Aruna & Musim Terakhirnya

MANDA TIARA SANI
Chapter #9

KOTAK MISTERIUS

Sudah hampir sepuluh menit kami berada di Simpang Kata. Aku sudah mulai berbaikan dengan Bima. Ah tidak. Bukan berbaikan maksutku. Kalau berbaikan, kan berarti ada yang marah, sedangkan kami sedang tidak ber-marahan. Hanya saja perasaan aneh muncul begitu saja dan membuat suasananya menjadi canggung.

Sekarang pukul lima sore dan aku sudah duduk santai dengan caffe latte buatan Kak Bay. Menyenangkan sekali rasanya bisa me-recharge energy setelah seharian bekerja untuk mengejar deadline. Apalagi sore-sore begini dengan kopi dan Bima yang ada di sebelahku.

Aku memperhatikan Kak Bay. Pria berkacamata dengan tinggi sekitar 174 cm itu sedang sibuk dengan kopi di tangannya. Beruntung sekali hidupnya, ya. Hanya membuat kopi, menyenangkan pelanggan, dan menikmati buku. Berbanding terbalik sekali denganku. Hari-hariku sangat membosankan karena kerjaan yang menumpuk, dan…Bima. Mungkin.

Mataku beralih ke arah Bima. Pria ini bukannya membosankan, hanya saja setiap hari aku melihat wajahnya berada di sampingku. Pemandangan yang sama setiap harinya. Tanganku mulai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Ngapain, Unaaaa,” ucapnya dengan wajah yang sedikit memerah.

Indah sekali rasanya. Pemandangan langit sore yang sudah mulai berubah warna disandingkan dengan wajah tampan dan mata cokelat milik Bima.

Sejenak aku berpikir, mungkin pemandangan seperti ini tidak seharusnya terasa membosankan. Ini justru sangat menyenangkan.

“Tuh ada kotoran cicak!”

Bima mengambil cermin yang tergeletak di depanku. “Mana? Sebelah mana?”

Aku perlahan tertawa. “Nggak ada, sih.”

Bima menoyor kepalaku. “Masa orang ganteng sejagad raya gini di tempelin tai cicak!” Ia mendecak, lalu bergaya seolah menjadi artis paling tampan.

Aku memasang muka kecut. Ekspresiku seperti orang keracunan makanan. Tapi ini bukan makanan sungguhan, melainkan keracunan omongan Bima.

“Dih!” Aku mengerutkan dahi. “Benerin dulu noh rambut kamu yang berantakan.”

Bima justru melakukan hal yang sangat berbanding terbalik dengan ucapanku. Ia malah membuat rambutnya semakin acak-acakan.

“Biar dibenerin lagi sama princess Una…” katanya sambil terkekeh.

Tingkahnya benar-benar seperti anak berumur delapan tahun. Aku mendegus, tapi tanganku tetap merapikan rambutnya.

Bima selalu berhasil membuat hal-hal yang seharusnya terasa biasa menjadi tidak biasa. Ia seperti mampu memainkan irama denyut jantungku sesuka hati. Ia juga bisa mengubah bibir yang tadinya mengerucut kesal menjadi senyuman tanpa sadar.

Aneh, kan?

Iya. Aneh.

“Aneh kamu, Bim!”

“Loh?” Bima mengerutkan dahi.

“Iya. Kamu aneh.”

Lihat selengkapnya