Sudah dua hari aku tidak pergi ke kantor sejak menerima kotak hijau dari Kak Bay. Benda kubus itu masih tergeletak rapi dan belum aku buka sama sekali. Dampaknya bagi tubuhku ternyata sangat luar biasa. Padahal bukan apa-apa, tapi aku sampai sakit begini. Kalau kata Ibu mungkin aku kelelahan. Tapi, menurutku ini bukan sekadar lelah, ini karena aku takut. Takut pada banyak kemungkinan yang belum pasti adanya.
Takut pada satu nama yang sejak kemarin terus berputar di kepalaku.
Iya. Pria itu. Ia yang beberapa waktu lalu pernah kuceritakan.
Altair.
Kenapa harus kembali lagi? Kenapa baru sekarang? Setelah sekian lama kenapa datang lagi? Setelah hari-hari baik yang kulewatkan begitu saja karena berusaha untuk melupakannya, dan setelah semua sakit yang tidak bisa kulupakan, kenapa ia sampai tidak malu begini, sih?
“Emang lo yakin itu dari Al?”
Aku menatap mata Naya. Sejak kemarin ia menginap di rumahku, mencoba memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa padaku. Ia berada di sini karena setelah aku menerima kotak itu, aku langsung menelepon Naya.
“Nay…” kataku di telepon kala itu.
“Ada masalah, ya?” tanya Naya. Ia selalu tahu persis bagaimana keadaanku tanpa kuberi tahu.
“Gue belum ngomong apa-apa,” keluhku.
“Dengan lo teleponin gue di jam satu malem gini, gue bisa langsung tahu kalau lo lagi nggak baik-baik aja, Aruna.”
Air mataku mulai mengalir. Jika diingat-ingat kejadiannya memang seperti itu. Dadaku terasa sesak. Tenggorokanku tercekat. Lalu, tak sampai beberapa detik kemudian, tangisku pecah.
Ah, tidak.