Aruna & Musim Terakhirnya

MANDA TIARA SANI
Chapter #8

MERASA BERSALAH

Hari ini aku berangkat ke kantor menaiki bus kota. Motorku masih berada di bengkel, jadi aku harus mengalah menggunakan kendaraan umum. Katanya, sih harus diganti ban, oli, dan lampu sein belakang karena ada yang mati. Aku mengiyakan saja apa kata mekanik yang ada disana, lagian aku juga perempuan, tak terlalu paham perihal seperti ini.

Sekarang pukul tujuh lewat lima belas menit. Aku seharusnya sudah berada di kantor pukul setengah delapan. Entah bisa tiba tepat waktu atau tidak, mengingat masih ada dua halte lagi yang harus dilewati. Bus yang kunaiki pagi ini sangat penuh. Jadi, aku berdiri sambil berdesakan dengan orang-orang yang tampak sama lelahnya denganku. Bau keringat yang bercampur dengan bau parfum. Bau asap rokok yang berasal dari kenek bus, suara anak kecil yang menangis, dan beberapa orang yang tertidur. Semuanya menjadi satu disana.

Di tengah keramaian itu, aku memejamkan mata. Bukan untuk tidur, hanya mencoba meredam kebisingan yang memenuhi kepala. Namun, usahaku sia-sia. Pikiranku justru melayang pada kejadian semalam. Pada percakapan yang terjadi antara aku dan Bima.

“Kalian lagi asik ngobrolin apa nih?” tanya Bima.

“Ngobrolin hal yang harusnya udah ga dibahas, Bim,” timpal Naya. Ia menjawab sambil memelototiku. Tentu saja tatapan tajam itu sudah tidak perlu diterjemahkan lagi, kan…

“Apa tuh?”

“Nggak ada, cuma lagi bahas kerjaan masing-masing aja,” jawabku dengan cepat. Aku memang pengecut yang menghindari percakapan jika itu membuatku tak nyaman.

Bima mencubit lenganku pelan. Lebih tepatnya itu cubitan gemas. “Masa sih?”

“Masa lalu, Bim,” jawab Naya dengan santainya. Aku lantas balik menatapnya dengan tajam. Sialan Naya!

Bima membentuk mulutnya seperti huruf o seakan akan mengerti apa yang Naya maksud. “Mantanmu yang brengsek itu?” ejeknya. “Masih mikirin dia juga?”

“Enggak lah!”

“Terus?” tanyanya lagi.

“Aku nggak pernah mikirin dia lagi, Bim.”

“Terus?”

Aku berdecak. “Terus terus mulu pertanyaanmu!”

“Emang kalo aku tanya mau jadi pacarku kamu bisa jawab?”

“Enggak!” Suara itu mengagetkanku hingga membuatku membuka mata sepenuhnya. Seorang ibu yang duduk tepat di depanku sedang memarahi anaknya dengan nada tinggi. Anak itu merengek, tangannya berusaha meraih ponsel yang digenggam sang ibu, sementara si ibu menepisnya dengan kesal.

Lihat selengkapnya