Arsya

Faeza Alfarizi
Chapter #9

Janji

“Jari kelingking kami saling kait. Janji itu mungkin remeh, tapi untukku... itu lebih besar dari dunia yang ingin meniadakanku.”

__Arsya Abiseka G


“Nggak mau…” 

Nata terperanjat dari kantuknya karena rintihan Arsya. Kesadarannya yang sempat melayang langsung terkumpul penuh. Tanpa membuang detik, tangannya bergerak cepat mengusap lengan kurus Arsya yang sedang mencengkram erat selimut rumah sakit. Ajaib, bocah itu kembali terlelap—napasnya stabil.

Mengetahui pasiennya aman, atensi Nata bergulir ke atas nakas. Tas jinjingnya sudah siap di sana, bersanding dengan kunci kontak mobil. Logikanya menyuruhnya pulang karena jam kerjanya sudah usai. Namun, Nata memilih bergeming di kursinya.

Jarum jam bahkan belum menyentuh angka dua belas malam, baru pukul sebelas lewat sedikit. Tapi Arsya sudah empat kali terbangun dengan ketakutan yang sama dalam beberapa jam terakhir. Nata rasa dia tidak akan bisa menyetir dengan tenang jika meninggalkan bocah ini sekarang. 

Nata kembali bersandar di kursi, setelah memastikan Arsya benar-benar tenang dalam tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar—putih, polos. Tapi bagi Nata, langit-langit itu menjadi layar proyeksi untuk kekacauan dalam pikirannya. Semua berporos pada bocah di hadapannya: Arsya .

Bagi Nata, nama itu bukan nama yang pasti. Hanya titipan dari Pak Aswan yang panik saat menggotong tubuh ringkih itu masuk. ‘Arsya! Namanya Arsya!’ teriaknya waktu itu.

Tapi siapa sebenarnya Arsya?

Dokumen? Tidak ada.

Ingataanya? hilang, terhapus oleh benturan keras yang membuat kepalanya mengalami pendarahan internal.

Dari posturnya, Nata menebak usia Arsya tak lebih dari delapan tahun. Dan di usia itu, anak yang baru terbangun dalam kondisi luka seharusnya akan menangis, menjerit, memanggil ibunya, meracau meminta pulang, atau meminta lukanya diberi obat ajaib yang hilang dalam sekali ucapan.

Tapi apa yang Arsya lakukan?

Diam. Menyusut di bawah selimut, seperti ingin menghilang sepenuhnya dari dunia.

Saat ia mencoba menyeka air mata Arsya. Anak itu menahan napas, menutup mata erat-erat. Bukan karena perih. Tapi seperti sedang bersiap menerima makian atau tamparan.

Refleks itu bukan berasal dari rumah sakit. Tapi dari luka yang lebih dalam, yang tertanam di tempat lain.

Nata penasaran, mencoba mengujinya dengan menawarkan hal-hal menyenangkan—bermain, membaca buku, makan es krim. Tapi Arsya hanya bicara tentang satu hal: mencari Kakek.

Bahkan saat ditanya siapa Kakeknya, ia tidak tahu. Dan Nata menyadari sesuatu.

Anak ini tidak sedang punya keinginan…

Tapi sedang mencari pilihan paling tidak merepotkan.

Nata mengembuskan napas pelan. Ia tahu, luka fisik bisa dijahit dan ditangani sesuai protokol medis. Tapi trauma… trauma butuh ruang. Butuh waktu. Butuh kepercayaan.

Arsya sejak awal tidak datang membawa satupun dari ketiganya.

Arsya butuh pengamanan. Tapi juga kebebasan.

Keseimbangan yang mustahil… jika dijalani sendiri.

Nata menggeser tubuhnya dari kursi, menatap layar ponsel dalam diam. Ibu jarinya menggulir ke dua nama yang selama ini bekerja paling dekat dengannya: Alin dan Rajendra.

Aku ingin berdiskusi tentang pasien kita. Ini di luar urusan medis. Kalau kamu berkenan, aku mau mintamu.

Nata meletakkan ponselnya. Pandangannya kembali jatuh pada bocah yang akhirnya bisa tidur lebih tenang.

Besok pagi, mungkin semuanya masih sama.

Arsya masih lupa.

Masih ketakutan.

Masih mencari Kakek yang bahkan wajahnya sendiri tidak ia ingat.

Tapi untuk malam ini…

Setidaknya anak itu tidak perlu menghadapinya sendirian.

***

Ponsel Alin di ruang istirahat perawat bergetar, menampilkan sebaris nama yang jarang sekali muncul di jam giliran jaga malam: Dokter Nata. 

“Dokter Nata minta ketemu?” Alin membaca ulang baris kalimat yang dikirimkan sang dokter.

Aku ingin berdiskusi tentang pasien kita. Ini di luar urusan medis. Kalau kamu berkenan, aku mau mintamu.

Ibu Jari Alin tertahan saat hendak membalas, mencoba mencari alasan tepat mengapa Dokter Nata terburu-buru. Namun, satu nama langsung terpikirkan oleh Alin. “Arsya?” Ia segera menganggukan kepala. “Besar kemungkinan dia.”

Pandangan Alin bergulir ke sudut nakas, tertuju pada paper bag cokelat. Di dalamnya, sebuah toples kaca kecil dengan label tulisan tangannya—Jar Ingatan. 

