Langit tak lagi gelap bak lautan di atas bumi, warna biru kini menyebar di angkasa sayangnya bintang dan bulan pun perlahan menghilang tergantikan oleh cahaya yang menerangi seluruh jagat Raya, jingga masih membias di sudut semesta menarik hati siapa saja yang memandangnya. Harapan adalah hal yang selalu ada membersamai datangnya pagi, itu yang saya temukan kala saya menjelajahi semesta, kesedihan dan rasa kecewa perlahan hilang seiring berjalannya waktu, saya tak ingin terus terpuruk akan masa lalu yang tak bisa saya ubah saya akan terus berjalan dan kini saya menemukan kembali tujuan hidup yang sempat terkubur.
Di sudut semesta lanskap seorang wanita menatap sang fajar tak sengaja tertangkap lensa kamera saya, sinar matahari membungkus tubuhnya membentuk siluet, angin memainkan ujung kerudungnya sejenak saya menatapnya ia kini tengah tersenyum wanita itu tak hanya mengerti caranya menikmati semesta ia lebih dari memahami apa arti kehidupan. “Han foto in kita dong,” seru Siska mengalihkan perhatian saya.
“Boleh” Siska, Rani, dan Fanny lalu mendekat. “Sen, sini gabung kita foto.” ajak Rani, Sena menoleh sejenak matanya terarah pada saya.
“Oke,” ucap Sena lalu berlari kecil ke arah kami.
“Siap, Cheeseee!!!!!,” seru Siska, seketika potret senyuman mereka tersimpan dalam memori kamera saya.
“Woyy, curang tuh gak ngajak,” seru Jimmy ia datang mendekat, disusul Dani dan Rama.
“Ikutan dong,” ucap Rama.
“Entar burem kalo ada lo pada,” gerutu Fanny.
“Berisik lu,” ucap Jimmy. Mereka lalu berpose dengan berbagai gaya.
“Gak enak ya jadi fotograger gak bisa ikut foto,” ucap Sena menatap saya, saya tersenyum. “Tentu saja bisa,” ucap saya.
“Iyah Han ikut yuk,” ucap Jimmy disusul demo paksaan dari teman-teman saya.
“Sebentar,” jawab saya, lalu menaruh kamera saya pada tiang penyangga yang sebelumnya saya bawa dan mengatur waktunya. Setelah pas saya berbaur dengan Jimmy dan lainnya kali ini saya tidak bisa menolak saat mereka memaksa saya harus ikut dalam foto, kami bercanda dan tertawa menikmati waktu bersama tak menyadari bahwa matahari sudah sempurna terbit.
***
“Aku boleh minta foto-fotonya?” Suara Sena menggema membelah hutan yang hening saat kami turun mendaki. Tepat pukul 09.00 pagi kami memutuskan untuk kembali menuruni gunung ini, setelah puas menikmati puncak gunung dan setelah mengisi bahan bakar energi tubuh kami, kamipun lalu bergegas membereskan semua tenda dan sampah-sampah yang kami bawa, kami harus segera turun, mengingat teman teman saya harus kembali pada aktivitas mereka masing-masing di keesokan hari kami hanya menginap satu malam di gunung ini.
“Tentu, ke mana saya harus mengirimnya?” tanya saya.