ARUNIKA

Asih Ati
Chapter #7

Pendar

Kami telah duduk berhadapan di gerbong kereta, kami duduk berpisah saya duduk dengan Dani, Rama, dan Jimmy, sedang Siska dan yang lainnya duduk kursi yang bersebrangan dengan kami, kami akan sampai di stasiun tujuan kami dalam beberapa jam, kala itu warna langit sudah tak secerah sebelumnya, sore itu senja kembali menyapa menghiasi perjalanan kami bumi tengah bersiap menyambut malam. Saya masih sesekali menangkap lanskap alam semesta baik foto maupun video saat suara klakson kereta telah berbunyi, pemandangan alam di balik jendela kereta menjadi hal yang tak pernah saya lewatkan jika bepergian, hal tersebut membuat saya sadar bahwa setiap perjalanan akan selalu menemui akhir, kelak berganti dan kembali menjadi cerita yang dikenang, jika ditarik kesimpulan maka menjadi dewasa adalah tentang memupuk kenangan untuk kita dirindukan di masa yang akan datang.

Suara obrolan penumpang yang semula terdengar riuh perlahan menghilang berganti suara roda kereta yang bergesekan dengan relnya, sepanjang perjalanan teman-teman saya pun lebih banyak tertidur karena kelelahan, kecuali Sena yang masih terjaga ia terlihat menatap dunia jendela kereta seperti saya. Seketika saya lebih tertarik untuk memandanginya dari pada kembali berburu lanskap alam semesta beberapa kali lensa kamera sayapun menangkap sosoknya, entah mengapa melihatnya kini lebih menarik dari melihat dunia.

“Masih sibuk foto?” ucap Sena tiba-tiba menoleh, membuat saya sedikit salah tingkah.

“Ada dunia yang masih sayang untuk dilewatkan,” ucap saya Sena tersenyum.

Ia kembali menatap keluar jendela kereta. Beberapa jam kemudian kami sampai di Stasiun tujuan kami, untungnya kami memiliki pemberhentian yang sama, sayangnya setelah ini tujuan kami berbeda.

“Aku pamit ya, makasih sudah ngizinin aku untuk ikut dalam petualangan kalian,” ucap Sena berpamitan pada Rani, Fanny, dan Siska mereka menyambut tangan Sena untuk bersalaman dan sesekali saling berpelukan.

“Sama-sama Sen, nanti kalau kita mau mendaki lagi kamu harus ikut ya,” ucap Siska,

“Jangan suka sendirian,” ucap Rani dan Fanny ikut mengangguk, Sena tersenyum. “Insya Allah, semoga Allah memberi rizki dan umur yang panjang,” ucap Sena

Lihat selengkapnya