ARUNIKA

Asih Ati
Chapter #4

Arunika

“Kenangan adalah anugerah dari Tuhan agar sesuatu yang hilang tetap terasa ada.”

Lama bener di tenda, pada ngapain aja kalian?” sahut Jimmy kala Rani, Fanny, Siska juga Sena datang.

“Kepo,” jawab Fanny. Mereka pun lalu terduduk di hadapan kami.

Kami duduk mengelilingi api unggun. Malam itu meski dingin menyeruak ke seluruh tubuh kami namun semesta seolah menghangatkan kami dengan caranya sendiri. Langit begitu cerah dengan ribuan bintang yang nampak kecil di mata kami, alam selalu indah meski gelap menyamarkan cahayanya.

“Eh Sen, kamu ke sini diajak siapa?” tanya Dani. Seketika membuat Sena menjadi pusat perhatian. Sejenak sayapun melirik Sena lalu mengalihkan pandangan saya kembali fokus pada kamera saya.

“Sena ke sini sendiri.” Rani yang menjawab.

“Oh ya? Gua kira bareng kalian,” kata Rama.

“Iyah ketemu di bawah tadi, tapi Sena hebat lo berani ke sini sendiri,” ucap Siska.

“Serius emang lo dari mana si?” Giliran Jimmy yang bertanya, Sena pun menyebut nama daerah tempat tinggalnya sebuah daerah di ujung Jawa Barat yang jaraknya cukup jauh dari gunung ini. Saya sejenak menghentikan aktivitas saya tertarik perbincangan mereka tentang Sena.

“Aku gak seberani itu kok, tadi aku juga sempet mau balik lagi tapi tiba-tiba ada kalian jadilah aku di sini hehe. kalau kalian sering ya naik gunung bareng gini?” ucap Sena yang kini bertanya.

“Yang sering mah mereka, kita jarang kalau ada waktu senggang aja kaya gini,” jawab Siska.

“Tapi serius deh apa sih motivasi lo ke sini sendiri?” Jimmy bertanya, Sena sejenak terdiam.

“Aku pengan menantang diriku sendiri sih, menghadapi rasa takutku” Sena tersenyum kaku.

“Kebayang gak Sen malem ini kamu sendiri, gimana coba?” Rani bertanya.

“Gak kebayang si, tapi aku yakin satu hal Allah gak akan membiarkan aku sendiri,” ucap Sena kembali tersenyum. “Eh tapi ada lo orang yang sama kaya kamu, suka bepergian sendiri,” ucap Siska.

Lihat selengkapnya