Aruna & Musim Terakhirnya

MANDA TIARA SANI
Chapter #1

PROLOG

Ada alasan kenapa aku membutuhkan waktu lama untuk menuliskan cerita ini. Bayangkan saja, bagaimana bisa aku menceritakan seseorang yang bahkan sangat sulit untuk kupahami. Setiap kata yang kutuliskan disini rasanya seperti menggaruk luka yang masih basah. Padahal ini baru permulaan, tapi rasanya aku membawa kalian pada halaman terakhir buku yang endingnya sangat menyedihkan.

Ceritanya akan sangat panjang.

Perlahan, aku menarik napasku dalam-dalam. Melirik sekilas kearah ponsel yang tergeletak persis di sebelahku. Wallpapernya belum kuganti, masih gambar aster putih pemberiannya. Aku sendiri yang memotretnya beberapa tahun lalu, kemudian menjadikannya sebagai wallpaper handphone-ku. Bahkan sampai hari ini.

Mungkin semuanya bisa dimulai dari sini. Dari halaman pertama yang tidak pernah berharap apa-apa padaku. Sebenarnya aku sangat takut. Takut akan membuka luka yang sudah terbungkus rapat-rapat. Lalu, takut pada semua rasa yang akan muncul ketika aku mulai menuliskannya. Tapi, ini juga bukan hanya tentangnya. Melainkan perasaanku yang tak pernah ia lihat. Atau mungkin...ia melihatnya, namun memilih untuk pura-pura tidak tahu.

Namanya Altair. Pria yang tak pernah bisa memahami dirinya sendiri.

Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Mungkin, ini salah satu hal yang membuatku sangat ingin menuliskannya. Bukan untuk mengingatnya, melainkan untuk kembali memahami apakah ia pernah benar-benar mencintaiku, atau aku hanya sekadar lampu yang memberinya penerangan ketika ia tersesat di tengah hutan.

“Aruna.” Aku menoleh. Menghentikan sejenak aktivitasku dengan laptop tua ini. Itu suara Ibu. Beliau datang dengan beberapa tumpukan baju yang sudah terlipat rapi. Bisa kupastikan itu adalah bajuku.

“Ibu bikin bolu pisang.”

Lihat selengkapnya