Jam menunjukkan pukul dua siang. Artinya sebentar lagi rapat redaksi akan segera dimulai. Ah, iya, aku bekerja sebagai jurnalistik di perusahaan Suara Realita. Sebenarnya menjadi jurnalis bukan mimpiku. Tapi, dari sanalah aku bisa hidup. Waktu kecil cita-citaku menjadi dokter. Aku menebak hampir semua anak kecil pernah menginginkan pekerjaan itu. Lalu menginjak Sekolah Dasar cita-citaku berubah, dan sampai sekarang, pun aku masih tidak mengetahui apa impian ku sebenarnya. Sepertinya menjadi wanita karir kaya raya yang bisa membeli semua barang tanpa melihat harga adalah keinginanku saat ini.
“Jangan lupa list narasumber yang akan kita wawancarai, Na.”
Itu suara Mbak Rena. Sudah hampir tujuh tahun beliau bekerja disini. Umurnya sudah menginjak kepala tiga. Nadanya memang selalu datar, tapi Mbak Rena adalah orang yang menyenangkan dan selalu menenangkan.
“Iya, Mbak,” balasku.
Aku menutup laptop, membawanya beserta pulpen dan buku catatanku. Ruang rapat terlihat hampir penuh. Kursi-kursinya sudah terisi, dan beberapa lagi masih kosong. Aku duduk di sebelah Mbak Rena, dan di depanku ada Bima. Pria itu sudah datang lebih dulu. Tiga menit kemudian pimpinan redaksi memulai rapat. Rapat kali ini santai, karena tidak terlalu mendesak. Hanya evaluasi, dan membahas feature yang akan ditayangkan minggu depan.
“Sebelum mulai, kita update progres masing-masing tim dulu,” ucap Pak Wiryo. Beliau merupakan pimpian redaksi disini.
“List narasumber sudah kami tentukan, Pak,” balas Mbak Rena. Matanya tertuju kearahku seakan berkata tunjukkan catatan narasumbernya.
Aku bergegas membuka file yang diminta Mbak Rena. Mulutku membacakan beberapa nama yang tertera disana. “Baru itu Pak yang kami temukan.”
“Saya menyarankan untuk mengambil dari tiga narasumber saja, kebetulan tema kita tentang manusia, jadi, ambil yang paling dekat dengan masalah,” balas Pak Wiryo.
Aku, dan Mbak Rena mengangguk menyetujui ucapan Pak Wiryo. Beliau pun terlihat puas mendengar jawaban dari kami. “Oke, bagaimana dengan tim yang lain?”
Beberapa dari mereka mulai memaparkan. Ada yang sudah hampir selesai, ada pula yang masih mencari data. Rapat pun berjalan dengan baik. Suasananya juga masih terasa santai, namun tetap fokus. Aku melirik sekilas kearah Bima. Tangan kirinya menopang dagu, sedangkan tangan kanannya sibuk memainkan sebuah pulpen berwaarna lilac.
Astaga bukankah itu miliku? Bukan. Bukan Bima. Maksutnya pulpen yang sedang ia mainkan.
Bima menatapku tanpa rasa bersalah. “Ini?” Ia mengangkat benda itu, dan menunjukkannya padaku.
“Awas, ya!” kataku pelan.
Ia hanya mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum tipis kepadaku.
“Oke, kita akhiri rapat siang ini. Jangan lupa kerjakan sesuai deadline dan jangan ditunda,” titah Pak Wiryo.
Aku menutup buku catatan dan laptop sambil membersihkan sisa bungkus permen yang sengaja kutaruh disana. Tidak ada larangan khusus dari Pak Wiryo perihal ini. Kecuali kalau rapatnya memang benar-benar penting. Kalau hanya seperti tadi, kami bahkan diperbolehkan untuk membawa makanan ringan.
“Terima kasih bawang merah,” ucap Bima. Ia menyodorkan pulpen miliku.
“Sejak kapan namaku ganti?”
“Sejak ada orang yang cuma minjem pulpen aja di pelototin. Kan jahat, kayak bawang merah.”
Aku mengerucutkan bibir kesal. “Kamu ga pinjam, tapi nyolong,” tegasku.
“Cuma pulpen, Una…pulpen.”
“Iyadeh, dasar pangeran kodok.”
Kami berjalan keluar dari ruang rapat. Sesekali terdengar suara laptop dan dering telepon di sepanjang koridor. “Kita mulai wawancara besok?” tanya Bima. Ia mengambil alih laptop dan buku dari tanganku.
“Iya.”