Alin tahu persis bab pertama dalam buku panduan etika rumah sakit: jarak profesional antara petugas medis dan pasien adalah mutlak. Melewatinya adalah kesalahan. Namun, ingatan tentang tatapan kosong bocah itu, ditambah kenangannya saat pertama kali melihat Arsya tersadar membuat jemarinya tanpa sengaja terkepal. "Kalau sampai Dokter Nata ngajak ngobrol malam-malam..."  

“...berarti serius." Alin segera memasukan ponselnya ke dalam saku.

Langkah Alin tertahan, saat hendak berbelok ke arah lorong VIP. seragam biru langit yang familier muncul dari balik belokan. Rajendra. Bahu pria itu tampak sedikit turun, tanda kelelahan dari giliran jaga malam.

“Jendra, udah selesai keliling?”

Rajendra menoleh. “Iya, baru mau balik ke ruang istirahat. Kenapa, Lin? Muka kamu tegang banget.”

Alin tidak membalas gurauan itu. Dia melangkah lebih dekat. “Ikut aku sebentar. Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan apa?” Alis Rajendra bertaut.

“Ingat anak yang waktu itu kamu ceritain? Yang dirawat di kelas VIP.”

“Arsya? Pasiennya Dokter Nata, kan?”

Alin mengangguk cepat. "Dokter Nata baru saja menghubungiku. Dia minta ketemu buat diskusi. Firasatku ini bukan soal medis biasa. Kamu... keberatan kalau ikut masuk?"

Rajendra bergeming, menatap Alin lekat-lekat, “Kayaknya ini bukan urusan dinas biasa, ya?”

“Lebih dari itu. Anak itu kesangkut masalah yang... rumit.” Alin memutus kalimatnya. Matanya bergerak liar menyusuri koridor sepi, memastikan meja perawat di ujung sana kosong dan tidak ada langkah kaki lain yang mendekat. Dia memberi isyarat kecil dengan dagunya, meminta Rajendra merunduk sedikit.

Ketika jarak mereka menipis, Alin berbisik tepat di dekat telinga pria itu, suaranya nyaris habis tergerus udara malam. “Ini baru dugaanku. Tapi... orang yang menabrak anak itu? Aku curiga dia bukan orang sembarangan di rumah sakit ini.”

Punggung Rajendra seketika terasa kaku dibawah telapak tangan Alin. “Maksudmu, pihak yang waktu itu—”

“Ssst.” Alin menempelkan telunjuknya di depan bibir, matanya kembali menyapu pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. “Jangan keras-keras.”

Mereka berjalan dalam diam di depan pintu kamar Arsya. Lampu indikator di atas kusen berpijar kuning redup. Alin menahan telapak tangannya di atas gagang pintu, menatap Rajendra untuk memberi pria itu kesempatan terakhir untuk berbalik jika tidak ingin terlibat.

“Obrolan di dalam nanti bakal seputar itu, Jen. Kamu masih mau nemenin?”

Rajendra mengembuskan napas pendek dari hidung, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Kita lihat di dalam. Kalau aku bisa bantu, aku bantu. Andai nggak ada yang bisa aku bantu. Aku bakal pura-pura nggak tau.”

Alin tersenyum lega. "Makasih, Jen."

Setelahnya Alin mengetuk. Dokter Nata sempat terkejut karena yang datang tidak hanya Alin, melainkan Rajendra ikut bersamanya.

“Loh, Pram…”

“Iya nih, Dok. Maaf saya ngintilin Alin, soalnya penasaran sama kabar anak yang pernah saya temuin.”

senyuman tipis, mencoba menyalurkan sinyal lewat tatapan mata bahwa kehadiran Rajendra malam ini bukan untuk mengacau. Jika arah pembicaraan ini memang serumit dugaannya, bergerak berdua jauh lebih aman.

Dokter Nata menghela napas pendek, “Ah, okey silakan masuk.”

***

Ruang rawat Arsya mendadak berubah menjadi ruang rapat rahasia. Lampunya sengaja diredupkan, tiga orang dewasa duduk saling berhadapan dalam keheningan yang bukan semata karena sunyi malam—tapi karena masing-masing menyadari mereka sudah melangkah ke wilayah abu-abu.

“Aku nggak bisa jelasin panjang lebar. Tapi aku pikir butuh bantuan kalian,” Dokter Nata memulai pembicaraan.

Rajendra mencondongkan tubuhnya ke depan, “Kalau saya boleh tahu bantuan seperti apa yang dokter Nata harapkan dari kami?” 

“Dok, ini soal Arsya, kan? Ada yang terjadi waktu Dokter visit ke sini tadi?” 

Dokter Nata memijat tengkuknya perlahan, “Benar, Lin. Ada yang nggak beres. Dan aku nggak bisa ngawasin anak itu sendirian,” Dokter Nata menatap Alin dan Rajendra bergantian, “Diantara kalian ada yang pernah ketemu sama Pak Aswan?”

Alin dan Rajendra menggeleng bersamaan 

“Tadi salah satu bawahannya datang,” lanjut Dokter Nata, “Dia Bikin aku nggak tenang.”

“Maksud dokter dia mencurigakan, di bagian mana, Dok?”

“Awalnya, begitu tahu Arsya mengalami amnesia retrograde akibat benturan, Pak Aswan secara personal menyampaikan lewat telepon bahwa dia yang akan menanggung semua biaya sampai anak ini pulih, baru kemudian diserahkan ke dinas sosial. Kedengarannya bersih, kan?” Dokter Nata menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam. “Tapi siang tadi bawahannya justru memaksa dia segera di pindahkan. Anehnya, dia terlihat ketakutan.”

Lihat selengkapnya