Aku dan Bima sepakat mengunjungi toko buku kesayanganku. Namanya Simpang Kata, sesuai dengan letaknya di yang berada di persimpangan jalan. Tempatnya tak begitu ramai, bahkan bisa dibilang hanya ada beberapa orang yang tahu. Tapi, tak bisa juga disebut sepi, hanya saja tak terlalu padat pengunjungnya.
Setelah selesai bekerja, pada pukul lima sore kami bergegas kesana. Aku setuju untuk duduk di jok belakang vespa putih milik Bima. Motorku sengaja kutinggalkan di parkiran kantor. Hal itu karena satu jam sebelum waktu pulang Bima mengunjungi meja kerjaku.
“Nanti pakai motorku aja, ya,” ucap Bima.
“Kenapa? Aku juga bawa motor.”
“Biar gampang. Nanti diambil pas pulang.” Bima menjelaskan. “Sekalian muter-muter Bandung gimana?” ajaknya.
Mataku berbinar. “Mauuuuuu.”
Lonceng berbunyi ketika kami membuka pintu. Aroma tumpukan buku yang diadu dengan harumnya kopi begitu semerbak. Para pecinta buku pasti tahu betapa nikmatnya aroma kertas itu. Simpang Kata memang tak pernah berubah sejak dulu. Tatanan bukunya tersusun begitu rapi. Rak buku berwarna cokelat tua yang menjulang tinggi sampai ke atap menjadi ciri khasnya. Tempat favoritku adalah meja tengah yang langsung menghadap ke jendela. Pemandangan dan suara air sungai yang berada di depannya begitu menenangkan.
“Selamat datang, Kak Aruna.”
Itu suara Kak Bay. Pemilik toko buku sekaligus barista disini. Dia tahu namaku karena dalam seminggu, aku bisa empat kali berkunjung kesini.
“Sore, Kak.” Aku tersenyum ke arahnya. Sepertinya sudah hampir satu setengah tahun kami saling mengenal. Hanya sekadar nama saja, hubungan kami juga tak lebih dari seorang pemilik toko buku dan customer. Kala itu, aku sedang mencari buku. Kebetulan posisinya berada jauh dari jangkauanku. Kalian, kan tahu sendiri tinggi badanku hanya 150 cm an saja. Sedangkan posisi buku itu sulit kujangkau dengan tubuh semungil ini. Mau berusaha sekeras apapun juga sangat susah. Kak Bay yang melihatku kesusahan akhirnya mendatangiku.
“Buku yang mana, Kak?” sahutnya.
Mau tak mau aku harus merepotkan pria itu. “Yang judulnya Hujan.”
Kak Bay menyodorkan buku itu kepadaku. “Lain kali kalau kesusahan langsung minta tolong saja, Kak,” jelasnya. “Kakak pelanggan setia toko kami, kan?” sambungnya.
“Makasih, ya, Kak.” Aku tersenyum. “Iya, aku sering kesini,” sambungku.
“Bay.”
“Maksutnya?” Aku mengangkat alis tak mengerti.
Pria dengan kacamata di wajahnya itu mengulurkan tangan kanannya. “Namaku, Bay.”
Aku terkekeh pelan. “Aruna.”
“Kak Aruna lain kali kalau ada apa-apa boleh langsung bilang ke saya,” ucap Kak Bay ramah.
Begitulah awal mula kami mengenal satu sama lain. Kini, setelah hampir satu setengah tahun berlalu, semuanya tetap biasa saja. Tidak ada obrolan panjang, tidak ada kedekatan yang berlebihan. Hanya sapa singkat, senyum tipis, dan transaksi yang selalu rapi.
“Caffe latte satu?” sahut Kak Bay. “Seperti biasa?” sambungnya tanpa menoleh kearahku. Pria berkacamata itu sibuk dengan mesin kopi di depannya.
“Tambah americano, less ice,” sahut Bima.
“Caffe latte satu, dan americano less ice, ya. Ada tambahan lain, Kak?”
“Cukup, Kak Bay,” balasku.
“Duduk di biasanya, Kak?” tanya Kak Bay yang langsung kubalas dengan anggukan kepala.