ARUNIKA

Asih Ati
Chapter #1

Arunika

Cerita ini bukan hanya f iktif belaka Sepenggal kisahnya terkontaminasi perjalanan hidup sang penulis, sisanya adalah harapan.

Selamat berpetualang. . 

Jingga 17:20

Di sudut cakrawala, senja yang menyenangkan perlahan meredup menutup dirinya dalam gelap. Semilir angin kian kuat menjatuhkan dedaunan dari dahannya. Bau tanah yang basah berbaur dengan wewangian bunga yang bertaburan, menggunung mengubur ruang sempit, gelap kian menyapa. Seorang pria terduduk menyentuh lembut batu nisan di hadapannya, sorot matanya sendu sebuah nama tertulis di sana. Setengah jiwanya ikut mati terkubur bersama jasad yang kini menyatu dengan bumi. Sayang, dia adalah laki-laki kehilangan sekalipun tidak boleh menjadi alasannya untuk melemah. Dunia akan terus berputar dan hidup akan terus berjalan. Ia tak ingin menyalahkan takdir tapi, tidak ada yang baik-baik saja setelah kehilangan.

Jingga 05 : 20

Malam hampir berlalu, ribuan detik setelah hari itu matahari kembali menarik diri dari tempat persembunyiannya, warna jingga memoar disudut semesta membuka semua mata dari lelapnya mimpi. Suara khas dari roda kereta yang bergesekan dengan rel nya menuai jarak yang meninggalkan asa, Seorang wanita terdiam menatap dunia di balik jendela kereta yang meliuk-liuk. Ia melihat luasnya dunia, tapi hatinya terasa sempit. Sesak dalam dadanya tak jua mereda rindu itu kembali menyeruak, rasa sesal masih merajai relung hatinya, tapi ia ingin menghadapi apapun bahkan meski harus melawan diri, ia tak pernah tau apa yang akan dihadapi. Saat takdir terus memaksanya menjadi dewasa, Hidup akan selalu meminta pilihan, dan kali ini ia memilih untuk menghadapi rasa takutnya.

- Seberkas cahaya fajar -

Pipiku terasa hangat kala tersentuh cahaya matahari yang sempurna menembus pertahanan bumi, aku berjalan menyusuri jalan setapak yang baru pertama kali kulihat, Semburat fajar masih tergurat di batas khatulistiwa, disudut mata hutan rimba menyapa menyisakan misteri kehidupan belantara. Suasana tak hening kicauan burung terdengar riuh menyambut, beberapa hewan lainnya ikut bersuara membentuk symphoni yang menyelaraskan semesta.

“Mau ke mana, Neng?” Aku terhentak, suara lelaki menyapaku dari belakang. Aku memberanikan diri untuk menoleh, kudapati seorang lelaki paruh baya dengan gurat kehidupan diwajahnya tersenyum ramah.

“Mau ke sana, Pak.” Jariku menunjuk tanpa kepastian.

“Neng sendiri ke sini?” tanyanya kembali.

Lihat selengkapnya