

Dia menoleh sekilas ke arah Arsya yang dia kira masih tidur “Arsya belum stabil. Pendarahan di kepala dan amnesia masih menjadi ancaman. Satu gerakan salah, nyawanya yang jadi bayaran. Apa Anda mau mengambil risiko itu?”

“Dia harusnya sudah tidak ada di sini, Anak itu. Maksud saya.” desak pria berjas lagi

Isi kepala Arsya makin semrawut. Pikiran dan obrolan orang dewasa di sekitarnya tidak bisa dia saring. Saling berjejalan meminta Arsya untuk segera paham. Siapa mereka? Mengapa mereka membicarakan dirinya? Apa maksud mereka dengan “dia harusnya sudah tidak ada di sini?”

“Dokter… saya tahu Anda peduli padanya,” dagu pria itu menunjuk Arsya. “Bos saya punya agenda sendiri dengan anak ini. Jika anda ingin selamat, biarkan saya membawanya.” ancam pria berjas

–Dia akan dilenyapkan, jika identitasnya terungkap. Kalau aku terlambat menyembunyikannya. Semua tidak akan selamat —

Kata-kata Pak Nohan membuat bulu kuduk Arsya berdiri. Melenyapkan.

Kata itu bergema di kepala Arsya.

Lihat selengkapnya