ARUNIKA

Asih Ati
Chapter #5

Terbit

“Iyah dong kita berburu sunrise,” seru Jimmy, membuat kami bersemangat, setelah siap-siap tak lama kamipun bergerak kembali mendaki menuju puncak gunung ini. Perjalanan tak terlalu jauh kami hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, tenaga kami pun sudah cukup terisi walau hanya tidur sebentar, cukup memberi kami energi mendaki menuju puncak, melakukan perjalanan saat gelap ternyata lebih menyenangkan walau kami harus lebih ekstra waspada karena bisa saja ada hewan buas di dekat kami yang tak terlihat, walau tak terlalu rimbun dalam perjalanan kami harus melewati hutan hutan kecil dan rerumputan yang tumbuh subur, dingin malam masih enggan pergi, angin masih bertiup kencang menggerakan dedaunan, 15 menit berlalu, Farhan yang berada dibarisan paling depan seketika menghentikan langkahnya, ia memberi tanda bahwa kami sudah sampai.

“Masyaallah, Tabarakallah.” Aku menelan ludah menatap takjub, lirihku memuji Maha karya Sang Pencipta, Pagi itu untuk pertama kalinya aku berhasil berada di puncak gunung paling tinggi yang pernah kudaki, terlebih aku berhasil mengalahkan ketakutanku sendiri. Di kaki langit hamparan awan yang putih menggulung bagaikan kapas, bulan masih menggantung tapi cahayanya perlahan temaram, Semburat cahaya jingga muncul di bawah khatulistiwa perlahan membias berbaur dengan cakrawala diiringi kicauan burung dan merdu suara ayam di pagi hari yang membentuk harmoni, fajar terbentuk indah. Rani, Fanny, dan Siska kompak mengeluarkan smartphone dari saku mereka, lalu sibuk mengabadikan keindahan alam kala itu sesekali mereka berswafoto akupun demikian bedanya aku hanya mengambil foto secukupnya aku tak mau terlalu sibuk berfoto hingga lupa menikmati apa yang harus dinikmati, tujuanku ke sini bukan untuk itu. Di sudut lain aku melihat para lelaki melakukan hal yang sama namun mereka lebih terlihat santai Rama dan Jimmy bahkan terlihat tengah menyeduh kopi lalu menikmatinya aroma dan rasanya.

***

Melakukan perjalanan pada hakikatnya adalah proses berpikir yang mendalam, mentafakuri diri dan pemilik-Nya. Takdir akhirnya membawaku sampai pada titik ini, rasanya melegakan sungguh melegakan, Maha besar Allah atas segala ciptaaanNya berada di atas gunung membuatku sadar betapa kecilnya manusia di hadapan semesta.

“Dan Kami telah menjadikan bumi ini gunung-gunung yang kukuh agar dia (tidak) guncang bersama mereka, Kami jadikan pula di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk” (Al-Anbiya: 3.1) Menyenangkan berada di atas sini, ini bahkan lebih dari yang kubayangkan, warna semesta berbaur sempurna putih, hijau, biru, jingga bagaikan tergambar di atas kanvas namun terasa nyata.

Tapi bahkan keindahan ini pun tidak abadi, aku menghela napas sejenak, wajah malam berganti siang, begitupun siang akan kembali dijemput sang malam. Waktu terus berlalu semakin membawa kita pergi jauh dari masalalu, Takdir akan terus berjalan menggoreskan kisahnya tidak peduli itu hal yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan. Sungguh kehidupan itu fana, tapi manusia seringkali lupa.

“Gak ikut gabung?” ucap seseorang memecah riuh di kepalaku. Aku menoleh dan mendapati Farhan berada tak jauh dari tempatku berdiri.

“Ada kalanya seseorang butuh waktu untuk sendirikan?” ucapku mengutip kata-kata Farhan, sekilas aku melihat laki-laki itu tersenyum. Aku berusaha mengalihkan pandangan, walau sebenarnya tau Farhan masih berdiri di sampingku untuk beberapa saat, tak lama kemudian Farhan terlihat berjalan kearah depan cukup memberi jarak di antara kami kala itu, namun entah bagaimana mataku justru tertarik untuk melihatnya. Kala itu Farhan terlihat sibuk mengarahkan kamera di tangannya pada hamparan awan dan matahari yang hampir sempurna terbit.

“Kenapa kamu gak suka senja?” tanyaku, Farhan sejenak menghentikan aktivitasnya.

“Saya gak bilang saya gak suka senja.” Aku menatapnya masygul ingin mendebatnya tapi aku mengurungkan niatku, laki laki itu tetap menyebalkan seperti sebelumnya. Farhan tersenyum menatapku ia lalu kembali sibuk memotret pemandangan di hadapannya.

“Tapi saya lebih suka Arunika.”

“Arunika?”

Lihat selengkapnya