—Jadi ini dampak kunjungan kemarin?—
—Anaknya sampai ketakutan gini. Aku panggil dia bakalan tambah takut enggak ya?—
Suara yang Arsya dengar dari pikiran orang di sampingnya lembut, sedikit bimbang, dan sama sekali tidak memiliki nada dingin seperti milik pria berjas hitam. Arsya mengenalinya. Itu suara Kak Alin.
Perlahan, Arsya menurunkan ujung selimutnya melewati batas mata.
Cahaya pagi kamar VIP langsung menyergap pandangannya, menampilkan sosok perawat berwajah ramah yang sedang berdiri dengan kedua tangan bertumpu di tepi ranjang. Cengkeraman Arsya pada kain sprei berangsur mengendur.
“Kakak ganggu kamu istirahat, ya?” tanya Kak Alin, memundurkan tubuhnya selangkah demi memberi Arsya ruang untuk bernapas.
Arsya menggeleng, menyembunyikan separuh wajahnya di balik bantal yang agak miring. “Enggak kok, udah bangun dari tadi.”
“Kamu terkejut ya, Kakak masuk tiba-tiba?”
Arsya mengangguk.
“Okey, besok-besok Kakak kasih isyarat khusus kalau mau masuk, ya?” Kak Alin mengangguk juga. “Besok, Kakak kasih isyarat kalau masuk, ya?” Tangannya terangkat, mengetuk-ngetuk udara kosong. “Tok, tok… tok, tok… Kak Alin bakal ketuk dengan nada persis kayak gitu. Okey?”
Arsya mengernyit “Kenapa harus ketuk begitu?”
“Biar kamu tahu itu Kak Alin, jadi nggak perlu sembunyi di balik selimut lagi kayak tadi,” jawabnya sembari melempar senyum jenaka.
Arsya kembali mengangguk. Di dalam hatinya, ada rasa aneh yang menggelitik. Dia tidak menyangka ada orang dewasa yang mau repot-repot menciptakan kode ketukan pintu hanya untuk anak kecil sepertinya. Namun, rasa aneh itu justru memancing sesuatu yang hangat di dalam perutnya, membuat sudut-sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas secara otomatis.
“Ish, kamu ganteng banget kalau senyum begitu. Kak Alin suka lihatnya.”
Pujian itu seketika mengunci senyum Arsya. Kedua pipinya mendadak menyengat panas, memaksanya melempar pandangan ke arah jendela. Dia tahu Kak Alin hanya sedang menggodanya, tetapi rasa hangat di wajahnya tetap saja menolak turun.
“Oh iya, sebelumnya Kak Alin janji mau bawa hadiah, kan? Nih, Kakak tepati janjinya.” Kak Alin menyodorkan sebuah paper bag cokelat berukuran sedang ke depan dada Arsya.
Arsya tidak terlalu berharap banyak pada isinya, tetapi tangannya tetap terjulur sopan untuk menerima tali tas kertas tersebut. “Terima kasih, Kak Alin.”
“Sama-sama, Ganteng. Ayo dibuka, Kakak mau lihat kamu suka atau enggak.”
Arsya membuka lipatan tas, memasukkan tangan kecilnya, dan mengeluarkan sebuah toples kaca bening. Di sekeliling permukaannya, ada hiasan berbentuk bintang-bintang kecil yang disusun melingkar. Di sela-sela gambar bintang itu, ada sebaris tulisan tangan yang rapi. Arsya memicingkan mata, mengejanya dengan pelan. “Ja... jar ingatan.”
“Benar sekali! Itu hadiah dari Kakak.”
Arsya membolak-balik toples, bingung. Isinya kosong kosong—tidak ada kue kering, tidak ada permen cokelat, bahkan tidak ada mainan di dalamnya. Sepengetahuannya, sebuah hadiah harusnya berisi sesuatu yang bisa dimakan atau dimainkan.
Tepat saat Arsya menatap dasar toples yang hampa, ia menangkap suara dari benak Kak Alin:
—Kayaknya dia kecewa, karena toplesnya kosong. Wajahnya langsung ditekuk gitu.—
Arsya tersentak. Dia buru-buru menghapus raut bingung di matanya agar tidak menyinggung perasaan orang baik di depannya.
