Arti Cinta Sang Penguasa Gelap

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Kesepakatan Sang Penguasa

Bismillahirrahmanirrahim…

Titah baru saja keluar dari kamar mandi. Dari lantai atas, ia mendengar samar suara percakapan di bawah. Di depan cermin, ia merapikan penampilan—siap berangkat kerja. Suara di bawah perlahan terdengar jelas; ia mendengarkan sambil berdiri di balik dinding luar kamarnya.

“Kau pikir harga nyawaku setara dengan putrimu, Pak Lukman?”

Kalimat tajam meluncur dari bibir seorang pria tampan. Ia duduk santai namun penuh wibawa, kaki kanan disilang di atas kaki kiri. Punggungnya bersandar di sofa yang terasa terlalu murah dan tak pantas untuknya. Asap rokok mengepul memenuhi ruang, sementara tatapan mematikan ia tujukan pada lelaki tua di hadapannya.

“T-tentu saja t-tidak, Tuan. Hanya saja… tak ada yang bisa saya tawarkan selain putriku,” jawab Pak Lukman terbata‑bata, sesekali melirik dengan ragu. “L-lagipula, Putriku sendiri yang menginginkan…”

Ucapannya terputus saat terdengar tawa dingin yang penuh penghinaan.

“Lalu apa aku punya kewajiban menerimanya? Ingat, Pak Lukman—aku tak kekurangan apa pun… termasuk perempuan,” tegasnya dingin.

Suasana mendadak hening dan mencekam. Semua saling bertukar pandang, tak tahu harus berkata apa. Namun keheningan itu buyar saat suara langkah kaki terdengar jelas di telinga Afgan.

Gerakan tangannya yang sedang memainkan korek api terhenti. Tatapan tajamnya perlahan beralih menatap sosok yang baru saja menuruni tangga.

“Sepertinya aku berubah pikiran, Pak Lukman.” Afgan tersenyum miring. “Aku terima tawaranmu… tapi aku mau dia yang menikah denganku!”

Semua mata tertuju pada sosok yang ditunjuknya.

Titah menatap bingung—tak mengerti mengapa pria yang baru pertama kali dilihatnya itu menunjuk dirinya.

“Tapi… Tuan, dia bukan putriku! Dia hanya keponakanku,” protes Pak Lukman dengan nada panik.

“Aku tak peduli. Dia… atau kalian semua membayarnya dengan nyawa!” ancam Afgan tanpa ragu.

Lelaki edan! geram batin Titah, menyadari hidupnya tiba‑tiba terikat pada pria gila itu.

Afgan dan Titah saling bertatapan. Justru ia tersenyum saat menerima tatapan tajam gadis itu.

“Aku beri waktu… Malam ini, aku tunggu jawabannya.”

“Tunggu, Tuan!” Titah menyela lembut namun tegas.

“Apakah pendapatku tak berarti saat Anda menunjuk orang asing dan memintaku menikah?” lanjutnya dengan berani.

Menarik.

Afgan berdiri, berjalan perlahan mendekati Titah yang rambut panjangnya terurai indah.

“Tentu saja berarti. Tapi aku tak bertanya, karena aku sudah tahu jawabanmu.”

Titah menghela napas panjang, tangannya mengepal erat di gagang tas.

“Anda yakin aku akan menolak? Aku bukan barang yang bisa Anda miliki sesuka hati!”

Senyum miring kembali terlukis di bibir Afgan. Ia mendekatkan wajahnya hingga hampir menyentuh telinga Titah.

“Kau pikir bisa menolakku? Akan kubuktikan: apa yang kuinginkan, pasti menjadi milikku,” bisiknya penuh percaya diri.

Titah mengeratkan rahang, menahan amarah yang meluap. Ingin rasanya ia menampar wajah sombong—namun sayang, tampan itu.

Afgan perlahan menjauh, kembali menatap Pak Lukman dan keluarganya. “Kuharap kau tak mengecewakanku, Pak Lukman.”

Sebelum pergi, ia melirik Titah dan tersenyum—senyum yang terasa beda dari sebelumnya.

Pria itu pun melangkah keluar meninggalkan rumah.

Senyumnya… aneh! batin Titah.

Kata‑kata terakhir Afgan terasa bagaikan pisau yang teracung, siap menusuk kapan saja. Ancaman itu membuat mereka bingung—terutama mengingat Livia, putri Pak Lukman, begitu menginginkan Afgan.

“Paman, sebenarnya ada apa?” tanya Titah, tetap berdiri di hadapan pamannya.

“Titah… sepertinya Tuan Afgan tertarik padamu. Bisakah kau membujuknya supaya menikahiku saja? Aku yakin ketertarikannya padamu hanya sebentar,” ucap Livia.

Titah memutar bola mata jengah—sekali lagi disindir halus.

“Kalau kau begitu percaya diri, kenapa tak bicara langsung pada lelaki gila itu?” jawab Titah tegas.

“CUKUP, TITAH!” bentak Pak Lukman. “Jaga bicaramu. Kau mau kita mati muda? Tuan Afgan adalah penguasa di negeri ini!”

“Penguasa yang gila.”

“TITAHHH!” teriak wanita yang duduk di samping pamannya—bibinya, memperingati keras‑keras.

Titah tak peduli. “Paman takkan menjelaskan alasannya padaku?” tanyanya lagi, berusaha tetap tenang meski menahan emosi.

Pak Lukman hanya diam.


Titah mengembuskan napas kasar. Ia memilih pergi—tahu takkan mendapat jawaban yang diinginkan.

“Kalau bukan gila, kenapa tunjuk wanita asing untuk dinikahi? Apa aku barang lelang, diacung tangan langsung jadi miliknya?” gumamnya sepanjang jalan. Langkahnya berat dan kasar. Kesal makin bertambah mengingat sindiran sepupunya tadi.

“Ibu sama anak sama saja… Padahal aku jauh lebih menarik,” tambahnya dalam hati, menyindir balik di belakang mereka.

Langkahnya terhenti saat sosok besar menghalangi jalan.

“Nona, Tuan ingin berbicara dengan Anda.”

Titah mengintip dari balik tubuh kekar itu, menuju mobil mewah yang ditunjuk pria berjas hitam. Tanpa kata, ia mengikuti dan masuk saat pintu dibukakan.

“Sepertinya kita perlu berkenalan. Namaku Afgansyah Reza Adhitama, umur…”

“Cukup, Tuan!” potong Titah tegas.

Lihat selengkapnya