“Naaa…” Suara itu berhasil menarikku keluar dari sekeping ingatan yang entah mengapa masih terasa begitu jelas. Aku mendongak, dan mendapati Bima sudah berdiri di depanku bersama dua gelas es cokelat yang ditentengnya.
“Kamu bengong lagi,” katanya sembari menyodorkan minuman itu kepadaku.
“Nggak, aku cuma lagi mikirin deadline kerjaan yang harus selesai besok.”
“Beneran?”tanyanya ragu. “Aku udah panggil kamu tiga kali, dan kamu baru noleh di panggilan ketiga.”
Mataku membelalak mendengarnya. Sepertinya ingatan-ingatan tentang Altair masih terasa begitu jelas sampai aku merasa masih tertinggal disana.
“Iya, aman kok, Bim.” Aku memberinya senyum, berharap hal itu bisa menepis kekhawatirannya.
Tak lama kemudian, mi kocok yang kami pesan datang. Kali ini aku yang memintanya untuk makan disini meskipun aku tahu Bima tidak terlalu menyukai mi kocok itu. Bukan. Bukan untuk mengingat tentang siapapun. Aku memang menyukai mi kocok karena rasanya memang tidak pernah berubah dan selalu enak. Selain itu, karena aku sudah akrab juga dengan Pak Sabar. Sesuai namanya beliau memang sangat sabar dan ramah dengan pelanggannya. Beberapa kali aku diberi diskon ketika aku datang sendiri.
Bukan restoran besar, hanya warung kecil yang aromanya selalu menenangkan, tapi entah kenapa Pak Sabar sering memperlakukan pelanggan setianya seperti keluarga. Pernah kutanya, kenapa beliau sebaik itu padaku, dan kalian tahu apa jawabannya?
“Bapak nggak lagi punya putri yang bisa Bapak peluk kalau lagi kangen, Mbak. Kebetulan Mbak Aruna mirip sekali sama putri Bapak. Jadi… ya, lumayan bisa ngilangin kangen.”
Begitu katanya. Seketika aku menyesal karena menanyakan hal itu. Ada sesuatu di mata Pak Sabar…sesuatu yang tidak ingin disentuh oleh pertanyaan apa pun. Dari caranya bicara, aku bisa menebak bahwa beliau pernah memiliki seorang putri yang sangat ia sayangi, seseorang yang kini tidak lagi ada di dunia ini.
Aku tidak tahu cerita lengkapnya, dan aku tidak pernah berniat menanyakannya lagi. Rasanya tidak pantas. Ada rasa kehilangan yang terlalu besar di balik senyumnya yang ramah itu.
“Kenapa sih kamu suka banget sama mi kocok,” protes Bima. “Enakan juga mi ayam,” sambungnya. Padahal kulihat isi mangkoknya sudah hampir habis.
Sebenarnya aku menyukai mi kocok karena Altair sering mengajakku kesini. Tapi, tidak mungkin aku menjawabnya dengan itu, kan?
“Selera orang beda-beda, kan. Lagian kalo dibandingin sama mi ayam, aku lebih suka bakso. Kalo dibandingin sama bakso, aku lebih suka mi kocok.”
“Kalo aku seleramu bukan, Un?”
Sudah kuperingatkan berkali-kali jangan memanggilku Un karena terasa sangat asing di telingaku. Tapi dia bebal sekali tidak mendengarnya. Perasaan hanya dia yang memanggilku Una.
“Indomie dong kalo seleraku,” jawabku bercanda.
“Bercanda mulu, kapan seriusnya.”
Aku menunjuk mangkok di depannya. “Tuh habis, kan nyatanya. Se kuah-kuahnya malah,” balasku berusaha mengalihkan topik obrolan tadi.
Bima tersenyum. “Enak ternyata, Un.”
“Terus kalo enak kenapa nggak suka?”
“Sebenernya suka sih..kalau makannya sama kamu. Ternyata kalo kita makan enak itu bukan karena makanannya, ya.”
“Karena apa dong?” sahutku sambil menaruh sendok dan garpu yang sudah selesai kugunakan itu.
“Karena orangnya. Dengan siapa kita makan makanan itu.”
****