“Kosong, ya?” tanya Kak Alin kemudian, nadanya terdengar menahan tawa. “Kamu nggak mau tanya kenapa Kakak kasih toples yang nggak ada isinya?”
Arsya menggeleng cepat, merapatkan toples itu ke dekapannya. “Toples juga barang bagus, boleh jadi hadiah walau kosong. Nanti… nanti bisa buat tempat menyimpan sesuatu.”
“Nah… tepat sekali! Memang itu tujuan Kakak biarkan toples ini kosong.” Kak Alin menjentikkan jarinya gembira.
“Untuk tempat sesuatu?” Arsya memiringkan kepalanya, mulai penasaran.
“Kamu bisa tebak?”
Arsya berpikir sejenak, menatap kamarnya. “…Bunga?”
Kak Alin menggeleng mantap.
“Kue?” tebak Arsya lagi, berharap tebakannya kali ini bisa memancing Kak Alin mengeluarkan stoples kue sungguhan dari balik sakunya.
“Kurang tepat,” ujar Kak Alin sambil terkekeh pelan.
Bersamaan dengan tawa itu, sebaris petunjuk kembali melesat masuk ke kepala Arsya:
—Ayo Arsya, tebak lagi. Aku udah kasih clue besar di badan toplesnya.—
Arsya kembali memutar wadah kaca di tangannya, membaca ulang tulisan Jar Ingatan. Kenapa diberi nama seperti itu? Memangnya ingatan bisa dimasukkan ke dalam toples kaca? Bagaimana caranya?
“Arsya menyerah? Nggak bisa tebak jawaban yang paling tepat?” Kak Alin tertawa kecil, suaranya ringan. Pikirannya dipenuhi sesuatu yang hangat—rasa gemas pada tingkah Arsya yang selalu lucu menurutnya.
Arsya akhirnya mengangguk pasrah, meletakkan kembali toples itu di atas kasur.
Kak Alin tertawa kembali, tangannya bergerak gemas mengusap puncak kepala Arsya yang bebas dari perban. “Nanti… isi toples ini harus sesuai sama namanya. ‘Ingatan’ itu yang bakal kita masukkan ke dalam sini.”
Arsya masih menatap Kak Alin dengan sepasang mata yang mengerjap heran.
“Okey, karena kamu bingung, kita langsung praktik saja sekarang.” Kak Alin merogoh saku seragam perawatnya, mengeluarkan beberapa lembar notes kecil berwarna-warni dan meletakkannya di atas selimut. “Arsya suka warna apa? Pilih satu.”
Arsya menjatuhkan pilihan pada warna biru laut, sementara Kak Alin mengambil selembar kertas berwarna hijau pucuk daun. Bolpoin hitam disodorkan kepada Arsya.
“Sekarang, coba Arsya tulis satu hal saja yang Arsya ingat hari ini.”
Arsya terdiam, memandang ujung pulpennya yang runcing. Ingatannya tentang dirinya sendiri sangat sedikit. Hanya ada dua hal: namanya sendiri, dan tugas besar untuk mencari Kakek. Namun, menuliskan nama rasanya jauh lebih singkat dan tidak akan membuat jemarinya yang masih kaku menjadi cepat lelah.
“Apa saja boleh, Kak?”
“Iya, apa pun yang mendadak muncul di kepalamu.”
“Nama?”
“Nggak masalah, boleh banget. Kak Alin juga mau menulis sesuatu yang hampir Kakak lupakan hari ini.” Kak Alin bersiap dengan pulpennya sendiri, lalu menatap posisi duduk Arsya yang masih tampak membungkuk tidak nyaman. “Oh iya, Kakak bantu biar punggungmu nggak pegal.”
Kak Alin beralih ke panel kendali di samping ranjang. Bersamaan dengan bunyi dengung mesin elektronik yang halus, bagian atas tempat tidur Arsya perlahan terangkat naik, menopang punggungnya dalam posisi bersandar yang sempurna.
“Arsya, ini bukumu?” tanya Alin sambil menunjukan buku yang sempat jatuh.
“Iya, tadi jatuh.”
“Okey, Kakak taruh di sini ya?” ujar Kak Alin sambil meletakannya di samping Arsya. Kak Alin kemudian memindahkan bantal sebagai alas menulis Arsya.