Arsya

Faeza Alfarizi
Chapter #8

Nama (Part 2)

Arsya menutup diri rapat-rapat di balik selimut. Sepertinya dokter Nata masih di sampingnya. Dia mencoba tidak bersuara, namun akhirnya membuka obrolan.

“Nak, dengarkan Dokter sebentar, ya?” ujarnya pelan. Tapi Arsya menggeleng dari dalam benteng kainnya.

“Arsya…” panggil Dokter Nata. Ia membiarkan jeda beberapa detik, berharap ada jawaban.

“Arsya…” Ia memanggil lagi, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.

Panggilan itu terus datang, hanya di jeda beberapa saat. Nadanya rendah, mungkin menyesal. 

“Bohong! Dokter bohong!” seru Arsya dari balik selimut. 

“Maaf, ya, Nak,” ujar Dokter Nata dengan suara tulus. “Dokter ada di sini deh. Dokter enggak akan pergi. Boleh ya, kita ngobrol kalau kamu udah tenang?”

Suara kursi terdengar bergeser pelan di lantai. Lalu hening. Ruangan itu hanya terisi desah AC, dan suara jam di dinding. 

—Tunggu…—

Suara dari pikiran Dokter Nata terdengar oleh Arsya saat mengintip. Bocah itu mengencangkan genggaman pada selimut. Dokter Nata masih menunggunya, tapi sengaja tetap diam.

—Jangan panggil dulu, Nata. Biarin dia tenang dulu!—

Kenapa Dokter Nata tidak pergi saja? 

Apakah boleh membiarkan orang dewasa terus meminta maaf? 

Apa Arsya salah jika dia tidak ingin membuka selimut? 

Memangnya sopan bersikap seperti ini?

“Sudah tenang?”

Arsya masih tidak ingin menjawab, tapi di dalam kelamaan menjadi panas. Tidak nyaman.

“Sudah puas menangis?” tanya Dokter Nata

Perlahan, selimut itu terbuka, menampakkan wajah Arsya yang basah kuyup oleh jejak tangis. Tak menunggu air mata itu menetes lagi, Dokter Nata segera mengulurkan tangan.

Arsya menutup mata rapat-rapat. Refleks, tubuhnya tegang. Di balik kelopak, bayangan tangan orang dewasa yang menyakitinya terlintas. Dokter Nata juga orang dewasa. Sebelumnya Arsya tidak mau mendengarkannya. Apa Dokter Nata juga marah? Namun, yang menyentuhnya bukan pukulan, justru sebuah usapan menenangkan di pipi. Begitu matanya terbuka kembali, Dokter Nata tetap di tempatnya—wajah teduh, tanpa kerutan cemas di alis, mata yang melotot. Hanya tersenyum dengan pikiran khawatir. 

“Kamu pasti ketakutan sekali,” bisiknya, sambil menyelipkan tisu lembut ke tangan Arsya. “Bangun di ruang asing, tanpa kenal siapa-siapa… bahkan kamu lupa siapa namamu.”

Dokter Nata kembali menyeka sisa air mata Arsya, kali ini menggunakan tisu.

—Apa sebelumnya ada kejadian yang membuatnya takut disentuh?—

“Pasti badanmu terasa sakit, kan?” lanjutnya, matanya tertuju pada selang infus di lengan Arsya. “Tanganmu berat, ada alat-alat yang menempel… Tapi lihat,” jarinya menunjuk pergelangan tangan Arsya, “sebagian sudah bisa dilepas. Itu artinya, kamu mulai pulih.”

Diam. Dokter Nata mengatakan banyak hal. Intinya dia khawatir, dan mencoba menenangkan Arsya. Suara Dokter Nata lembut, tidak menghakimi. Memberi jeda, ruang aman yang Arsya butuhkan. 

“Dokter…” 

Dokter Nata tersenyum. “Iya, Nak…”

“Aku… apa aku enggak boleh di sini lagi?”

—Dia masih terbayang ancaman Nohan?–

–Bodoh. Jelas dia masih terpikir omongan itu. Siapa yang bisa langsung melupakannya?—

“Iya, kan?” tanya Arsya lagi, suara seraknya bergetar. “Aku… harus pergi?”

Dokter Nata terdiam. Tidak ada gelombang pikiran yang bocor darinya. Arsya menatap lekat-lekat garis wajah itu. Tidak ada gelengan. Tidak ada bantahan. Baginya, keheningan orang dewasa adalah sebuah  anggukan persetujuan.

“Dokter Nata nggak nolak.”

“Dia cuman diam. Artinya aku benar.”

“Kalau aku salah pasti Dokter Nata bilang ‘enggak’ dari tadi.”

“Berarti benar…” putus Arsya tiba-tiba.

Genangan hangat memadati pelupuk mata Arsya, pandangannya sempat kabur sebentar, kemudian fokusnya terkunci pada botol infus yang menggantung di tiang besi. Tetes demi tetes cairan di sana mengalir. Obat itu sedang bekerja menyembuhkannya. Tetapi sembuh sekarang berarti bahaya. 

Suara Pak Nohan kembali terdengar

...dia akan dilenyapkan.

Tubuhnya gemetar. Selang ini harus pergi. Obat itu harus berhenti masuk. Itu satu-satunya jalan agar dia tidak sembuh. Tidak sembuh masih lebih baik daripada dilenyapkan.

Di sini pasti ngabisin banyak waktu mereka.

Bikin repot. Bikin marah.

Pastinya di sini ngabisin banyak uang.

Pak Nohan bilang dia di sini artinya bahaya.

Arsya hanya ingin menghilang dari daftar masalah orang-orang ini. 

Arsya menggigit bibir bawahnya. Tangan kirinya bergerak gemetar mendekati selang infus. “Kalau gitu… ya udah. Enggak usah diobatin,”  gumamnya.

Lihat selengkapnya