Matahari mulai menjorok ke ufuk barat, panasnya yang membakar mulai bersahabat. Kami sudah mendaki hampir 7 jam perjalanan, lelah jelas sudah menghujam tubuh kami, tak terhitung berapa banyak keringat yang membasahi tubuh, tapi memang inilah esensi mendaki untuk mencapai sebuah tujuan tidak ada yang dicapai dengan instan, karena hidup akan selalu minta diperjuangkan. Jimmy yang kini berada dibarisan paling depan terlihat menjantuhkan tas besarnya ia pun lalu merebahkan tubuhnya di sana disusul Rama dan yang lainnya termasuk Rani, Fany, Siska dan tentu aku yang sudah sangat merasa lelah. Kala itu kami berada di dasar lembah, tak terlalu banyak pepohonan di sini sehingga kami cukup mendapat tempat yang leluasa, puncak gunung sebenarnya sudah tidak jauh lagi, menurut yang lainnya hanya beberapa kilometer dari tempat kami beristirahat.
“Kita bangun tenda di sini,” ujar Farhan lalu bergegas membuka peralatan, anehnya Farhan justru terlihat tidak kelelah an seperti yang lainnya kini ia justru mulai sibuk memasang tenda. Semua tenda telah selesai dipasang kamipun bergantian melaksanakan sholat asar selepas itu kami membagi tugas, para lelaki bertugas untuk mencari kayu bakar dan tambahan sumber air, sedangkan perempuan menyiapkan makanan seadanya. 30 menit berlalu kami sudah berkumpul kembali bersama-sama menyantap makanan mengisi bahan bakar tubuh kami yang sudah terkuras, kami sejenak bersantai sembari menanti waktu sholat kembali datang, adzan magrib yang entah akan terdengar atau tidak di atas sini, laki-laki mulai menyiapkan api unggun dan beberapa penerangan. Sedangkan aku berbaur mengobrol ke sana kemari dengan Rani, Siska dan Fany. Semilir angin berhembus menggoyangkan dedaunan, dingin perlahan menelisik tubuh, aku tertegun melihat pemandangan di hadapanku, senja menyemburat di kaki langit menawan hati siapa saja yang menatapnya.
Jingga 17 : 20
Matahari mulai tumbang di kaki langit menyisakan cahaya jingga di sudut khatulistiwa. Untuk kesekian kalinya saya berada di atas ketinggian, memperhatikan cahaya mentari perlahan membakar langit hingga kemerahan, sayangnya di dunia ini tidak ada yang benar-benar abadi, tak lama cahaya yang menyenangkan itu pun perlahan meredup, tenggelam di balik gelapnya malam, Sungguh, bahkan bumi pun pernah merasakan kehilangan.
“Aa!!” Suara saya mengeram lirih, merasakan nyeri di ujung jari tangan seperti terhantup benda keras.
“Ma, maaf.” Seorang wanita menatap saya terkejut, reflek dia menarik kaki yang tak sengaja menginjak tangan saya, kala itu saya tengah terduduk di belakang tenda.
“Sepertinya kamu memang hobi menginjak sesuatu,” ucap saya berdiri seraya mengibaskan jari tangan.
“Iya maaf, aku gak tau kalau ada orang di sini. Lagian kamu ngapain di sini,” sejenak bola matanya melirik pada segerombolan orang di sudut lain,
“menyendiri?” lanjut sena, terdengar seperti sebuah sindiran. Yah, Sena wanita asing yang entah bagaimana takdir membawanya ikut dalam perjalanan saya bersama teman teman.
“Ada kalanya seseorang butuh waktu untuk sendiri,” balas saya, sena terlihat menghela napas.
“Ya udah maaf, udah tiga kali minta maaf nih,” ucap Sena sedikit menyunggingkan senyum dibibirnya ia lalu bergegas pergi. “Mau ke mana? Jangan memisahkan diri!”
“Iyah tau, gak akan jauh-jauh kok,” ucap Sena tanpa menoleh, ia terus berjalan
Tak jauh dari tempat saya berdiri Sena menghentikan langkahnya, ternyata ia datang untuk melihat senja ia terlihat mengabadikannya melalui kamera handphone, Sena masih memandanginya sembari sesekali ia terlihat menarik napas dalam dan menghembuskannya seolah ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Sekilas Sena tak ada bedanya dengan wanita lain dia biasa saja namun dia menutup dirinya dengan sempurna, saya sedikit respect ketika dia tetap menjaga jarak dengan teman-teman laki laki saya, dia berusaha memberi batasan. Dari yang saya lihat selama pendakian Sena, adalah sosok perempuan petualang.