Hari ini jadwalku lumayan senggang. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum kelas selanjutnya dimulai. Aku lebih memilih duduk di tepi danau kampus sambil mencoret-coret buku catatanku. Itu adalah tempat favoritku. Kebetulan cuaca hari ini sangat bersahabat, tidak panas, tapi juga tidak mendung.
“Apa itu, aku boleh lihat?”
Belum juga kujawab pertanyaannya, tapi ia langsung saja merebut buku catatanku. Memangnya boleh seperti itu? Kalau saja ia bukan Altair, aku pasti sudah marah.
“Kembaliin, Al,” ujarku.
Kedua matanya masih sibuk menatap kertas itu. Mulutnya tertawa, tetapi tawa itu jelas-jelas terdengar seperti mengejek gambarku, bukan memujinya. “Bagus kok, Na.”
“Kamu pasti kecewa. Gambarku jelek.” Tanpa sadar bibirku mengerucut kesal.
“Iya, jelek.” Tawanya benar-benar pecah, sedangkan tangannya mulai mengacak-acak rambutku.
“Nyebelin,” balasku sambil merebut buku bersampul merah muda itu dari tangannya.
“Lagian yang kamu gambar cuma bunga tanpa pot dan bentuk hati doang.”
“Ya, kan itu putri malu!” protesku.
“Masa? Kok kelihatannya kayak coretan doang,” ucanya masih dengan nada mengejek.
“Yaudah sih, gausah dibahas mulu!”
Ia menarik tangan kananku, senyumnya merekah sempurna, kali ini aku nyaris terhipnotis. Altair benar-benar definisi lelaki yang sulit ditebak. Padahal belum ada lima menit yang lalu ia baru saja mengejekku mati-matian. Sekarang ia berubah sangat manis.
“Na,” katanya.
“Hmm?”
“Kenapa kamu suka tempat ini?”
“Gaada alasannya, sih,” jawabku.
“Bohong!” Ia mencubit pipiku, membuatku refleks mengelus tempat yang dicubitnya. “Setiap kali aku cariin kamu, pasti kamu ada disini.”
“Coba aku tanya balik ke kamu, kenapa kamu menyukaiku, Al?”
“Ya, karena kamu adalah kamu.”