Aku berdiri cukup lama dibalik pintu cokelat tua yang sebagian warnanya sudah sedikit mengelupas itu. Kutatap layar ponselku berkali-kali. Hanya pesan singkat dengan nomor yang sangat asing. Sayangnya, itu terlalu berlebihan untuk sebuah salam. Menurutku bukan hanya sekadar sapaan biasa.
Aku tidak mengenali pengirimnya. Namun aster putih ini…aku mengenalnya dengan sangat baik.
Kelopaknya masih tampak segar. Ada beberapa tetesan air yang menempel disana. Terlihat seperti embun. Aku bertanya-tanya, apa pengirimnya kebetulan memberiku aster putih, atau ia memang sangat mengenali bunga ini seperti ia mengenaliku…entahlah.
Aku jadi teringat kali pertama Altair memberiku aster putih. “Kamu suka bunga, Na?” tanyanya beberapa tahun lalu ketika kami sedang mengelilingi Bandung.
“Emangnya ada perempuan yang nggak suka bunga?” balasku jujur.
Al terkekeh pelan. “Jadi, kamu suka bunga?”
“Aneh kalau aku nggak suka, Al.” Aku menatapnya. “Apalagi kalau yang ngasih orang yang kita sayang. Rasanya kayak disayangin banget,” sambungku.
Al menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah toko lama yang aroma wanginya sudah semerbak dari luar. Iya. Itu toko bunga. Aku ingat betul nama tokonya Rumpun Sekar. Bagian depan toko dipenuhi dengan kaca. Setiap orang yang lewat pasti akan menyadari bahwa itu adalah toko bunga.
“Mau beliin aku bunga?” tanyaku.
Al mengangguk. Ia menggandeng tanganku dan memasuki toko. Begitulah Altair. Ia selalu punya seribu satu cara untuk membuatku tersenyum. Meskipun itu dengan hal-hal kecil sekalipun. Meski kadang harus diberi tahu caranya terlebih dahulu. Meski kadang ia juga menyebalkan, tapi aku menyukai caranya yang sederhana. Aku menyukai hal-hal kecil yang ia lakukan. Seperti barusan, ia sengaja menanyaiku untuk memastikan apa yang aku sukai…dan ia langsung membuktikannya.
“Selamat datang, Kak.” Suara hangat itu berasal dari wanita paruh baya yang muncul dari balik meja. Tatapannya sangat ramah pada kami. “Mau cari bunga apa?”