LANGIT, UDARA DAN ANGKASA
“Tidak ada ketakutan yang tidak terselasaikan.
Pilihannya hanya dua, berani menghadapinya atau menyerah."
Kami melangkah satu persatu dalam barisan, sebelum memulai pendakian kami harus terlebih dulu mengurus surat perizinan khususnya aku yang masih pemula, sebetulnya aku malah tidak mempersiapkan pendakian ini dengan matang ini bisa dilihat dari tas yang kubawa yang hanya membawa perlatan seadanya. Lalu setelah semua persiapan dan perizinan didapat, kami memulai pendakian tepat pada pukul 9 pagi dengan jumlah pendaki 8 orang, 4 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.
“Sena kamu udah pernah mendaki ke mana aja?” tanya Siska memecah keheningan.
“Kalau yang beneran gunung baru ini aja,” jawabku.
“Serius baru gunung ini aja?” tanya Fany tertarik pada pembicaraan.
“Iyah, biasanya paling cuma ke bukit-bukit aja. Ini kali pertama aku yang benar-benar mendaki gunung,” ucapku.
“Gila terus kok kamu nekad ke sini sendiri kalau gak ada kita gimana bahaya tau, jangan bilang ke bukit-bukit juga kamu sendiri?” Rani kini yang bertanya.
“Iyah kadang-kadang sendiri hehe, kalau gak ada kalian kayanya aku pulang deh tadi juga aku sempet mau balik lagi tapi tiba-tiba Allah kirimkan kalian jadilah aku di sini,” ucapku tersenyum.
“Kok bisa sih ke pikiran mendaki sendiri?” ucap Siska.